Langsung ke konten utama

Refleksi tentang Kata "Ajar"

Refleksi tentang Kata "Ajar"

Ada kebiasaan kecil yang sering saya lakukan tanpa sadar: membandingkan kata dalam bahasa Indonesia dengan terjemahannya di bahasa lain, lalu bertanya-tanya mengapa polanya berbeda sekali. Salah satu yang menarik belakangan ini "belajar" dan "mengajar". Jika berfokus pada pelaku kegiatannya, yaitu pelajar dan pengajar, saya jadi teringat pasangan kata "murid" dan "guru" yang kerap saya jadikan contoh untuk materi antonim relasional—salah satu materi yang saya sampaikan selama mengajar UTBK di awal tahun ini. 

Dua imbuhan kemudian membawa si kata "ajar" itu ke dua arah yang berlawanan. Yang satu menjadi kegiatan menerima pengetahuan, sedang yang satu lagi memberikannya. Lagi-lagi saya teringat materi lain yang saya bawakan: makna gramatikal, makna yang muncul karena proses gramatika, salah satunya afiksasi atau pemberian imbuhan. 

Rasanya lazim-lazim saja, memang bahasa Indonesia seperti itu, sampai ketika saya terpikir untuk menerjemahkannya ke bahasa Inggris dan menyadari fenomena yang serupa tidak bisa saya temukan. Study dan teach sama sekali tidak senasab. Mengandalkan AI, saya membaca bahwa teach berasal dari bahasa Inggris Kuno yang berarti "menunjukkan", sedangkan study adalah kata pungutan dari bahasa Latin yang awalnya berarti "berusaha dengan tekun". Dua kata ini lahir dari rumpun bahasa yang berbeda sama sekali, lalu kebetulan bertemu dalam bahasa Inggris untuk mengisi dua peran yang berkaitan—berbeda dengan belajar dan mengajar yang memang lahir dari induk yang sama, "ajar".

Pertanyaan berikutnya yang muncul: kalau begitu, apakah ada sinonim study yang satu akar bahasa dengan teach? Kata AI, sih, ada, yaitu learn karena sama seperti teach, keduanya berasal dari rumpun Proto-Jermanik dengan makna purba seputar "mengikuti jejak" atau "menunjukkan jalan". Adapun study masih sebatang kara, tidak punya pasangan "mengajar" yang senasab. Saudara-saudara sermpun katanya seperti student, studio, studious, semuanya menumpuk di sisi orang yang berusaha dan tidak satu pun condong ke sisi orang yang membimbing usaha itu. Namun, tetap saja, bagi saya sepertinya learn dan teach masih terlalu jauh, tidak seperti belajar dan mengajar yang memang asal katanya sama.

Penasaran, saya coba bandingkan lagi dengan bahasa Jepang. Polanya kian ramai. Ada tiga kata untuk sisi "belajar" (sepanjang yang saya tahu, mengingat ceteknya kemampuan saya di bahasa ini): benkyou, narau, manabu. Ketiganya ternyata tidak terlalu berhubungan satu sama lain, apalagi dengan oshieru 'mengajar'. Mengacu pada AI (2026), benkyou adalah serapan dari bahasa Cina dengan nuansa kerja keras; narau adalah kata asli Jepang yang lebih condong ke makna "meniru lewat praktik" (sehingga biasa dipakai untuk belajar keterampilan seperti kaligrafi atau musik); sedang manabu walau juga asli dari Jepang dan secara historis pun bermakna "menirukan", konotasinya lebih akademis dan luas dibanding narau. Sementara itu, oshieru berjalan di jalurnya sendiri dengan makna dasar "menunjukkan".

Jadi dari tiga bahasa yang saya periksa ternyata sama-sama tidak punya satu pasangan tunggal yang rapi untuk "belajar/mengajar", kecuali Indonesia. Begitulah yang saya kira, sampai saya teringat bahwa alih-alih menyebut pelajar dan pengajar, sehari-hari sebenarnya lebih sering dipakai murid dan guru.

Keduanya tidak berasal dari "ajar". "Murid" adalah serapan dari bahasa Arab dan "guru" dari bahasa Sanskerta. Keduanya berdiri sendiri, lepas dari akar "ajar", persis seperti student dan teacher yang berakar dari bahasa Latin dan Jermanik yang berbeda.

Bedanya, di bahasa Inggris, pelaku (student, teacher) justru dibentuk langsung dari kata kerjanya (study, teach) lewat imbuhan -ent dan -er. Sangat transparan secara morfologis. Sementara di Indonesia, kata kerja (belajar, mengajar) memang satu akar, tapi kata yang menyebut pelakunya justru lepas, diimpor dari bahasa lain.

Saya kembali melirik pola di bahasa Jepang yang sepertinya lebih mirip dengan bahasa Indonesia. Seito 生徒 dan gakusei 学生 (murid), serta sensei 先生 dan kyoushi 教師 (guru), bukanlah derivasi morfologis langsung dari kata kerja benkyou 勉強, narau 習う, manabu 学ぶ, atau oshieru 教える. Sensei bahkan secara literal berarti "lahir lebih dulu", jauh sekali dari makna "mengajar" itu sendiri.

AI yang sedari tadi mendukung perenungan saya ini lantas memunculkan sebuah teori (yang tentu belum saya cek secara keilmuan bahasa apakah benar adanya) (dan sekalian saja saya jadikan penutup). Katanya, "Semakin sebuah peran sosial itu dilembagakan — murid dan guru di sekolah, sensei dan seito dalam konteks formal Jepang — semakin besar kemungkinan bahasa "mengimpor" kata khusus untuk peran itu, bukan membentuknya dari kata kerja yang sudah ada. Sebaliknya, kata yang dibentuk secara morfologis langsung dari kata kerja (pelajar, pengajar, student, teacher) cenderung terasa lebih deskriptif dan umum — siapa pun yang sedang melakukan tindakan itu, tanpa harus menyandang status formal.

"Mungkin ini juga mencerminkan sesuatu yang lebih besar tentang bagaimana bahasa bekerja: kata kerja yang menggambarkan tindakan sehari-hari sering bertahan lama dan terbentuk secara internal, sementara kata yang menyandang status sosial atau institusi punya kecenderungan untuk "didatangkan" dari luar — entah lewat pengaruh agama, dagang, atau penaklukan. "Ajar" boleh jadi akar asli Nusantara yang setia melahirkan "belajar" dan "mengajar". Namun, begitu peran itu naik jadi institusi — sekolah, dengan muridnya, dengan gurunya — bahasa memilih kata dari tempat lain untuk menamainya.

"Yang awalnya kelihatan seperti keunikan kecil bahasa Indonesia, akhirnya ternyata adalah pola yang lebih universal: bahasa mana pun, ketika sebuah konsep berubah dari sekadar tindakan menjadi sebuah peran formal, cenderung mencari kata baru untuk menandainya alih-alih menurunkannya dari akar yang sudah ada."

P.S. Lagi-lagi, karena refleksi ini hanya bermodalkan tanda tanya di kepala serta ngalor-ngidul dengan AI, tentu saya akan senang sekali semisal ada yang lebih memahami topik ini dan berkenan berbagi di kolom komentar. Terima kasih!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...