Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Tips Mengatasi Bad Mood

Ohayou gozaimasu, minasan!

Kemarin Miichan bongkar-bongkar buku Miichan yang ada di gudang atas, dan Miichan menemukan setumpuk majalah di dalam plastik. Akhirnya sebagian Miichan bawa ke bawah. Nah, apa hubungannya dengan artikel ini? Ya, Miichan menemukan informasi yang Miichan rasa bermanfaat bagi kita di dalam majalah itu, jadi Miichan akan membagikannya di sini ^^

Informasi yang Miichan dapat adalah "Cara Mengatasi Bad Mood". Dan kemudian Miichan mencari tambahan tipsnya di internet serta mengakumulasikannya dengan cara yang Miichan punya. Langsung saja, simak beberapa tips / cara di bawah ini:
  • Kenali penyebab bad mood dan selesaikan baik-baik
Yang namanya bad mood pasti diawali dengan suatu penyebab, entah itu permasalahan dengan teman, nilai yang turun, atau sebagainya. Coba kita kenali penyebab itu, lalu pikirkan bahwa bad mood ini harus secepatnya diselesaikan. Ingat bahwa bad mood itu kebanyakan berdampak negatif dan tidak ada gunanya.
  • Ceritakan penyebab bad mood kita kepada orang terdekat
Terkadang pula kita tidak dapat menemukan solusi untuk penyebab bad mood kita sendiri. Karenanya, cobalah bercerita kepada orang terdekat. Seperti Ibu, Ayah, Kakak, Kakek, Nenek, ataupula kepada teman terdekat. Siapa tahu mereka dapat memberikan solusi sehingga bad mood kita hilang secepatnya.
  • Curhat di buku harian
Meskipun bercerita kepada orang lain bisa jadi menghilangkan bad mood, tapi ada juga yang malu-malu saat curhat, lho. Contohnya Miichan xD Miichan jarang curhat kepada keluarga ataupun teman. Nah, biasanya Miichan menulis di buku harian Miichan. Meskipun tulisan Miichan berantakan, tapi yang penting bagi Miichan adalah bad moodnya hilang! Curhat di buku harian pun bisa sebebas kita. Misalkan kita sangat kesal sampai mau bilang “WTF!?” atau bahasa kasar lainnya yang rasanya sungkan diucapkan kepada teman (terkadang), apalagi kepada keluarga, sedangkan kalau di buku harian pasti tidak akan ada yang protes. Tapi Miichan tidak mengajarkan kalau bad mood harus mengucapkan kata kasar, ya..
  • Hindari melampiaskan bad mood kepada orang lain
Bad mood sama halnya virus yang bisa menular. Kepada orang yang sudah tahu saja kadang-kadang ada yang ikut-ikutan bad mood mendengar curhatan kita (jika dia memang sedang tidak niat mendengarkan), apalagi yang tidak tahu apa-apa?
  • Hindari berdekatan dengan orang yang tengah bad mood juga
Orang yang tengah bad mood biasanya pikirannya pendek dan sempit. Jadi hindarilah orang yang tengah bad mood, apalagi jika kamu juga bad mood. Dikhawatirkan jika berdekatan, tiba-tiba kita melakukan sesuatu yang tidak dia suka di dekatnya. Nanti bisa menimbulkan masalah berkaitan dengannya. Ribet lagi ‘kan? ==”
  • Lakukan hal yang menyenangkan
Hal yang menyenangkan biasanya akan mengembalikan semangat kita. Seperti melakukan hobi atau keluar rumah untuk berjalan-jalan. Dijamin, deh, bad mood pasti akan lenyap! ^^)/
  • Manfaatkan bad mood sebagai sumber inspirasi
Kita juga berkarya dengan inspirasi perasaan bad mood ini. Miichan juga sering melakukannya. Misalnya sedang sedih karena dikacangin dia (?), biasanya akan Miichan jadikan tema dan melebarkannya untuk dijadikan fiksi. Belum lagi jika hasilnya ternyata bagus karena dari pengalaman sendiri. Kalian bisa memperlihatkannya kepada orang lain, seperti di blog, media sosial, atau malah media cetak. Siapa tahu karya yang “terinspirasi dari bad mood” malah disukai? Asyik, ‘kan?
  • Tersenyum
Dan yang terakhir ini, menurut Miichan adalah cara tersimpel yang paling efektif. Biasanya setiap Miichan bad mood lalu mencoba tersenyum, perasaan Miichan sedikit lebih baik, lho! Lebih lagi senyum itu adalah ibadah :D

Nah, bagaimana menurut kalian? Atau ada yang punya cara lain? Miichan senang, lho, kalau kalian mau berbagi tips yang kalian miliki di kolom komentar :D

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung, ya!
Jyaa~

Source :
GIRLS Tahun VII Edisi 10
Pengalaman Miichan sendiri

Komentar

  1. aku juga lebih suka curhat di diary kalo badmood/bete^^
    makasih kak Zahra! eh Miichan! xi xi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...