Langsung ke konten utama

Postingan

bintang

Postingan terbaru

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

the almanac

Sedari hari pertama tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog  Agustus turun, rasanya limbung sekali memilah aplikasi apa yang hendak direkomendasikan. Yang kerap saya gunakan di antaranya Google Calendar, Google Spreadsheet, alarm—walau semuanya sangat menolong, rasa-rasanya sama sekali tak ada yang istimewa. Semua orang harusnya paham mengapa aplikasi itu dipakai, jadi seperti terlampau klise andai saya turut merekomendasikannya lagi. Namun, malam ini setelah tiga jam mendekam di kafe langganan saya, lagi-lagi saya menangkap sepasang ayah dan anak yang dalam dua pekan terakhir ikut menikmati santapan di gerai dekat stasiun itu. Ada buku yang saya-tak-tahu-subjeknya-apa terbentang di meja hadapan mereka, tetapi yang memikat adalah mengamati keduanya bermain gawai bersama. Saya jadi tahu karena suara kekeh mereka cenderung mengundang saya menoleh. Ah, iri sekali; saya yang di perantauan ini jadi rindu orang tua saya. Anyway , Switch, kalau saya tak keliru—itu yang mereka mainkan....

lalu kenapa kalau kehidupan berakhir?

Beberapa waktu lalu dalam perjalanan pulang ke Tokyo, saya tidak bisa tidur sampai sekitar pukul satu. Artinya sudah tiga jam sejak keberangkatan dari Umeda, tapi tampaknya memang badan tidak bisa bohong—sudah bukan lagi remaja sembilan belas tahun yang kuat-kuat saja menaiki bus dua malam berturut-turut, atau kereta ekonomi yang tegak sembilan puluh derajat. Namun, yang paling menyedihkan bukan soal insomnianya. Tidak masalah juga tidak tidur sampai pagi— walau akhirnya saya bisa terlelap— karena Senin kemarin adalah Hari Laut yang merupakan hari libur nasional. Yang paling berat justru ketika gelap menyergap dan hening berdenging, memantik carut marut dan porak poranda isi kepala. Itulah mengapa kalau bisa, saya ingin menuruti nyanyian Rhoma Irama, “Begadang jangan begadang kalau tiada artinya~” yang sayangnya tidak bisa karena entah leher, punggung, atau pantat, sekujur tubuh seolah tidak menemu posisi yang tepat untuk berjumpa nyenyak. Jadi saya membiarkan diri saya ter...

Refleksi tentang Kata "Ajar"

Ada kebiasaan kecil yang sering saya lakukan tanpa sadar: membandingkan kata dalam bahasa Indonesia dengan terjemahannya di bahasa lain, lalu bertanya-tanya mengapa polanya berbeda sekali. Salah satu yang menarik belakangan ini "belajar" dan "mengajar". Jika berfokus pada pelaku kegiatannya, yaitu pelajar dan pengajar , saya jadi teringat pasangan kata "murid" dan "guru" yang kerap saya jadikan contoh untuk materi antonim relasional —salah satu materi yang saya sampaikan selama mengajar UTBK di awal tahun ini.  Dua imbuhan kemudian membawa si kata "ajar" itu ke dua arah yang berlawanan. Yang satu menjadi kegiatan menerima pengetahuan, sedang yang satu lagi memberikannya. Lagi-lagi saya teringat materi lain yang saya bawakan: makna gramatikal, makna yang muncul karena proses gramatika, salah satunya afiksasi atau pemberian imbuhan.  Rasanya lazim-lazim saja, memang bahasa Indonesia seperti itu, sampai ketika saya terpikir untuk menerjem...

rupa-rupa beda

Entah berapa banyak syukur perlu saya haturkan untuk kemudahan berbincang dengan Teh Diyah. Orang bilang psikolog tak ubahnya jodoh–cocok-cocokan; tapi dari semua psikolog yang saya rasa  cocok-cocok saja , Teh Diyah adalah yang paling cocok. Saya sampai sering berpikir, "Emang boleh tidak merogoh kocek begini?" (red: tidak berbayar karena merupakan hak konselor sebaya di Ruang Curhat).  Lantas, dari dialog kemarin malam yang baru saya ajukan sehari sebelumnya ( aduhai, psikolog mana lagi, ya, yang reservasinya boleh secepat itu, se-H-1 itu... ), yang paling berkesan adalah kala beliau berujar, “Kalau Zahra ketemu kelebihan Zahra yang lain, atau bahkan akhirnya punya kelebihan baru, siap-siap juga punya kekurangan baru sebagai konsekuensinya, yaa.” Harusnya saya tidak kaget. Diingat-ingat, saat masa-masa wawancara kerja, saya menjawab pertanyaan kelebihan dan kekurangan dengan menyebutkan tiga sifat saya, yang dari setiap sifat tersebut lahir kelebihan bersamaan ...

kok

Entah tanggal berapa hari itu, yang jelas April 2026. Kunaiki kereta jalur Yamanote hingga Shinagawa, lalu bus nomor 99 menuju Biro Imigrasi Regional Tokyo. Awalnya tentu aku ogah repot-repot berjalan kaki hingga Stasiun Meguro, apalagi jalan menanjaknya ampun-ampun. Kata Cio, sih, dahulu para biksu tinggal di sana, jadi mereka melatih fisik dengan melalui jalur curam itu sehari-hari. Sebenarnya, aku sudah nyaris menaiki bus dari dekat rumah, tapi saldoku tidak cukup dan aku tidak punya selembar seribu yen. Akhirnya, aku (yang sudah kepalang takut dengan wajah datar pak supir) memutuskan turun dari bus dan merasakan perjuangan biksu-biksu di masa lalu. Setidaknya kemalanganku tidak bertubi-tubi ketika aku berhasil menaiki bus nomor 99 tepat waktu. Tidak perlu menunggu terlalu lama, walau tidak mendapat kursi juga. Aku sempat diajak bercakap oleh seseorang yang berdiri di depanku; ditanyai apakah bus ini benar ke biro imigrasi. Lantas aku mengangguk, selanjutnya ikut bertan...