Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Tipe-x Kamu Nggak Sendirian Lyrics

Ohayou~ 

Kesempatan kali ini, Miichan ingin berbagi lirik lagu dari Band Indonesia! Yap, biasanya Miichan berbagi lirik lagu Jepang atau Korea, 'kan? Tapi lagu ini adalah lagu kenangan Miichan yang sering Paman Miichan nyanyikan sekitar 6 - 8 tahun yang lalu.

Tampaknya Tipe-x tidak seterkenal layaknya Noah ataupun D'masiv, tapi lagunya benar-benar Miichan sukai banget ^^ Kisahnya tentang seseorang yang pergi meninggalkan seorang lagi sendirian. Tapi melalui lagu ini, seseorang yang pergi itu menyatakan bahwa ia tidak meninggalkan seseorang yang ditinggal itu sendirian :" Langsung saja, ya~

Kamu Nggak Sendirian
Bila ku tak di sini
Tetaplah kau bernyanyi
Dan bila ku t'lah pergi
Kenanglah yang terjadi

Pastikan padaku bahwa kamu
Kan baik-baik saja
Kar'na di setiap mimpiku
Pasti s'lalu ada kamu

Dengarkan dan rasakan
Lagu yang kuciptakan untukmu
Walau mungkin terdengar gak merdu
Tapi hanya untukmu

Kita pernah bersama di sini
Lalui hari penuh warna warni
Meski tak seindah pelangi
Tapi kita pernah bermimpi

Percayalah padaku
Meski di gelap malam
Kamu nggak sendirian
Dan semua bintang yang kutinggalkan
Temani kau sampai akhir malam

Dengarkan dan rasakan
Lagu yang kuciptakan untukmu
Walau mungkin terdengar gak merdu
Tapi hanya untukmu

Kita pernah bersama di sini
Lalui hari penuh warna warni
Meski tak seindah pelangi
Tapi kita pernah bermimpi

Percayalah padaku
Meski di gelap malam
Kamu nggak sendirian
Dan semua bintang yang kutinggalkan
Temani kau sampai akhir malam

Mungkin ini hanya sementara
Mungkin juga untuk selamanya
Tapi nanti jika kukembali
Kau harus ada di sini

Percayalah padaku
Meski di gelap malam
Kamu nggak sendirian
Dan semua bintang yang kutinggalkan
Temani kau sampai akhir malam

Percayalah padaku
Meski di gelap malam
Kamu nggak sendirian
Dan semua bintang yang kutinggalkan
Temani kau sampai akhir malam

Na na na na~

Na na na na~

Tipe-x Kamu Nggak Sendirian Lyrics

Bagaimana? Liriknya bagus, 'kan? ^^
Semoga bermanfaat dan terima kasih atas kunjungannya!

Source here

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...