Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

soal menerima


Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan.

Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian (aku lupa), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah (padahal saat itu musim dingin). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku suka perpustakaan; hening, tidak merogoh kocek, dan deretan buku yang dalam gemingnya tidak akan menghakimiku.

Akan tetapi, menaiki gerbong kereta pun aku masih merasa gelisah. Apakah orang-orang tidak suka dengan kulitku yang tidak seputih mereka? Mataku yang tidak sesipit mereka? Hidungku yang tidak semancung mereka? Padahal sudah kukenakan topi dan masker, pun pakaianku yang serba panjang sebenarnya sangat masuk akal di suhu nyaris tidak dua digit itu. Namun, tetap saja, perasaan ditelanjangi dan dinilai orang-orang sekitar menjalari sekujur badanku. Kenapa, ya; aku juga tidak tahu.

Kepala yang semrawut itu tidak sadar perpustakaan sentral Tokyo ternyata dikelilingi sebuah taman memorial. Apakah Tuhan tahu hatiku yang kacau balau memang butuh ketenangan di tengah kota metropolitan seperti ini? Tentu saja, Dia kan Maha Tahu. Jadi aku duduk di sana, melihat anak-anak kecil dan remaja entah bermain kasti, bertanding sepak bola, atau sekadar berkejaran satu sama lain.

Loh, kenapa semuanya tampak "berbeda"?

Sebagian berkulit putih dengan surai sama putihnya. Sebagian tampak lebih eksotis dengan rambut ikal, netra bulat, dan kelopak mata yang lipatannya tebal berlapis-lapis. Sebagian irisnya seperti lensa kontak kalau dibandingkan dengan milik orang-orang Indonesia. Dibanding Osaka yang pernah kutinggali empat bulan, aku tahu Tokyo memang lebih heterogen, tapi apakah sebermacam rupa ini?

Semuanya tampak menikmati aktivitasnya masing-masing. Bukan hanya anak-anak; pasangan lansia yang rupanya sangat kebarat-baratan yang menyisiri jembatan kecil di atas aliran sungai, dua tiga paruh baya berbeda ras yang berbincang dalam bahasa Inggris, juga suami istri yang memanggil anaknya dengan kata demi kata yang aku tak tahu artinya--sepertinya, sih, menyuruhnya lekas pulang.

Oh, pantas saja. Tatkala kuperiksa Maps pada gawaiku, Taman Memorial Arisugawa-no-miya ini dikelilingi gedung-gedung kedutaan besar yang sudah tak bisa kuhitung dengan sepuluh jari tangan (mungkin bisa kalau jemari kakiku ikut serta). Dari negara-negara Eropa seperti Jerman dan Finlandia; sampai negara-negara Asia, entah Selatan seperti Pakistan, atau Barat Daya bak Oman, bahkan sesama Timur umpama Korea dan Cina.

Lantas apa masalahnya kalau berbeda; apa salahnya kalau memang tidak tampak seperti penduduk asli, toh memang bukan dari sini aku berasal; kalau-kalau seburuk-buruknya pun aku tidak pernah diterima, lantas kenapa? Apakah aku harus selalu diterima? Apakah mereka memang tidak menerima? Atau aku yang tidak menerima diri sendiri?

Tanpa tahu beberapa bulan setelah itu aku akan bekerja di Marunouchi dan atasanku yang berasal dari Chiba akan memuji corak kerudungku yang manis, detik itu aku seperti menemukan diriku--entah dia sempat hilang, atau memang baru terbentuk di momen itu. Merasa cukup mengitari taman memorial yang dari ujung ke ujung hijaunya menenangkan mataku (dan pikiranku, dan perasaanku), aku memasuki perpustakaan sentral, membalas senyum penjaga meja depan, merasa percaya diri dengan paras puan Asia Tenggara pada umumnya, serta atribut seorang pemeluk Islam yang mungkin agak berbeda dari sekitarku saat itu, tapi itulah yang melekat pada diriku.

Mungkin sesekali aku masih akan kembali dihinggapi kecemasan, kesepian, kesedihan, kelebat pertanyaan serupa yang padahal sebelumnya mampu kujawab. Namun, kenangan sore itu juga akan kupanggil kembali untuk menemani, membersamai pencarian jawab-jawab selanjutnya--menghangatkan relung hati dengan kesadaran bahwa, barangkali, sebelum meminta orang lain memberiku penerimaan, akulah orang nomor satu yang perlu menerima diri ini.

Bonus: potret elok Taman Memorial Arisugawa-no-miya usai pergumulanku dengan dilema menerima-tidak menerima, 25 Februari 2025.

P. S. Tulisan ini lahir karena aku tidak bisa tidur di antara pekat kabut dan rintik hujan yang menghiasi jalan tol menuju Venetie van Java, tapi setidaknya aku jadi bisa menunaikan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog 🤍

Komentar

  1. Hallo Zahra, terimakasih sudah berbagi cerita Zahra ya. Saya sedikit bisa memahami "kegalauan" yang Zahra rasakan di tempat baru. Karena hal yang sama juga selalu saya rasakan :). Tapi katanya manusia adalah mahluk yang paling mudah beradaptasi, jadi semua hanya soal waktu.

    Selamat berpuasa ya, dan enjoy your stay in Semarang ? mudah-mudahan betul hehe, the Venetie van Java.

    BalasHapus
  2. Venetie van Java, julukan kolonial Belanda pada Kota Semarang.
    Alhamdulillah, teh Zahra bisa mendapatkan hikmah dari perjalanan ke Negeri Sakura. Sungguh kita diciptakan berbeda untuk saling mengenal.

    BalasHapus
  3. Perjalanan menerima diri itu memang selalu kelihatan sulit ya. Suka malu atau takut mengakui/ diketahui kelemahan diri. Padahal yaa manusia mana sih yang gak punya kekurangan. Gaya sih saya ngomongnya. Sendirinya juga jumpalitan sama diri sendiri.
    Salam kenal teh Zahra. Selamat bergabung di MGN

    BalasHapus
  4. Aku sukaaa gaya penulisannya. Tulisan yang pendek tapi sungguh kontemplatif.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...