- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Beberapa waktu lalu dalam perjalanan pulang ke Tokyo, saya tidak bisa tidur sampai sekitar pukul satu. Artinya sudah tiga jam sejak keberangkatan dari Umeda, tapi tampaknya memang badan tidak bisa bohong–sudah bukan lagi remaja sembilan belas tahun yang kuat-kuat saja menaiki bus dua malam berturut-turut, atau kereta ekonomi yang tegak sembilan puluh derajat. Namun, yang paling menyedihkan bukan soal insomnianya. Tidak masalah juga tidak tidur sampai pagi– walau akhirnya saya bisa terlelap –karena Senin kemarin adalah Hari Laut yang merupakan hari libur nasional. Yang paling berat justru ketika gelap menyergap dan hening berdenging, memantik carut marut dan porak poranda isi kepala. Itulah mengapa kalau bisa, saya ingin menuruti nyanyian Rhoma Irama, “Begadang jangan begadang kalau tiada artinya~” yang sayangnya tidak bisa karena entah leher, punggung, atau pantat, sekujur tubuh seolah tidak menemu posisi yang tepat untuk berjumpa nyenyak. Jadi saya membiarkan diri saya ter...