Langsung ke konten utama

Postingan

October, Right Here, Daylight

Postingan terbaru

bintang

Ditulis untuk Tantangan Blogging Bulan Oktober Entah sejak kapan saya mulai menyadari bahwa peristiwa lampau yang paling menyedot perhatian saya bukanlah yang tercatat di buku sejarah, melainkan yang terjadi di dunia K-pop. Ya, ya, silakan tertawa (saya juga tertawa waktu mengetik ini). Tapi semalam, selepas menonton konser seorang solois di tengah lautan lightstick, saya duduk di kasur dengan telinga masih berdenging dan sadar bahwa saya harus menuliskannya. Grup yang kini saya stan adalah Riize. Mungkin karena para membernya sebaya dengan saya, jadi rasanya seperti menonton teman seangkatan yang tumbuh di bawah sorot lampu. Namun sejarah di baliknya panjang sekali, jadi mohon bersabar. Semuanya bermula dari fakta bahwa ada member yang awalnya sudah debut di NCT, lalu keluar dan debut lagi di grup baru di agensi yang sama. Menurut saya ini jarang terjadi. Entah mengapa, sampai sekarang saya masih setengah percaya pada teori konspirasi (yang tentu saja tidak pernah terbukti...

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

the almanac

Sedari hari pertama tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog  Agustus turun, rasanya limbung sekali memilah aplikasi apa yang hendak direkomendasikan. Yang kerap saya gunakan di antaranya Google Calendar, Google Spreadsheet, alarm—walau semuanya sangat menolong, rasa-rasanya sama sekali tak ada yang istimewa. Semua orang harusnya paham mengapa aplikasi itu dipakai, jadi seperti terlampau klise andai saya turut merekomendasikannya lagi. Namun, malam ini setelah tiga jam mendekam di kafe langganan saya, lagi-lagi saya menangkap sepasang ayah dan anak yang dalam dua pekan terakhir ikut menikmati santapan di gerai dekat stasiun itu. Ada buku yang saya-tak-tahu-subjeknya-apa terbentang di meja hadapan mereka, tetapi yang memikat adalah mengamati keduanya bermain gawai bersama. Saya jadi tahu karena suara kekeh mereka cenderung mengundang saya menoleh. Ah, iri sekali; saya yang di perantauan ini jadi rindu orang tua saya. Anyway , Switch, kalau saya tak keliru—itu yang mereka mainkan....

lalu kenapa kalau kehidupan berakhir?

Beberapa waktu lalu dalam perjalanan pulang ke Tokyo, saya tidak bisa tidur sampai sekitar pukul satu. Artinya sudah tiga jam sejak keberangkatan dari Umeda, tapi tampaknya memang badan tidak bisa bohong—sudah bukan lagi remaja sembilan belas tahun yang kuat-kuat saja menaiki bus dua malam berturut-turut, atau kereta ekonomi yang tegak sembilan puluh derajat. Namun, yang paling menyedihkan bukan soal insomnianya. Tidak masalah juga tidak tidur sampai pagi— walau akhirnya saya bisa terlelap— karena Senin kemarin adalah Hari Laut yang merupakan hari libur nasional. Yang paling berat justru ketika gelap menyergap dan hening berdenging, memantik carut marut dan porak poranda isi kepala. Itulah mengapa kalau bisa, saya ingin menuruti nyanyian Rhoma Irama, “Begadang jangan begadang kalau tiada artinya~” yang sayangnya tidak bisa karena entah leher, punggung, atau pantat, sekujur tubuh seolah tidak menemu posisi yang tepat untuk berjumpa nyenyak. Jadi saya membiarkan diri saya ter...

Refleksi tentang Kata "Ajar"

Ada kebiasaan kecil yang sering saya lakukan tanpa sadar: membandingkan kata dalam bahasa Indonesia dengan terjemahannya di bahasa lain, lalu bertanya-tanya mengapa polanya berbeda sekali. Salah satu yang menarik belakangan ini "belajar" dan "mengajar". Jika berfokus pada pelaku kegiatannya, yaitu pelajar dan pengajar , saya jadi teringat pasangan kata "murid" dan "guru" yang kerap saya jadikan contoh untuk materi antonim relasional —salah satu materi yang saya sampaikan selama mengajar UTBK di awal tahun ini.  Dua imbuhan kemudian membawa si kata "ajar" itu ke dua arah yang berlawanan. Yang satu menjadi kegiatan menerima pengetahuan, sedang yang satu lagi memberikannya. Lagi-lagi saya teringat materi lain yang saya bawakan: makna gramatikal, makna yang muncul karena proses gramatika, salah satunya afiksasi atau pemberian imbuhan.  Rasanya lazim-lazim saja, memang bahasa Indonesia seperti itu, sampai ketika saya terpikir untuk menerjem...

rupa-rupa beda

Entah berapa banyak syukur perlu saya haturkan untuk kemudahan berbincang dengan Teh Diyah. Orang bilang psikolog tak ubahnya jodoh–cocok-cocokan; tapi dari semua psikolog yang saya rasa  cocok-cocok saja , Teh Diyah adalah yang paling cocok. Saya sampai sering berpikir, "Emang boleh tidak merogoh kocek begini?" (red: tidak berbayar karena merupakan hak konselor sebaya di Ruang Curhat).  Lantas, dari dialog kemarin malam yang baru saya ajukan sehari sebelumnya ( aduhai, psikolog mana lagi, ya, yang reservasinya boleh secepat itu, se-H-1 itu... ), yang paling berkesan adalah kala beliau berujar, “Kalau Zahra ketemu kelebihan Zahra yang lain, atau bahkan akhirnya punya kelebihan baru, siap-siap juga punya kekurangan baru sebagai konsekuensinya, yaa.” Harusnya saya tidak kaget. Diingat-ingat, saat masa-masa wawancara kerja, saya menjawab pertanyaan kelebihan dan kekurangan dengan menyebutkan tiga sifat saya, yang dari setiap sifat tersebut lahir kelebihan bersamaan ...