- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin?"
Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudata percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan" atau "menyampaikan sebuah jawaban" atau "membawa pernyataan ke tempat lebih tinggi agar bisa dilihat orang lain"; walau saat dicari di Google, sih, temuan saya mentok-mentok di ragam arti "uttara" saja. Jadi apakah secara etimologi benar ataukah hanya cocokologi belaka atau betulkah adanya pilih kasih pada mata angin? Wallahu a'lam.
Namun, menyusul persoalan utara-selatan-barat-dan-timur, saya jadi terpikir adakah kata penunjuk arah lain yang dapat dimaknai berbeda. Karena kali ini saya di dalam burung besi raksasa, saya tidak bisa bertanya pada si Gemini-Gemini itu; tapi ternyata aplikasi KBBI berguna juga di situasi begini (terima kasih ya developer sudah bikin KBBI bisa diakses offline!).
Kata penunjuk arah lain yang menyita pikiran saya di pukul 23.28 SGT ini adalah atas dan bawah, apalagi kalau diberi konfiks meng-i. "Mengatasi" lantas bertambah arti menjadi menguasai dan mengalahkan; tapi masih bisa dipahami karena orang-orang yang berada di ataslah yang berkuasa, sebagaimana orang-orang yang menang memang adanya di "atas" orang-orang yang kalah.
Kalau "membawahi"? Yang terlintas di benak saya adalah "departemen itu membawahi delapan divisi". Akan tetapi, kok agak aneh, ya? Kan tidak bisa dibalik menjadi "delapan divisi mengatasi departemen itu".
Ternyata, oh, ternyata, selama ini saya salah! Yang benar adalah "membawahkan"! Misalnya (yang tercantum pula di KBBI): komandan itu membawahkan 160 orang anak buah. Entri "membawahi" sendiri punya definisi "menjadi di bawah" yang sayangnya tidak dilengkapi contoh kalimat apapun.
Namun, tetap saja melekatkan imbuhan me-kan pada atas sebagai antonim bawah tidak memberi makna yang sama. Maksud saya, kata mengataskan tidak bisa dipakai dalam "sebanyak 160 anak buah mengataskan komandan itu". Kalau pun dipakai demikian, maknanya menjadi 160 anak buah yang meninggikan atau memandang lebih tinggi sang komandan. Sepertinya kalau ingin memasifkan, cukup dengan cara yang biasa saja menggunakan di-, tidak perlu ngide-ngide mengggunakan antonim si kata dasar. (Ah, tapi "sebanyak 160 anak buah diataskan komandan itu" juga aneh, ya? Apa harusnya "sebanyak 160 anak buah diatasi komandan itu"? Ya sudahlah, paling tepat memakai yang lazim-lazim saja: "sebanyak 160 anak buah dikepalai komandan itu".)
Akhir kata, apa ya ... Sebenarnya saya juga bingung. Bahasa Indonesia ini menarik sekali--atau lebih tepatnya, bahasa apapun ketika menemu homonim-homonim seperti ini jadi nenarik sekali. Misal, "Singapore is a fine city", apakah berarti Singapura adalah kota yang sangat baik atau kota yang dipenuhi (ancaman) denda? Ah, sungguh suatu "kebetulan" saya menulis jokes bermuatan homonim tersebut tatkala penerbangan ini memang bertolak dari sang fine city.
Oh, mari menutup dengan "ternyata, oh, ternyata" yang lain--dengan kembali pada persoalan arah mata angin. Kali ini saya mengambil "tenggara", mengingat sepertinya ungkapan "menenggarai" lazim disebut-sebut. Apa sebenarnya menenggarai? Ternyata, oh, ternyata bukan "menenggarai", melainkan "menengarai" dengan hanya satu "G"! Lantas apakah "tengara" sebagai kata dasar menengarai punya hubungan dengan "tenggara" mata angin?
Tentu saja lagi-lagi wallahu a'lam--sungguh tidak ada apa-apanya pengetahuan saya yang sudah mengantuk berat ini dibandingkan milik-Nya.
Selamat tidur dari Singapura, 20 April 2026!
Walau tentunya saat saya mengepos ini, tengaranya saya sudah dapat mengakses internet, mendarat dengan selamat, dengan matahari yang sudah menyingsing.
--lantas dari manakah asal kata "singsing"? Apakah ada hubungannya dengan sing 'menyanyi' sehingga apabila mentari sudah bersingsing, kita harus bersyukur seraya "ber-sing-sing" alias bernyanyi-nyanyi? Wallahu a'lam (untuk ketiga kalinya dalam tulisan ini).
P.S. Mengejar Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog April 2026 di bangku Tomoro cabang National University Hospital dan kursi baris 26E Scoot--ah, dipikir lagi, beberapa kali bertandang ke sini pun, belum jua kulihat Merlion dengan mata kepala sendiri 😿

Komentar
Posting Komentar