Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"


Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya,

"Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin?"

Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan" atau "menyampaikan sebuah jawaban" atau "membawa pernyataan ke tempat lebih tinggi agar bisa dilihat orang lain"; walau saat dicari di Google, sih, temuan saya mentok-mentok di ragam arti "uttara" saja. Jadi apakah secara etimologi benar ataukah cocokologi belaka atau betulkah adanya pilih kasih pada mata angin? Wallahu a'lam.

Namun, menyusul persoalan utara-selatan-barat-dan-timur, saya jadi terpikir adakah kata penunjuk arah lain yang dapat dimaknai berbeda. Karena kali ini saya di dalam burung besi raksasa, saya tidak bisa bertanya pada si Gemini-Gemini itu; tapi ternyata aplikasi KBBI berguna juga di situasi begini (terima kasih ya developer sudah bikin KBBI bisa diakses offline!).

Kata penunjuk arah lain yang menyita pikiran saya di pukul 23.28 SGT ini adalah atas dan bawah, apalagi kalau diberi konfiks meng-i. "Mengatasi" lantas bertambah arti menjadi menguasai dan mengalahkan; tapi masih bisa dipahami karena orang-orang yang berada di ataslah yang berkuasa, sebagaimana orang-orang yang menang memang adanya di "atas" orang-orang yang kalah. 

Kalau "membawahi"? Yang terlintas di benak saya adalah "departemen itu membawahi delapan divisi". Akan tetapi, kok agak aneh, ya? Kan tidak bisa dibalik menjadi "delapan divisi mengatasi departemen itu".

Ternyata, oh, ternyata, selama ini saya salah! Yang benar adalah "membawahkan"! Misalnya (yang tercantum pula di KBBI): komandan itu membawahkan 160 orang anak buah. Entri "membawahi" sendiri punya definisi "menjadi di bawah" yang sayangnya tidak dilengkapi contoh kalimat apapun.

Namun, tetap saja melekatkan imbuhan me-kan pada atas sebagai antonim bawah tidak memberi makna yang sama. Maksud saya, kata mengataskan rasanya aneh saat dipakai dalam "sebanyak 160 anak buah mengataskan komandan itu". Kalau pun demikian, maknanya menjadi 160 anak buah yang meninggikan atau memandang lebih tinggi sang komandan. Masih masuk akal, tapi berbeda dengan rencana awal saya. Ya sudahlah, sepertinya kalau ingin "membalik", cukup dimasifkan dengan menggunakan di- seperti biasa, tidak perlu ngide-ngide mengggunakan antonim si kata dasar. 

(Ah, tapi "sebanyak 160 anak buah dibawahkan komandan itu" juga aneh, ya? Atau "sebanyak 160 anak buah dibawahi komandan itu"? Ya sudahlah, paling tepat memakai yang lazim-lazim saja: "sebanyak 160 anak buah dikepalai komandan itu".)

Akhir kata, apa ya ... Saya jadi bingung. Bahasa Indonesia ini menarik sekali--atau lebih tepatnya, bahasa apapun ketika menemu homonim-homonim begini memang menarik sekali. Misal, "Singapore is a fine city", apakah berarti Singapura adalah kota yang sangat baik atau kota yang dipenuhi (ancaman) denda? Wow, sungguh suatu "kebetulan" saya menulis jokes bermuatan homonim tersebut tatkala penerbangan ini memang bertolak dari sang fine city.

Oh, mari menutup dengan "ternyata, oh, ternyata" yang lain--dengan kembali pada persoalan arah mata angin. Kali ini saya mengambil "tenggara", mengingat sepertinya ungkapan "menenggarai" lazim disebut-sebut. Apa sebenarnya menenggarai? Ternyata, oh, ternyata bukan "menenggarai", melainkan "menengarai" dengan hanya satu "G"! Lantas apakah "tengara" sebagai kata dasar menengarai punya hubungan dengan "tenggara" mata angin?

Tentu saja, lagi-lagi wallahu a'lam--sungguh tidak ada apa-apanya pengetahuan saya yang sudah mengantuk berat ini dibandingkan milik-Nya yang tidak pernah mengantuk apalagi tertidur. Gusti Allah mboten sare, kan?

Selamat tidur dari Singapura, 20 April 2026! 

Walau tentunya saat saya mengepos ini, tengaranya saya sudah dapat mengakses internet, mendarat dengan selamat, dengan matahari yang sudah menyingsing.

--lantas dari manakah asal kata "singsing"? Apakah ada hubungannya dengan sing 'menyanyi' sehingga apabila mentari sudah bersingsing, kita harus bersyukur seraya "ber-sing-sing" alias bernyanyi-nyanyi? Wallahu a'lam (untuk ketiga kalinya dalam tulisan ini).

P.S. Mengejar Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog April 2026 di bangku Tomoro cabang National University Hospital dan kursi baris 26E Scoot--ah, dipikir lagi, beberapa kali bertandang ke sini pun, belum jua saya lihat Merlion dengan mata kepala sendiri ๐Ÿ˜ฟ

Komentar

  1. Dari utara jadi ke mana2 ini tulisannya! Hahaha ๐Ÿ‘๐Ÿ‘
    Semoga lancar segala urusannya ๐Ÿค—

    BalasHapus
  2. Jadi ingat pernah dapat ide dari Mas untuk nama homestay kami di Yogya. -Tara: dari utara. Alasannya karena berada di utara Yogya arah ke Gunung Merapi. Namun, nama ini tak jadi dipakai karena suami merasa nama Tara atau utara itu dekat dengan Tari atau untari hahaha ... Itu nama sepupunya loh! Memang otak ini kadang melanglang buana saat menemukan kata yang menarik.

    BalasHapus
  3. Filosofis sekali hahaha ๐Ÿ˜ƒ

    BalasHapus
  4. Ck ck, aku ngga pernah kepikiran kenapa 'utara' namanya 'utara'. Anak saya baru aja bertanya asal kata tertentu. Kebetulan saya pernah nonton film dari kisah asli pembuatan kamus bahasa Inggris, ternyata memang per kata itu ada history-nya sendiri

    BalasHapus
  5. Iya juga ya ahaha. Teh, kok ya kepikiran aja mengutarakan isi pikiran tentang "mengutarakan" ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...