Langsung ke konten utama

bintang

bintang



Entah sejak kapan saya mulai menyadari bahwa peristiwa lampau yang paling menyedot perhatian saya bukanlah yang tercatat di buku sejarah, melainkan yang terjadi di dunia K-pop. Ya, ya, silakan tertawa (saya juga tertawa waktu mengetik ini). Tapi semalam, selepas menonton konser seorang solois di tengah lautan lightstick, saya duduk di kasur dengan telinga masih berdenging dan sadar bahwa saya harus menuliskannya.

Grup yang kini saya stan adalah Riize. Mungkin karena para membernya sebaya dengan saya, jadi rasanya seperti menonton teman seangkatan yang tumbuh di bawah sorot lampu. Namun sejarah di baliknya panjang sekali, jadi mohon bersabar.

Semuanya bermula dari fakta bahwa ada member yang awalnya sudah debut di NCT, lalu keluar dan debut lagi di grup baru di agensi yang sama. Menurut saya ini jarang terjadi. Entah mengapa, sampai sekarang saya masih setengah percaya pada teori konspirasi (yang tentu saja tidak pernah terbukti) bahwa mereka sebenarnya "magang" dulu di NCT sebelum dilepas jadi grup sendiri. Masuk akal juga, kan? (Eh, apa iya?) Namanya juga teori, kadang dipercaya karena seru, bukan karena terbukti.

Namun, bagian yang paling menyedot perhatian, dan sejujurnya paling menyesakkan, adalah ketika salah seorang member terkena skandal. Yang membuat saya terhenyak bukan hanya skandalnya, melainkan reaksinya. Karangan bunga duka dikirim ke depan kantor agensi atas namanya. Bayangkan: orang yang belum genap berumur dua puluhan dikirimi bunga kematian oleh ribuan orang yang tidak mengenalnya. Ia pun hiatus. Lama sekali.

Sempat ada kabar baik, ia kembali ke grup. Tapi tiga hari kemudian, ia justru keluar karena netizen Korea benar-benar murka. Tiga hari! Saya ingat betul rasanya menatap layar ponsel, berpikir, "Sekeras itu, ya, dunia ini?" Kerja keras bertahun-tahun, latihan sampai larut malam, tinggal jauh dari keluarga, semuanya seperti tidak ada harganya dalam tiga hari.

Saya sering membayangkan betapa kerasnya perjuangan mereka. Saking seringnya, topik ini bahkan pernah saya bawa ke sesi bersama psikolog saya. Lucu juga membayangkan saya duduk di ruang konseling, bercerita panjang lebar tentang seorang idol yang tidak tahu saya ada, tapi justru dari situ saya belajar sesuatu tentang diri sendiri. Ternyata, yang saya serap dari kisah ini bukanlah dramanya, melainkan soal tidak menyerah, soal apa kata orang, dan soal mengejar mimpi.

Dan di sinilah semalam menjadi terasa istimewa. Member yang keluar grup itu tidak hilang begitu saja. Ia tetap bertahan di agensi, lalu debut solo, dan semalam saya akhirnya menonton konsernya. Saya tidak akan bercerita rinci soal lagu atau panggungnya, karena rasanya tidak adil kalau saya salah mengingat (kepala saya masih setengah di awang-awang). Yang jelas, ketika ia berdiri di tengah panggung dengan ribuan orang menyanyikan lagunya bersama-sama, saya merasa sedang menyaksikan akhir dari sebuah bab yang dulu terasa sangat gelap. Ia jatuh, dan ia kembali, dengan cara yang berbeda dari rencana semula.

Saya tahu, seorang idol tentu hidup di dunia yang jauh berbeda dari kehidupan saya. Jalan saya jelas bukan jalan idol (kecuali kalau tiba-tiba ada audisi untuk perempuan umur sudah 25 yang suka menari asal-asalan di dapur). Tetapi entah mengapa kisah ini terus menempel di kepala saya, dan setiap kali saya malas atau ragu, saya jadi berpikir, "Kalau mereka saja bisa bangkit dari tekanan sebesar itu, masa saya tidak bisa bekerja sedikit lebih keras?"

Barangkali itulah sebabnya peristiwa ini menyedot perhatian saya. Bukan karena gemerlapnya, bukan pula karena teori-teorinya, melainkan karena ia mengingatkan saya bahwa kerja keras itu sering tidak terlihat, penilaian orang bisa sangat kejam, dan menyerah selalu menjadi pilihan yang paling mudah. Padahal, sering kali yang kita butuhkan hanyalah bertahan sedikit lebih lama.

Jadi, begitulah peristiwa lampau versi saya: tidak ada pesawat, tidak ada tsunami, hanya sekumpulan anak muda dan satu karangan bunga yang tidak seharusnya pernah dikirim. Namun, kalau dari situ saya bisa belajar tentang ketangguhan, bukankah itu juga pelajaran hidup yang sah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...