Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

[FanArt] Samara & Azunyan (Chibi)

Minna~!

Miichan kembali membuaat fanart lagi. Kali ini dengan karakter Samara dan Azunyan. Samara itu setahu Miichan adalah hantu Jepang yang muncul di sumur / televisi. Mohon maaf kalau salah, ya! Dan Azunyan itu tokoh anime, meskipun Miichan tidak tahu dari anime mana. Karena Miichan tahu tokoh ini dari teman Miichan, Shacchi ^^

Ini dia fanartnya! ^^


Di sini Miichan mati-matian membuat gradasi arsiran pada rambutnya, serta membuat bayangan yang rapi dan terlihat bayangan seperti pada umumnya. Tapi Miichan rasa gagal, ya? Hehe ^^ Mohon kritik dan sarannya atas gambar ini, ya! Soalnya Miichan masih seorang pemula. Onegai shimasu!

Jyaa mata nee~ ^^

Komentar

  1. Aa.. Azunyan~ Kawaii~ >w<

    Mungkin maksud teman Miichan itu Azusa dari anime K-On!, Miichan :D Azusa sering disebut Azunyan karena unyu ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, ternyata Azusa dari K-On! ya ^^ Terima kasih atas informasinya, Annisa ^^ Dan terima kasih juga karena telah membaca dan berkomentar, ya~ :)

      Hapus
  2. Azunyan dari anime K-ON! Miichan ... Nama aslinya sih Azusa. Tapi dipanggil sama tokoh lain "Azunyan" karena Azusa cocok pakai bando telinga kucing! Kawaii~!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aa, souka ^^ Azunyan memang kawaii >w<

      Terima kasih informasinya, dan atas kunjungan dan komentarnya, ya, Ayesha ^^

      Hapus
  3. Kawaii art! Aku sih gak jago gambar, jadi gambar seperti itu menurutku sudah profesional.. Hoho~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Icha ^^ Dan terima kasih kembali untuk kunjungan dan komentarnya ^^

      Hapus
  4. Samara itu adalah hantu jepang yang ada di film The Rings, dan kebetulan kakakku namanya Tamara dan suka pakai baju yang tulisannya S, dan dia suka mengganti namanya menjadi Samara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, ternyata Samara itu hantu di film The Rings, ya! Terima kasih informasinya! Wah, kakaknya Erika unik, ya ^^

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya! ^^

      Hapus
  5. Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, ya ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...