Langsung ke konten utama

surat

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin--selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya--saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali.


Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya). Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut:

Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang.

Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya--yang berakhir di pelaminan--dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya.

Akan tetapi, saya ingat betul corat-coret saya waktu itu bukan lagi satu dua halaman, melainkan satu notebook penuh yang buru-buru saya selesaikan lima menit sebelum janji temu di Gedung CAS ITB. Kala itu saya ditemani teman saya Vindri yang sedari awal tahu betapa naksirnya saya pada anak STEI itu. Vindri (dan teman saya satu lagi, Rahma)-lah yang selalu iya-iya saja setiap saya ajak di hari Jumat, "Ehh, jangan pulang duluu, kita tunggu bentar soalnya anak STEI bakal ada kelas di sinii, biar aku bisa papasan sama dia HEHE!!"

Namun, hari itu sepertinya bukan hari Jumat. Saya juga lupa hari apa, yang jelas ujian sudah usai, sebab kedok saya saat itu adalah mengembalikan jam tangan yang saya pinjam dari sang pujaan hati untuk ujian Kimia (sebab anak STEI tidak mendapat matkul Kimia di semester 1), walau sejatinya saya ingin memberi satu notebook penuh curahan hati plus syal hasil rajut perdana saya yang dilihat-lihat lagi not bad juga, ya (eh, apa iya?)


Serah terima jam tangan, syal, dan (yang paling utama tentunya) notebook itu singkat saja. Sejujurnya saya juga lupa rasa apa yang melingkupi dada saya usai momen itu, toh biasanya saya memang menyatakan rasa di penghujung pertemuan. Saat itu, (yang kini) suami saya memang akan pindah dan meninggalkan ITB. Jadi, pikir saya, "Kalau dia gak nyaman dengan tulisanku, yo wes kita bakal jauhan ini."

Namun, malamnya, saya menerima surat elektronik dengan dalihnya, "Kalau kau ngasi kertas, sebagai anak STEI, aku harus modernize, ahahaha!"

Sepertinya itulah kali pertama perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Lantas, berikut penggalan yang membuat saya berdebar tidak karuan di satu malam bulan Maret (atau Februari?) 2020 tersebut.


Surat elektronik tersebut aslinya memuat 1978 kata, jadi andaikan surat itu yang dijadikan tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini, tentu sudah tidak bisa karena melewati batas 1900 kata. Namun, berbekal surat itu, kami bertemu lagi untuk foto perdana, makan malam bersama, sekaligus memutuskan komitmen yang ditimbang-timbang lagi, gila juga ya untuk ukuran anak umur 18 tahun? Saat itu, sepertinya jam 11 malam di jalan pulang di depan Gedung PPSDM Aparatur Kementerian ESDM yang ada di Jalan Cisitu Lama, saya bertanya padanya yang akan bertolak ke Jepang, "Jadi fix mau sama aku? Tapi aku maunya ini untuk nikah, ya," Lantas ia menyahut, "Oke,"


Hubungan jarak jauh selama enam tahun pun berlalu seperti sekejap mata (tidak juga sih...) dan enam bulan yang lalu, akhirnya kami resmi menjadi pasutri. Sampai saat ini, masih hampir tiap hari kami berlontar ujar, "Udah nikah, ya, kita?" Pernah juga saya melempar tanya, "Kalau dulu aku gak nulis surat itu, gak confess duluan, kamu bakal confess gak?" yang direspons, "Enggak." Yah, benar-benar takdir dari-Nya yang selalu saya syukuri.

Kini kami lebih jarang menulis surat satu sama lain. Karena sudah serumah, biasanya lebih senang menyampaikan langsung saja. Namun, bagi saya pribadi (dan tidak hanya untuk suami), saya masih senang menulis (dan menerima) surat. Tentu saya masih ingin menjaga pola pikir "menulis tanpa mengharap kembali", tapi barangkali di masa nanti akan ada lagi cerita soal tulisan kecil saya yang memberi imbas besar bagi hidup. Kala itu pun, tentu moga-moga imbas yang saya terima kembali bersifat baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...