- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Beberapa waktu lalu dalam perjalanan pulang ke Tokyo, saya tidak bisa tidur sampai sekitar pukul satu. Artinya sudah tiga jam sejak keberangkatan dari Umeda, tapi tampaknya memang badan tidak bisa bohong–sudah bukan lagi remaja sembilan belas tahun yang kuat-kuat saja menaiki bus dua malam berturut-turut, atau kereta ekonomi yang tegak sembilan puluh derajat.
Namun, yang paling menyedihkan bukan soal insomnianya. Tidak masalah juga tidak tidur sampai pagi–walau akhirnya saya bisa terlelap–karena Senin kemarin adalah Hari Laut yang merupakan hari libur nasional. Yang paling berat justru ketika gelap menyergap dan hening berdenging, memantik carut marut dan porak poranda isi kepala. Itulah mengapa kalau bisa, saya ingin menuruti nyanyian Rhoma Irama, “Begadang jangan begadang kalau tiada artinya~” yang sayangnya tidak bisa karena entah leher, punggung, atau pantat, sekujur tubuh seolah tidak menemu posisi yang tepat untuk berjumpa nyenyak.
Jadi saya membiarkan diri saya terjaga, kalau tidak salah sambil bermain Mini Metroways–permainan yang baru saya gandrungi beberapa hari terakhir, bisa berjam-jam dalam satu hari. Melodi yang entah apa judulnya juga berputar di earphone saya, tapi liriknya itu (yang saya lupa apa) yang harusnya memantik derai-derai air mata saya selanjutnya.
Topik ditinggal oleh orang yang terkasih memang sangat berat untuk saya. Padahal mungkin saya “belum pernah” berkabung untuk kerabat keluarga terdekat–semoga masih akan belum dalam waktu dekat, walau memang setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Terakhir saya tersedu-sedan saat (calon) mertua saya berpulang, yang setelahnya saya angkat situasinya kepada psikolog saya di Bimbingan Konseling ITB, lalu ditanggapi dengan pertanyaan retoris, kenapa saya sedemikian bersedih–bahkan lebih-lebih dibandingkan pacar/suami saya yang notabene anaknya–seolah saya sedang “menumpangkan” duka saya yang lain (yang entah apa itu) di momen tersebut.
Terlepas dari itu, hingga kini hanya membayangkan ditinggal selamanya oleh yang terkasih rasanya sangat berat. Mengetik ini saja cukup membuat mata saya berlinang. Malam itu saya sampai berbincang dengan Claude, menduga-duga bagaimana rasanya bersungkawa bagi mereka yang tidak meyakini akhirat, sebab bukankah menyesakkan dada sekali kalau-kalau benar-benar tidak akan bersua lagi dengan mereka?
Saya sungguh-sungguh terisak sembari menahan suara agar tidak mengusik penumpang lain. Kepala saya sedikit sakit, tetapi pelan-pelan saya bisa menenangkan diri, utamanya dengan mengingatkan diri bahwa memang saya masih memiliki tendensi “melebih-lebihkan masalah”. Konselor saya di kampus sekarang bilang istilahnya adalah catastrophizing. Dengan mengingat bahwa kepala saya “hanya” sedang melakukan itu, berangsur-angsur saya mengatur kembali napas (lalu lanjut bermain Mini Metroways).
Akan tetapi, selain meredakan ke-”panik”-an itu dengan mengingat-ingat bahwa “ini aku cuma lagi catastrophizing, kok,” atau “sekarang, kan, semua masih baik-baik aja; ya, mungkin nanti ada waktunya, tapi nanti,” sebenarnya ada salah satu jawaban menarik dari perbincangan saya dengan Claude malam itu. Dua jawaban lainnya, singkatnya, adalah:
“The relationship already happened” yang menurut saya cukup mirip dengan “don't cry because it's over, smile because it happened”; dan
“They live on in effects, not presence, because we’ll still carry pieces of them into how we love others.”
Yang paling berkesan bagi saya ialah poin terakhir: that finitude is what gives it weight. Sesuatu menjadi lebih berharga ketika ia memiliki batas waktu. American Dictionary pun mendefinisikan “take something for granted” sebagai “to never think about something because you believe it will always be available or stay exactly the same”, tatkala pada definisi lainnya tertulis, “If you take situations or people for granted, you do not realize or show that you are grateful for how much you get from them.”
Kalau diingat lagi, sekarang saya jauh lebih menikmati makanan saya karena pada masanya delapan gigi saya di kanan, kiri, atas, bawah, pernah bermasalah sehingga mengunyah sate padang kesukaan saya pun saya tidak mampu. Akhir-akhir ini juga saya lebih sering berinisiatif menelepon keluarga duluan, sepertinya karena perantauan saya menjadi yang paling jauh (dan paling “lama”, lebih tepatnya karena tanpa kepastian waktu)–padahal ketika saya masih tinggal di rumah, sehari-hari saya hobi mendekam di kamar saja. Sesuatu menjadi berkali-kali lipat lebih berharga–atau lebih saya hargai–begitu menginsafi bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya selamanya.
Oleh karena itu, barangkali salah paham saya sebelumnyalah yang membuat saya teramat gundah gulana acapkali terbayang suatu hari nanti bila kehidupan berakhir, utamanya mereka-mereka yang saya cintai, entah dengan cara sebising tonggeret di musim panas atau sesenyap mereka di musim dingin. Baru tadi pagi saya terbangun lebih awal dari suami saya, lantas mendekapnya seerat mungkin, mensyukuri kenyataan bahwa ia masih sehat, bahagia, dan berada di sisi saya.
Mungkin bukan hanya orang lain saja–diri saya juga, harusnya. Bagaimana saya melalui hari-hari saya sepanjang kehidupan ini belum berakhir, mencari bahagia dan memantik tawa untuk mengisi hari, bahkan dari hal-hal sesederhana bunga warna-warni di tepi jalan menuju halte bus, riuh ramai anak TK yang dibawa dengan “gerobak” di dekat stasiun pagi hari, juga sejuknya angin AC dan ramahnya para staf di kafe tempat saya biasa duduk sore-sore. Walau sesekali a good cry is needed, tentu; setidaknya tidak melulu tenggelam dalam skenario-skenario dalam kepala yang membuat dada saya sesak
Lagipula memang kenapa kalau kehidupan berakhir? Dari memori saya yang banyak terdistorsi, Seneca dalam buku How to Die justru menyatakan bahwa kematianlah yang membuat hidup melegakan dan menguatkan. Bahkan di halaman 17 versi buku yang saya miliki–ya, saya jadinya membuka kembali buku tersebut karena benar-benar tidak yakin dengan ingatan sendiri–disampaikan, “Apa yang memberatkanmu untuk kembali ke tempat asalmu?”
Membaca kembali buku 11 cm x 16,5 cm ini, ternyata banyak juga baris-baris yang saya garisi. “Barang siapa tidak ingin mati, dia berarti juga tidak ingin hidup,” “Kehidupan dianugerahkan dengan kematian sebagai batasannya,” “Kecintaan akan diri sendiri dan hasrat untuk memelihara serta mempertahankan diri sendiri … bersama dengan keengganan untuk binasa … merampas begitu banyak kebaikan … dan menjauhkan dari kelimpahan …”
Sebenarnya buku tersebut lebih cocok dibaca jika saya sedang khawatir dengan kematian saya sendiri, mengingat susah hati saya lebih diwarnai oleh kecemasan atas kepergian orang lain. Namun, kalau kehidupan diri sendiri sejatinya tidak masalah jika berakhir (dan memang pasti akan berakhir), mestinya logika yang sama boleh saya coba terapkan untuk orang lain. Apalagi orang bilang hidup adalah panggung sandiwara, atau dunia adalah tempat untuk bersusah payah; jadi bukankah (ada sisi) menggembirakan ketika akhirnya seseorang bisa beristirahat dalam kedamaian (a.k.a rest in peace)?
Akhir kata, sebenarnya ide yang paling menggugah bagi saya dalam topik ini kembali lagi ke “that finitude is what gives it weight”. Sebagaimana saya akhirnya menulis artikel ini, tentu karena ada batas waktu yang tersisa empat jam lagi. Setelah merenung sekitar setengah jam di ruang tengah dengan mata terpejam, saya memutuskan menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Juli 2026 dengan refleksi “keputusan” atas “kesalahan” saya memahami soal kepergian, soal kematian, soal sewaktu-waktu kehidupan (akan) berakhir. Sebab harusnya tidak ada yang salah akan hal itu; toh dalam firman-Nya pun disebut, “Kullu nafsin zaa`iqatul-maut.” Yang salah adalah bagaimana saya masih kerap menabur garam pada luka, melempar bensin pada ketakutan di dalam kepala saya.
Mungkin apa-apa yang saya biasa lakukan berbulan-bulan, bertahun-tahun, tentu tidak mudah diubah. Namun, kalau-kalau lara saya kembali menyergap dan membabi buta, mungkin saya bisa mengulas kembali tulisan saya sendiri ini, melipurnya dengan balik bertanya, “Lalu kenapa kalau kehidupan berakhir?”
Komentar
Posting Komentar