Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

kok

Entah tanggal berapa hari itu, yang jelas April 2026. Kunaiki kereta jalur Yamanote hingga Shinagawa, lalu bus nomor 99 menuju Biro Imigrasi Regional Tokyo. Awalnya tentu aku ogah repot-repot berjalan kaki hingga Stasiun Meguro, apalagi jalan menanjaknya ampun-ampun. Kata Cio, sih, dahulu para biksu tinggal di sana, jadi mereka melatih fisik dengan melalui jalur curam itu sehari-hari. Sebenarnya, aku sudah nyaris menaiki bus dari dekat rumah, tapi saldoku tidak cukup dan aku tidak punya selembar seribu yen. Akhirnya, aku (yang sudah kepalang takut dengan wajah datar pak supir) memutuskan turun dari bus dan merasakan perjuangan biksu-biksu di masa lalu.

Setidaknya kemalanganku tidak bertubi-tubi ketika aku berhasil menaiki bus nomor 99 tepat waktu. Tidak perlu menunggu terlalu lama, walau tidak mendapat kursi juga. Aku sempat diajak bercakap oleh seseorang yang berdiri di depanku; ditanyai apakah bus ini benar ke biro imigrasi. Lantas aku mengangguk, selanjutnya ikut bertanya–bergumam sendiri sebenarnya–apakah bus ini menerima pembayaran kartu, yang direspons pula oleh kakak tadi. Tentu saja aku senang; aku kan ekstrover! Interaksi kecil begini membuat hati berbunga-bunga sekali.

Gongnya adalah ketika aku selesai mengantre di Biro Imigrasi dan disambut di loket. Awalnya, aku sedikit bingung karena seharusnya pergi ke loket A1, tetapi justru dipanggil oleh petugas A2. Wajah sang bapak Jepang sekali, sebelum tiba-tiba (setelah kuserahkan paspor dan KTP-ku) beliau menyerocos, “Di sini juga bisa, kok!” Hah? “Iya, di loket A2 ini juga bisa! Oh, kamu mahasiswa, ya? Dari Medan? Saya belum pernah ke Medan! Kemarin dengar-dengar Sumatera banjir, ya? Rumah kamu tidak apa-apa?”

Aku tahu kemampuan bahasa Jepangku jelek sekali, jadi aku sudah ancang-ancang menggunakan bahasa Inggris; bahasa isyarat pun boleh, dengan sekujur tubuhku dari kepala sampai kaki, bahkan aku akan salto kalau perlu. Jadi, siapa sangka aku akan menggunakan bahasa ibu? Sampai mataku ikut tersenyum, aku menjawab pertanyaan beliau satu per satu–bercengkerama dengan hangat, sebelum aku diberi nomor dan diminta menunggu.

Sofa-sofa di sudut ruangan itu nyaris penuh, jadi aku menyelip sana-sini untuk duduk di sedikit kosong yang tersisa. Untunglah di dekat jendela sehingga ponselku mendapat sinyal; kalau tidak salah di dekat kipas angin juga, jadi tidak terlalu gerah. Akhirnya aku menunggu sekitar dua jam–kalau dipikir, lama sekali, ya? Mana aku tidak membawa tablet. 

Namun, terima kasih technologia, dua jam berlalu begitu saja karena aku melanjutkan pekerjaan di ponselku–membuka Google Document, membalas pesan dan surel, bahkan sempat mengirim lamaran untuk pekerjaan paruh waktu di sebelah rumah. Aku juga bermain mata dengan gadis kecil berkerudung bermata bulat berhidung bangir yang awalnya menangis kencang sekali; tapi setelah anteng, dia setengah berdiri di sofa di depanku seraya menghadap belakang (alias ke arahku), lalu ikut merespons setiap ekspresi genit yang kubuat untuknya. Lucu sekali; terbersit keinginan untuk kubawa pulang, tapi tentu aku tidak mau berurusan dengan polisi di sini.

Aku sedikit berdebar cemas ketika seharusnya jam kerja Biro Imigrasi sudah selesai, tapi nomorku tidak kunjung dipanggil–lebih ke cemas membayangkan kalau aku harus melanjutkan ini di lain hari, bolak-balik ke sini menaiki kereta, bus, kereta, bus. Namun, memang dasar ketakutan itu banyaknya di kepala, seketika berbagai nomor muncul di layar, termasuk milikku, jadi aku buru-buru mengantre dan akhirnya mendapatkan kembali paspor dan KTP, kali ini sudah memuat stempel yang mengizinkanku bekerja paruh waktu.

Sejujurnya aku belum makan seharian, jadi tanganku sudah tremor dan aku lanjut buru-buru membeli onigiri, sebelum memakannya dengan rakus di halte dan dengan sengaja tidak menaiki bus yang sudah menunggu. Alah sudahlah, toh busnya datang setiap sekian menit dan kalau aku menaiki bus yang saat itu, aku harus berdiri. Capek sekali, nanti kalau aku jatuh dan pingsan bagaimana, tentu tidak akan ada pangeran berkuda putih yang akan menggendongku–ya tentu saja, suamiku kan sedang di kantor dan dia tidak bisa naik kuda. Jadi aku pun duduk manis di halte, menjadi pengantre pertama untuk bus selanjutnya.

Bus 99 kembali datang dan, oh, benar-benar tersisa satu kursi. Aku lupa kalau Biro Imigrasi ini bukan perhentian pertama, jadi wajar saja bangkunya nyaris terisi semua. Akhirnya kuputar musik sembari menunggu tiba aku di Stasiun Shinagawa, sedikit mengantuk karena baru selesai makan, tapi masih kusadari lorong bus semakin lama semakin ramai, bahkan pak supir berulang kali meminta agar penumpang mengisi sela-sela bangku hingga ke paling belakang. Terdengar pula suara anak yang menangis, membuatku berpikir haruskah aku berdiri dan memberikan kursi kepada bapak dan balita itu, tapi saking ramainya aku tidak yakin ada ruang untuk aku berdiri dan bergerak bertukar posisi dengan mereka. Ya sudahlah, bangku ini sudah jadi rezekiku; memang rezeki itu tidak ke mana dan yang ke mana-mana itu ya tidak rezeki, batinku.

Selanjutnya tidak ada yang istimewa dari Shinagawa ke Meguro. Palingan aku dibiarkan menyeberang terlebih dahulu dan disenyumi oleh bapak-bapak yang membawa troli besar–sepertinya beliau pekerja di salah satu outlet depachika Meguro. Lagi-lagi, tentu saja aku senang sekali dengan interaksi-interaksi kecil seperti ini. Langkahku semakin ringan, apalagi kali ini aku hanya perlu menuruni jalanan curam di dekat kuil (tidak lagi mendaki gunung lewati lembah seperti Ninja Hattori).

Lalu apa kesimpulan dari sepuluh paragraf di atas–aku bahkan tidak sadar sudah menulis sebanyak itu; tidak seperti biasanya. Mungkin sama halnya dengan sesuatu tidak biasa yang baru kusadari menjelang tiba di rumah: tidak biasanya aku mendengar tanpa pilih-pilih, membiarkan mengalun saja apapun yang terputar dari akun YouTube Music-ku. Selain soal makanan, aku juga picky soal lagu. Kalau tidak lagu Riize, TWS, Gyuvin, atau lagu-lagu familiar lainnya, aku langsung melewatkan ke lagu selanjutnya–bahkan pada masanya ada satu lagu yang kudengar dua minggu nonstop. Akan tetapi, banyak melodi baru yang kubiarkan berputar di kupingku barusan. Kenapa, ya?

Aku juga baru sadar bahwa walau menunggu cukup lama untuk urusan administrasi yang harusnya membosankan (bahkan membuat banyak orang memberikan review buruk di Google Maps untuk Biro Imigrasi Regional Tokyo) (bahkan hingga powerbank-ku kehabisan baterai sementara ponselku dayanya tidak sampai setengah), sepertinya tidak timbul sedikit pun rasa kesal. Salut juga, ya, pikiranku sepanjang hari itu tidak mengaduh seperti “Kok, lama banget, sih!” atau “Kok, baterainya udah habis aja!” Alih-alih, sepanjang hari rasanya cerah sekali dan aku kerap berpikir, “Petugas Imigrasi ramah-ramah, kok!”, “Baterai handphone-ku masih 50%, kok!”, “Dua jamku tidak sia-sia karena aku bisa nunggu sambil kerja, kok!”, “Tadi ada anak kecil lucu dan mau ‘main’ sama aku, kok!” , “Aku bisa duduk di bus, kok!”, bahkan “Ada stranger yang senyum ke aku, kok!”

Kurang lebih tiga minggu berlalu sejak hari itu, tapi aku belum bertemu lagi dengan hari yang sama “cerah”-nya. Lagi-lagi, aku tidak tahu kenapa pastinya. Apa mungkin hanya soal mindset? Tergantung pada apa yang kupilih untuk kufokuskan (dan kebetulan hari itu aku berhasil memilih fokus yang benar)? Kalau aku memilih melihat hal-hal yang bisa kusyukuri, juga menyalurkan energi hanya ke apa-apa yang bisa kulakukan, hari yang seperti biasanya pun berlalu dengan menyenangkan sekali: isi kepalaku tidak penuh dengan “kok …”, tapi justru dengan “... kok!”–oh, dan tentu saja, jadi bisa menerima lagu apapun yang berdendang dari earphone-ku!

P.S. Tulisan ini lahir karena aku tidak mau kalah dari Cio yang fokus sekali ngoding-ngoding itu, jadi aku ikut pura-pura sibuk saja (fake it until you make it!) dan ternyata bisa selesai juga Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Mei 2026 ini sekali duduk (walau sudah mulai tercium aroma-aroma staf Komeda Shinjuku mengusir kami secara halus--soalnya memang sudah mau tutup 😸)



Komentar

  1. Hari yang sibuk, tapi alhamdulillaah menyenangkan

    BalasHapus
  2. Senangnya jika hari kita baik baik saja, walau tak biasanya. Sehat sehat ya Teh...

    BalasHapus
  3. Interaksi-interaksi kecil dengan orang asing kadang menghangatkan hati ya teh. Dan senang karena bertemu dengan orang-orang yang baik sekali

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...