Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Bosan Bersekolah? Yakin?

Minna~! Konban wa~!

Adakah yang saat ini masih menjadi seorang pelajar? Well, Miichan rasa ini tidak perlu dipertanyakan lagi, ya. Miichan yakin 50% (atau lebih?) yang membaca ini adalah masih menjadi seorang pelajar.

Dan, mungkin inilah perasaan nomor 1 yang paling sering dialami oleh kita yang masih menjadi seorang pelajar. Bosan bersekolah. Ya, kemungkinan besar dikarenakan rutinitas padat yang terus berulang selama 6 hari berturut-turut (atau ada yang 5 hari saja).

Dimulai dengan harus bangun pagi, bersiap-siap, berangkat ke sekolah, kemudian melakukan kegiatan yang sudah dijadwal di sekolah. Ada yang pulang jam 12 siang, tapi ada pula yang sampai jam 4 sore baru pulang. Belum lagi mereka yang mengikuti les dan yang mendapat PR dari sekolah / tempat les. Keesokan harinya pun mungkin saja seperti itu dan terus berulang-ulang.

Hari liburan yang pasti biasanya hari Minggu, tapi bahkan beberapa dari kita berkegiatan ekstra di hari ini. Contohnya saja Miichan yang di kelas 7 lalu, pernah merelakan beberapa hari Minggu Miichan untuk digunakan kerja kelompok. Kenapa? Karena tidak waktu yang cukup di hari Senin - Sabtu.

Melakukan hal yang sama secara terus menerus itu membosankan, iya 'kan?


Tapi, apa kita yakin hari-hari seperti ini benar-benar membosankan? Coba kita berpikir ulang. Masa sekolah itu adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidup, lho. Di saat itu, kita berputar di dalam 3+ hal. Yaitu belajar, persahabatan, cinta (umm.. kebanyakan untuk sekolah menengah ke atas), dan +bisnis bagi sebagian dari kita. Apakah kita yakin setelah kita menyelesaikan sekolah, kita bisa mendapatkan hal-hal itu.

Cobalah baca potongan lirik lagu "Kisah Kasih di Sekolah" berikut :

"Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa.
Masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah.
Tiada kisah yang paling indah, kisah kasih di sekolah..."

Lagu ini selalu membuat orang dewasa, termasuk orangtua kita kangen dengan masa sekolah mereka dulu. Bahkan tak jarang ada yang ingin sekali kembali ke masa itu. Oke, untuk lebih gampangnya, jangankan saat dewasa yang mungkin masih jauh. Bagi kakak-kakak yang sudah SMA, terkadang mereka merindukan masa-masa SMP. Dan terkadang pula yang sudah SMP merindukan masa SD.

Ya, kalian tahu 'kan, "penyesalan itu selalu datang di akhir"

Kenapa, ya, dulu aku di masa ini tidak menikmatinya? Aku merindukannya.
Kenapa, ya ... ?
Kenapa, ya ... ?

Mungkin saja banyak yang akan berpikiran seperti itu. Maka dari itu, boleh saja merasa bosan karena rasa bosan itu wajar menurut Miichan. Ya, tapi jangan sampai berlebihanlah. Pikirkan saja bahwa "di masa depan, aku pasti merindukan saat ini," dan gunakanlah saat ini sebaik-baiknya :D

Selain faktor itu, kita yang telah menjadi pelajar harusnya bersyukur. Bukannya merasa bosan sampai ada yang bolos sekolah. Coba lihat teman-teman kita yang lain, yang kurang beruntung sehingga tak bisa bersekolah dengan layak dan menyenangkan. Mereka yang kurang beruntung karena kurangnya dana. Atau mereka yang kurang beruntung karena kesehatan mereka yang terganggu, sehingga mereka tidak bisa bersekolah.

Kita harusnya sangat bersyukur, lho! Manfaatkanlah kesempatan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Bukannya menganggap sekolah itu tidak enak, sampai iri kepada mereka yang tidak sekolah dengan menganggap mereka "nyantai". Apa kalian tidak tahu bahwa mereka sebenarnya malah ingin bersekolah?

Tapi mereka yang berkata 'bosan sekolah' itu, sebenarnya jika diberi libur panjang akan merasa bosan (lagi) juga, lho. Contohnya saja saat liburan kenaikan kelas. Dan anggap saja kalian tidak berlibur ke mana-mana. Pasti kita merasa kesepian dan lebih bosan lagi. Sebosan apapun di sekolah, menurut Miichan lebih baik daripada bosan di rumah karena di sekolah kita memiliki banyak teman untuk diajak bercanda tawa. Iya, 'kan?

Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi kita, ya ^^ Ada yang punya tambahan? Tuliskan saja di kolom komentar, ya! ^^
Ganbatte kudasai, minna~!!

Jyaa.
Miichan.

Inspired by Hedi-san

Komentar

  1. Wah miichan, izin repost ya, creditnya insyaallah Nayyara tak akan hilangkan!! sangat bermanfaat, hehehe sebenernya aku gampang bosan sekolah loh miichan tapi bosan juga kalau liburnya kepanjangan, penasaran sama anak baru,kelas,guru dan teman2nya ituloh, apakah miichan juga sama seperti itu?-Nayyara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan di-repost asal diberi sumber, ya ^^

      Miichan juga gampang bosan. Kalau sedang liburan (bahkan saat weekend), Miichan kangen sekolah. Tapi giliran sekolah, pengen cepat-cepat libur. Kalau ada anak baru juga rasanya penasaran. Pokoknya Miichan itu selalu penasaran tapi bosanan juga =="

      Terima kasih sudah berkunjung dan bekomentar, ya, Nayyara ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...