- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ditulis untuk Tantangan Blogging Bulan Oktober
Grup yang kini saya stan adalah Riize. Mungkin karena para membernya sebaya dengan saya, jadi rasanya seperti menonton teman seangkatan yang tumbuh di bawah sorot lampu. Namun sejarah di baliknya panjang sekali, jadi mohon bersabar.
Semuanya bermula dari fakta bahwa ada member yang awalnya sudah debut di NCT, lalu keluar dan debut lagi di grup baru di agensi yang sama. Menurut saya ini jarang terjadi. Entah mengapa, sampai sekarang saya masih setengah percaya pada teori konspirasi (yang tentu saja tidak pernah terbukti) bahwa mereka sebenarnya "magang" dulu di NCT sebelum dilepas jadi grup sendiri. Masuk akal juga, kan? (Eh, apa iya?) Namanya juga teori, kadang dipercaya karena seru, bukan karena terbukti.
Namun, bagian yang paling menyedot perhatian, dan sejujurnya paling menyesakkan, adalah ketika salah seorang member terkena skandal. Yang membuat saya terhenyak bukan hanya skandalnya, melainkan reaksinya. Karangan bunga duka dikirim ke depan kantor agensi atas namanya. Bayangkan: orang yang belum genap berumur dua puluhan dikirimi bunga kematian oleh ribuan orang yang tidak mengenalnya. Ia pun hiatus. Lama sekali.
Sempat ada kabar baik, ia kembali ke grup. Tapi tiga hari kemudian, ia justru keluar karena netizen Korea benar-benar murka. Tiga hari! Saya ingat betul rasanya menatap layar ponsel, berpikir, "Sekeras itu, ya, dunia ini?" Kerja keras bertahun-tahun, latihan sampai larut malam, tinggal jauh dari keluarga, semuanya seperti tidak ada harganya dalam tiga hari.
Saya sering membayangkan betapa kerasnya perjuangan mereka. Saking seringnya, topik ini bahkan pernah saya bawa ke sesi bersama psikolog saya. Lucu juga membayangkan saya duduk di ruang konseling, bercerita panjang lebar tentang seorang idol yang tidak tahu saya ada, tapi justru dari situ saya belajar sesuatu tentang diri sendiri. Ternyata, yang saya serap dari kisah ini bukanlah dramanya, melainkan soal tidak menyerah, soal apa kata orang, dan soal mengejar mimpi.
Dan di sinilah semalam menjadi terasa istimewa. Member yang keluar grup itu tidak hilang begitu saja. Ia tetap bertahan di agensi, lalu debut solo, dan semalam saya akhirnya menonton konsernya. Saya tidak akan bercerita rinci soal lagu atau panggungnya, karena rasanya tidak adil kalau saya salah mengingat (kepala saya masih setengah di awang-awang). Yang jelas, ketika ia berdiri di tengah panggung dengan ribuan orang menyanyikan lagunya bersama-sama, saya merasa sedang menyaksikan akhir dari sebuah bab yang dulu terasa sangat gelap. Ia jatuh, dan ia kembali, dengan cara yang berbeda dari rencana semula.
Saya tahu, seorang idol tentu hidup di dunia yang jauh berbeda dari kehidupan saya. Jalan saya jelas bukan jalan idol (kecuali kalau tiba-tiba ada audisi untuk perempuan umur sudah 25 yang suka menari asal-asalan di dapur). Tetapi entah mengapa kisah ini terus menempel di kepala saya, dan setiap kali saya malas atau ragu, saya jadi berpikir, "Kalau mereka saja bisa bangkit dari tekanan sebesar itu, masa saya tidak bisa bekerja sedikit lebih keras?"
Barangkali itulah sebabnya peristiwa ini menyedot perhatian saya. Bukan karena gemerlapnya, bukan pula karena teori-teorinya, melainkan karena ia mengingatkan saya bahwa kerja keras itu sering tidak terlihat, penilaian orang bisa sangat kejam, dan menyerah selalu menjadi pilihan yang paling mudah. Padahal, sering kali yang kita butuhkan hanyalah bertahan sedikit lebih lama.
Jadi, begitulah peristiwa lampau versi saya: tidak ada pesawat, tidak ada tsunami, hanya sekumpulan anak muda dan satu karangan bunga yang tidak seharusnya pernah dikirim. Namun, kalau dari situ saya bisa belajar tentang ketangguhan, bukankah itu juga pelajaran hidup yang sah?
Komentar
Posting Komentar