Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

October, Right Here, Daylight

My student recommended this song and I had to write this down right away, because if I die at 27, that's only two years from now. Just yesterday, while scrolling on social media, I came across a post asking: what would you do if you died tomorrow?

I read Seneca's How to Die two or three times, unlike me, who usually watches a movie or reads a book only once. Since then I've stopped fearing death, though not in the sense that I don't care. Three or four years ago, I would simply have liked this song. I believed I needed nothing, and whenever I flew, I kept thinking it wouldn't be so bad if the plane crashed.

Now I still need nothing more, but not because I want to die. There's nothing I feel I must chase, yet it isn't out of bitterness. Maybe someday I'll cross the overpass in Higashi-Fushimi, Kodaira, Fujimidoori, and the shopping district, or go abroad again and pass the street vendors in Stockholm, Kiruna, and the cobbled streets of Gamla Stan. I hope I won't be in an "it doesn't matter" state by then. Isn't happiness alive even in small things?

No, I think it doesn't live in the things, but in me. Whenever I realize I have it, or decide "this matters," then everything can matter.

Not everything is in our control, but don't we have some free will? Maybe not all the freedom in the world, yet even choosing to write this is mine. My freedom. Maybe my happiness, too. If I let it.

So... what a song. My heart thumps as I listen to this Yorushika piece. But as someone who always reads lyrics and contemplates them, I don't want to go back to being the one who kept telling himself "I'm the worst." I'm not. Nobody is. We all have our good and bad. But even then, isn't it me who decides which is which?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...