Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Review Novel "Sherlock Holmes: Lembah Ketakutan"

Minna~! Konnichi wa!

Yap! Sebenarnya Miichan saat ini tengah mengalami krisis ide dalam mengisi blog. Well, sebenarnya tidak akan menjadi 'krisis' kalau Miichan tidak malas seperti ini '-'

Akhirnya Miichan memutuskan membuat review dari novel yang pernah Miichan baca, yaitu Lembah Ketakutan.

Judul : Sherlock Holmes: Lembah Ketakutan (The Valley of Fear)
Kategori : Novel Terjemah
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

"Suatu pagi, Sherlock Holmes menerima pesan dalam bentuk kode yang menginformasikan ancaman pembunuhan terhadap John Douglas di Manor House. Sayangnya Sherlock Holmes terlambat. Pada saat ia berhasil memecahkan kode itu, sudah terjadi pembunuhan terhadap John Douglas.

Sherlock Holmes dan Watson kemudian pergi ke lokasi kejadian di Sussex untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Penyelidikan mereka berhasil menyingkap rahasia besar di balik pembunuhan itu, dengan motif yang bermula di Amerika. Meskipun tidak punya cara untuk membuktikannya, Sherlock yakin Profesor Moriarty terlibat dalam hal ini, karena cuma Moriarty yang tertantang untuk menghabisi seseorang yang berkali-kali lolos dari maut."


Sebelumnya, biarkan Miichan memberitahu bahwa novel ini adalah novel dengan durasi membaca terlama bagi Miichan, yaitu seminggu. Ya, sebenarnya Miichan jarang membaca novel dan lebih senang membaca manga. Dan ini adalah novel ke-5 (atau ke-6?) yang mungkin Miichan baca. Tapi Miichan tidak memasukkan KKPK, PCPK, dan PinkBerry ke dalam hitungan novel yang Miichan baca, ya '-' Dan ini adalah novel terjemahan yang pertama kali Miichan baca.

Kalian tahu sendirilah bagaimana bahasa dari novel terjemahan Indonesia? Menurut Miichan, bahasanya (sekalipun baku) tetap lebih baik novel yang asli Indonesia. Selain itu, di novel ini banyak ditemukan kalimat yang sulit bagi Miichan. Tapi, Miichan senang telah berhasil (?) menamatkan novel ini! :D

Novel ini diawali dengan sebuah pesan yang sampai ke pada Sherlock dengan berbentuk kode, tanpa disertai pesan untuk kunci jawabannya dari seseorang bernama Porlock. Meskipun pada akhirnya Sherlock berhasil memecahkan kode tersebut bersama Watson sehingga menemukan kalimat "Ada bahaya yang akan segera datang Douglas kaya pedalaman sekarang di Birlstone House Birlstone kerahasiaan mendesak."

Kemudian Inspektur MacDonald masuk ke ruangan Sherlock dan melihat pemecahan kunci jawaban tersebut. Inspektur Mac kaget membacanya dan memberitahu bahwa Mr. Douglas telah dibunuh secara brutal semalam.

Lantas mereka bertiga pun mengobrol sebentar mengenai Profesor Moriarty (yang diduga adalah seseorang dibalik nama Porlock), kemudian segera pergi ke TKP karena waktu sudah beranjak siang. Setelah mendengarkan isi surat kepada Inspektur MacDonald di kereta di tengah perjalanan menuju TKP, Sherlock pun memutuskan untuk melacak hubungan antara orang yang sangat cerdas di London (Profesor Moriarty) dan orang yang tewas di Sussex (Douglas).

Sesampainya, ternyata TKP terjadi di dalam sebuah rumah yang.. umm.. dikelilingi oleh parit berair yang tidak begitu dalam. Dan rumah itu menggunakan jembatan tarik sebagai penghubung antara rumah dengan area di luar parit.

Douglas sendiri dibunuh di kamarnya menggunakan pistol. Dan yang sangat menonjol di sini, wajah Douglas sudah hancur karena ditembak oleh pembunuh. Tertarik membayangkannya? Ditemukan juga jejak sepatu boot dibalik tirai jendela yang diduga adalah jejak pelaku saat menunggu Douglas masuk ke kamar. Selain itu, cincin kawin Douglas pun telah hilang dari jarinya. Dan ditemukan juga pola lingkaran dengan segitiga di dalamnya di lengan Douglas.

Misteri di kasus ini sangat banyak, dan sama sekali akan membingungkan jika kalian membacanya secara tidak detail. Sesaat setelah kasus selesai, kita dibawa pula ke kasus 20 tahun yang lalu dengan latar Amerika Serikat.

Kasus ini masih terkait dengan kasus pertama, dan di sinilah kasus yang akhirnya memberi judul "Lembah Ketakutan" pada seri novel Sherlock Holmes yang ini. Kasus ini tak kalah seru dan lebih mencengangkan lagi daripada kasus pertama.

(Mungkin kalian harus memberi apresiasi kepada Sir Arthur Conan Doyle atas kehebatannya membuat plot sehingga tidak bisa ditebak!)

Meskipun epilognya tidak begitu Miichan mengerti, tetapi Miichan benar-benar suka terhadap novel yang satu ini. Karenanya, Miichan rekomendasikan "Lembah Ketakutan" ini jika kalian mencari novel misteri yang seru.

Nee, mungkin review ini sedikit kurang jelas. Mungkin itu karena Miichan tidak ingin memberi spoiler kepada kalian sebelum membacanya langsung :D

Semoga review singkat, padat, dan kurang jelas ini dapat menarik perhatian kalian ^^
Jyaa mata nee~

Komentar

  1. Hoho~ Aku liat novel ini waktu ke Gramedia terakhir kali :3

    Oh ya, Miichan tahu novel Sherlock Holmes yang ada kasus sandi gambar orang itu nggak? Kalau nggak salah sandinya itu ditulis di jendela rumah korban, novel yang mana, ya? .-. Rada-rada lupa, nih :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umm.. Miichan belum pernah baca. Tapi Miichan rasa itu ada di novel "Sherlock Holmes: Kembalinya Sherlock Holmes (The Return of Sherlock Holmes)" Semoga benar dan dapat membantu, ya! ^^

      Terima kasih sudah membaca dan berkomentar ^^

      Hapus
  2. Wah, aku juga pertama kali baca novel itu novel sherlock holmes tapi yang penelusuran benang merah. Awal mulanya holmes bertemu dr.watson.
    Dan sekarang ketagihan baca tuh novel. Hehe

    Salam kenal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Miichan juga pernah dengar tentang seri Sherlock Holmes yang itu, tapi Miichan belum menemukannya di toko buku dekat rumah Miichan :" Jadi pengen baca, nih! ^^

      Salam kenal juga~ :D Terima kasih sudah berkunjng dan berkomentar, ya, Erika ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...