- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian (aku lupa), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah (padahal saat itu musim dingin). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku suka perpustakaan; hening, tidak merogoh kocek, dan deretan buku yang dalam gemingnya tidak akan menghakimiku.
Akan tetapi, menaiki gerbong kereta pun aku masih merasa gelisah. Apakah orang-orang tidak suka dengan kulitku yang tidak seputih mereka? Mataku yang tidak sesipit mereka? Hidungku yang tidak semancung mereka? Padahal sudah kukenakan topi dan masker, pun pakaianku yang serba panjang sebenarnya sangat masuk akal di suhu nyaris tidak dua digit itu. Namun, tetap saja, perasaan ditelanjangi dan dinilai orang-orang sekitar menjalari sekujur badanku. Kenapa, ya; aku juga tidak tahu.
Kepala yang semrawut itu tidak sadar perpustakaan sentral Tokyo ternyata dikelilingi sebuah taman memorial. Apakah Tuhan tahu hatiku yang kacau balau memang butuh ketenangan di tengah kota metropolitan seperti ini? Tentu saja, Dia kan Maha Tahu. Jadi aku duduk di sana, melihat anak-anak kecil dan remaja entah bermain kasti, bertanding sepak bola, atau sekadar berkejaran satu sama lain.
Loh, kenapa semuanya tampak "berbeda"?
Sebagian berkulit putih dengan surai sama putihnya. Sebagian tampak lebih eksotis dengan rambut ikal, netra bulat, dan kelopak mata yang lipatannya tebal berlapis-lapis. Sebagian irisnya seperti lensa kontak kalau dibandingkan dengan milik orang-orang Indonesia. Dibanding Osaka yang pernah kutinggali empat bulan, aku tahu Tokyo memang lebih heterogen, tapi apakah sebermacam rupa ini?
Semuanya tampak menikmati aktivitasnya masing-masing. Bukan hanya anak-anak; pasangan lansia yang rupanya sangat kebarat-baratan yang menyisiri jembatan kecil di atas aliran sungai, dua tiga paruh baya berbeda ras yang berbincang dalam bahasa Inggris, juga suami istri yang memanggil anaknya dengan kata demi kata yang aku tak tahu artinya--sepertinya, sih, menyuruhnya lekas pulang.
Oh, pantas saja. Tatkala kuperiksa Maps pada gawaiku, Taman Memorial Arisugawa-no-miya ini dikelilingi gedung-gedung kedutaan besar yang sudah tak bisa kuhitung dengan sepuluh jari tangan (mungkin bisa kalau jemari kakiku ikut serta). Dari negara-negara Eropa seperti Jerman dan Finlandia; sampai negara-negara Asia, entah Selatan seperti Pakistan, atau Barat Daya bak Oman, bahkan sesama Timur umpama Korea dan Cina.
Lantas apa masalahnya kalau berbeda; apa salahnya kalau memang tidak tampak seperti penduduk asli, toh memang bukan dari sini aku berasal; kalau-kalau seburuk-buruknya pun aku tidak pernah diterima, lantas kenapa? Apakah aku harus selalu diterima? Apakah mereka memang tidak menerima? Atau aku yang tidak menerima diri sendiri?
Tanpa tahu beberapa bulan setelah itu aku akan bekerja di Marunouchi dan atasanku yang berasal dari Chiba akan memuji corak kerudungku yang manis, detik itu aku seperti menemukan diriku--entah dia sempat hilang, atau memang baru terbentuk di momen itu. Merasa cukup mengitari taman memorial yang dari ujung ke ujung hijaunya menenangkan mataku (dan pikiranku, dan perasaanku), aku memasuki perpustakaan sentral, membalas senyum penjaga meja depan, merasa percaya diri dengan paras puan Asia Tenggara pada umumnya, serta atribut seorang pemeluk Islam yang mungkin agak berbeda dari sekitarku saat itu, tapi itulah yang melekat pada diriku.
Mungkin sesekali aku masih akan kembali dihinggapi kecemasan, kesepian, kesedihan, kelebat pertanyaan serupa yang padahal sebelumnya mampu kujawab. Namun, kenangan sore itu juga akan kupanggil kembali untuk menemani, membersamai pencarian jawab-jawab selanjutnya--menghangatkan relung hati dengan kesadaran bahwa, barangkali, sebelum meminta orang lain memberiku penerimaan, akulah orang nomor satu yang perlu menerima diri ini.
Bonus: potret elok Taman Memorial Arisugawa-no-miya usai pergumulanku dengan dilema menerima-tidak menerima, 25 Februari 2025.
P. S. Tulisan ini lahir karena aku tidak bisa tidur di antara pekat kabut dan rintik hujan yang menghiasi jalan tol menuju Venetie van Java, tapi setidaknya aku jadi bisa menunaikan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog 🤍
Hallo Zahra, terimakasih sudah berbagi cerita Zahra ya. Saya sedikit bisa memahami "kegalauan" yang Zahra rasakan di tempat baru. Karena hal yang sama juga selalu saya rasakan :). Tapi katanya manusia adalah mahluk yang paling mudah beradaptasi, jadi semua hanya soal waktu.
BalasHapusSelamat berpuasa ya, dan enjoy your stay in Semarang ? mudah-mudahan betul hehe, the Venetie van Java.
Venetie van Java, julukan kolonial Belanda pada Kota Semarang.
BalasHapusAlhamdulillah, teh Zahra bisa mendapatkan hikmah dari perjalanan ke Negeri Sakura. Sungguh kita diciptakan berbeda untuk saling mengenal.
Perjalanan menerima diri itu memang selalu kelihatan sulit ya. Suka malu atau takut mengakui/ diketahui kelemahan diri. Padahal yaa manusia mana sih yang gak punya kekurangan. Gaya sih saya ngomongnya. Sendirinya juga jumpalitan sama diri sendiri.
BalasHapusSalam kenal teh Zahra. Selamat bergabung di MGN
Gaya menulisnya unik juga nih Zahra.
BalasHapusAku sukaaa gaya penulisannya. Tulisan yang pendek tapi sungguh kontemplatif.
BalasHapus