- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Entah berapa banyak syukur perlu saya haturkan untuk kemudahan berbincang dengan Teh Diyah. Orang bilang psikolog tak ubahnya jodoh–cocok-cocokan; tapi dari semua psikolog yang saya rasa cocok-cocok saja, Teh Diyah adalah yang paling cocok. Saya sampai sering berpikir, "Emang boleh tidak merogoh kocek begini?" (red: tidak berbayar karena merupakan hak konselor sebaya di Ruang Curhat). Lantas, dari dialog kemarin malam yang baru saya ajukan sehari sebelumnya (aduhai, psikolog mana lagi, ya, yang reservasinya boleh secepat itu, se-H-1 itu...), yang paling berkesan adalah kala beliau berujar, “Kalau Zahra ketemu kelebihan Zahra yang lain, atau bahkan akhirnya punya kelebihan baru, siap-siap juga punya kekurangan baru sebagai konsekuensinya, yaa.”
Harusnya saya tidak kaget. Diingat-ingat, saat masa-masa wawancara kerja, saya menjawab pertanyaan kelebihan dan kekurangan dengan menyebutkan tiga sifat saya, yang dari setiap sifat tersebut lahir kelebihan bersamaan dengan kekurangannya. Contoh, sebagai seseorang yang cukup sensitif, saya optimis bisa read the air ‘membaca situasi’ dengan baik. Apalagi sebagai mahasiswa di Tokyo sekarang, kekuatan itu membantu saya (misalnya) menerjemahkan “it is highly appreciated if you …” dari Sensei sebagai sebuah order yang sebenarnya maksud beliau harus saya lakukan. Namun, di sisi lain, saya bisa cukup lama terguncang jika menerima teguran yang cukup eksplisit–ah, yang implisit pun sebenarnya sama saja. Sebenarnya lagi-lagi plus dan minus, karena saya bisa “tidak tidur” perkara overthinking kata-kata profesor, tapi untungnya saya jadi cukup “mudah” belajar dari “kesalahan”.
Lantas hari ini, sejak siang, saya mengikuti acara penyambutan beswan MEXT di Odaiba yang membuat saya sadar betapa teman seperjuangan saya punya banyak sekali teman–sepertinya karena satu asrama. Saya yang ekstrover ini sedikit banyak iri, soalnya saya tidak punya “teman asrama” karena tinggal di apartemen bersama suami. Padahal, dulu saya bercita-cita menjadi resident advisors (?) a.k.a RA yang berarti syaratnya harus tinggal di asrama kampus. Sebenarnya saat itu karena saya (lagi-lagi) iri melihat teman saya yang kok kayaknya keren, ya, menjadi RA? Lantas saya setelah tinggal di sini bersama suami, jangankan soal teman baru, kemampuan bahasa Jepang saya pun jadi segini-segini saja karena selalu, terlalu mengandalkan suami untuk ini dan itu.
Tapi memang dasar manusia sukanya menyalahkan keadaan. Padahal, di minggu-minggu pertama tiba di sini dan berjumpa dengan sesama beswan dari Indonesia, lalu berjalan dan bercengkerama dari kampus hingga taman di dekat stasiun, beliau (dengan gaya bicaranya yang jenaka dan terkadang hiperbola) terang-terangan mengemukakan keiriannya pada saya. Katanya seperti hidup dalam mimpi, seperti mudah sekali. Tidak salah juga, soalnya untuk mengurus KTP dan kartu asuransi, saya tidak repot-repot mencari teman atau berkoordinasi dengan tutor dari kampus untuk menemani di balai kota. Bahkan sejak tiba di bandara, saya dijemput suami, lalu koper saya diangkut untuk dikirim menggunakan jasa kurir saja, lalu segera ke balai kota, dan lanjut berbulan madu–kebetulan ketibaan saya di Jepang hanya tiga hari setelah menikah. Mengurus stempel izin bekerja paruh waktu pun sama; semua dokumen dicari tahu, diisikan, dan disiapkan suami; saya juga ditemani saat kali pertama ke Imigrasi (dan hanya perlu tersenyum menghadapi petugas karena suami yang menjawab semua pertanyaan). Kali kedua ke Imigrasi untuk finalisasi stempel memang saya dilepas sendiri, tapi karena sudah tahu ini dan itunya (ditambah lagi saya ditakdirkan bertemu petugas yang entah bagaimana bisa berbahasa Indonesia), benar-benar seperti tidak ada pening-peningnya, ya.
Akan tetapi, kembali ke yang disampaikan Teh Diyah, benar adanya di balik setiap kelebihan selalu ada kekurangan. Dua di antaranya adalah jadi kehilangan tekanan untuk belajar bahasa Jepang, juga tidak punya “teman sebanyak itu” karena apa-apa tentu saya prioritaskan untuk dilakukan bersama suami.
Namun, selain soal “bersama kelebihan ada kekurangan” (ah, seperti surah al-Insyirah saja: bersama kesulitan ada kemudahan), Teh Diyah juga sebenarnya menyampaikan saran agar saya switch perspektif-perspektif negatif menjadi lebih positif. Jadi, kebalikan dari apa-apa yang baru saya tulis, harusnya memang saya tetap (lebih) fokus pada kelebihan, kekuatan, nikmat, serta syukur saja (soalnya selama ini isi kepala saya sepertinya lebih banyak negatifnya). Contoh, alih-alih merenung betapa “sedikit”-nya teman yang saya miliki di sini (yang sebenarnya tidak juga), mestinya saya (sangat) bersyukur tinggal di perantauan dengan bestie sekaligus teman hidup saya. Diingat lagi, semasa saya masih lajang dan tinggal nun jauh di Bandung pun (karena orang tua saya menetap di Sumatera), tentunya saya senang sekali bisa bersama teman-teman–tapi sedekat apapun teman, atau bahkan sahabat, masih ada batas-batas yang tidak bisa saya lakukan sebagaimana ke pasangan. Sesederhana saat bermimpi buruk di malam hari, tanpa sungkan saya bisa membangunkan suami, bahkan menangis dan meminta dipeluk–sesuatu yang tidak pernah (dan tidak bisa) saya lakukan ke sahabat sekosan saya. Saya tidak tahu sejauh mana orang lain bisa bersahabat, tapi memang orang tua saya pun pernah berkata bahwa sedekat apapun dengan teman, akhirnya kita hanya akan “kembali” pada keluarga.
Sama halnya dengan kemampuan bahasa, tanpa menafikan bahwa saya harus lebih keras dan konsisten belajar, harusnya saya bersyukur saja bahwa saya yang kemampuan bahasanya terbatas ini tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti untuk pindah ke Tokyo, seperti urusan administrasi atau bahkan urusan mencari tempat tinggal.
Namun, lagi-lagi seperti yang pernah Teh Diyah sampaikan ke saya, mungkin di pertemuan yang sudah agak lampau (mungkin tahun lalu?). Bersyukur itu tidak mudah, bahkan barangkali perlu masuk dalam untaian doa saya agar Allah memudahkan diri ini untuk bersyukur. Terkadang saya di masa sekarang merasa sulit dan bingung, “Bagaimana, ya, menghadapi Sensei?” Padahal, bagi saya di tahun lalu, matanya justru akan berbinar seraya bibirnya bergumam, “Oh, kita akan sudah punya Sensei? Kita bisa lolos beasiswanya?” Terkadang saya di masa sekarang berdecak kesal, “Kenapa, ya, Cio (suami saya) ngomongnya gitu?” Padahal, bagi saya di tahun lalu, lagi-lagi matanya mungkin akan berkedip-kedip lantas dengan menggebu-gebu berseru, “Oh, ngomongnya udah bisa langsung? Gak LDR lagi? Udah jadi suami?”
Akhir kata, sepertinya saya lupa menceritakan dari awal mengapa kisah ini yang saya angkat untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema “Perbedaan”. Awalnya, mungkin saya ingin berbagi perbedaan saya dengan teman-teman dalam mengarungi dua tiga bulan pertama di Jepang ini, dengan kemudahan-kemudahan saya melahirkan kesulitan lain bagi saya, sementara kesulitan-kesulitan orang lain justru memudahkan mereka di aspek lain. Namun, sepertinya tulisan ngalor ngidul ini juga menyinggung tentang perbedaan perspektif yang selaras dengan saran konselor saya kemarin; tentang saya yang selama ini terlalu sering berpikir negatif, padahal bisa loh menggunakan lensa yang berbeda dan menghasilkan pemikiran positif
(dan melahirkan syukur sebagaimana semestinya).
Semangat tetehhh
BalasHapusSelamat mencoba-coba kacamata! 🤗
BalasHapusTeh Zahra, somehow saya membaca tulisan Teteh sebagai bahan kontemplasi. Mengunakan lensa yang berbeda supaya bisa melihat sisi positif atas suatu hal, bersama kelebihan ada kekurangan, hingga perihal overthinking. Nuhun sudah menuliskannya ya Teh. Nuhun juga untuk Teh Diyah. 🙏🥰
BalasHapusTeh Zahra, semoga Allah mudahkan langkah Teh Zahra dalam perjalanan studi ini. Baik studi formalnya maupun studi "nonformalnya", menemukan arti baru untuk banyak hal. Semangat ❤️🥰
BalasHapus