Langsung ke konten utama

kok

tidak mau menjadi kuat


Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan. 

Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali (alhamdulillah), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa.

Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating, kisahnya dibingkai media menjadi "she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold". 

Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan keringat. Adakah yang salah kalau semuanya berjalan mudah?

Aku tidak mau, masih tidak mau, meminta "dikuatkan"; tapi, sebenarnya apa arti dari "kuat" itu sendiri? 

.

.

Sepertinya di kepalaku, menjadi kuat adalah (hanyalah [?]) menjadi tameng baja yang perkasa, atau menjadi punggung laksamana yang kuasa menyangga beban berton-ton.

Menjadi kuat adalah seorang diri mengarungi badai.

Menjadi kuat adalah bertelanjang dada menyeberangi samudera.

Apa iya?

Barangkali, barangkali, menjadi kuat bukan hanya itu.

Barangkali, Alysa Liu yang (tampak) tulus berbahagia itu pun sebenarnya sosok yang (sangat) kuat.

Barangkali, menjadi kuat tidak harus dengan cara yang menyiksa.

Barangkali, menjadi kuat bisa dengan memiliki "wadah" yang lebih besar: cukup lapang untuk menerima helaan napas saat ada yang tidak sesuai rencana; sekaligus cukup luas untuk selalu menampung tawa, menemu bahagia, bahkan dari yang selama ini kukira terlalu kecil untuk memantik senyum.

.

.

Hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya: aku tidak (belum?) meminta dikuatkan. Dalam beberapa waktu ke depan pun belum berencana berubah.

Mau diiming-imingi pelangi tujuh warna, aku masih lebih suka rintik-rintik alih-alih deru deras hujan lebat. Mau akan jadi jalan pintas, aku masih enggan meminta kalau jalannya terjal berliku (habisnya, kalau ada jalan cepat menjadi lebih "hebat", memangnya aku ingin hebat seperti apa, sih; aku belum tahu). Aku masih akan menengadah dan meminta kemudahan, kegampangan, keringanan--toh, Tuhan masih menerima bermacam jenis doa, termasuk yang ini, kan?

Namun, barangkali aku yang sekarang tidak merinding ketakutan seperti sebelumnya. Jika momen yang memaksaku kuat akhirnya mengetuk, kupikir aku tidak akan lari. Mungkin sedikit berkaca-kaca dan berlinang air mata, tapi bolehlah kubuka pintu dan kusambut ke ruang tamu, lalu kusajikan teh untuk kami bercengkerama (soalnya aku tidak bisa minum kopi).

Iya, walau masih belum akan kuminta sendiri, barangkali aku yang sekarang akan lebih lapang jika Dia sudah menarik garis takdir "ayo, Zahra, jadilah lebih kuat". Kun fayakun. It’s not something I should be scared of anymore; toh, menjadi kuat tidak harus terasa berat,

kan?

Semoga.

P.S. Mengejar Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Maret 2026 di koridor timur Masjid Salman ITB tatkala sebagian besar temanku sudah terlelap. Sepertinya sebenarnya aku sudah kuat, kok--kalau soal menahan kantuk dan menjadi kalong 🦇

Komentar

  1. Ah, kena demam Alysa Liu juga? Hehehe. Semangat semangaaat ❤️‍🔥

    BalasHapus
  2. Indeed Alysa Liu is so amazing and cute 🥰

    Back to the topic. Menarik. Seperti konsep tekanan di fisika, ya. Bila luas permukaan semakin luas, maka semakin kecil tekanan yang dihadapi setiap permukaannya. Mungkin dalam hidup juga begitu, ketika beban bisa dibagi dengan wadah yang lebih besar, mungkin hidup akan menjadi lebih rileks. Tulisan ini seperti mengingatkan bahwa hidup bisa dijalani dengan lebih ringan. Semoga kita semua senantiasa diberi kemudahan oleh Allah dalam menjalani hidup ini 🥰

    BalasHapus
  3. Semoga doa-doa terbaik teh Zara terkabul, aamiin...
    Salam semangat

    BalasHapus
  4. DiMasa dulu, Saya sering iri dan ingin seperti orang2 hebat. Sampai nemu quote: "Dibalik kekuatan besar, ada tanggung jawab yang besar pula."
    Yah makin tua jadi makin kerasa hidup itu sawang sinawang

    BalasHapus
  5. Teh Zahra... karena Teteh memunculkan nama Alysa Liu, dan baca di kolom komentar, banyak Mamahs yang tahu; ku auto googling. Ahaha. Bisa-bisanya aku gak tahu ya, padahal setiap hari baca Threads, tednyata masih saja ada info yang ketinggalan.

    Aku turut mengaminkan harapan Teh Dewi (di kolom komentar atas) untuk Teh Zahra. Aamiin aamiin ya Rabb, semoga doa terbaik Teteh dikabulkan olehNya.

    BalasHapus
  6. Wah betul juga ya, kalau minta menjadi kuat, akan ada ujian apa yang membuat kita harus kuat. Jadi ingat beberapa tahun lalu ketika ujian bertubi-tubi. Semakin berdoa kuat, semakin bertambah ujiannya. Terima kasih teh, tulisannya bagus, dan saat baca jadi terbawa suasa serasa sedang duduk di Salman juga

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...