Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Lirik Lagu "Si Patokaan" dan Maknanya

Minna, konbanwa!

Di kesempatan kali ini, Miichan ingin membagikan lirik lagu daerah dari Sulawesi Utara, yaitu "Si Patokaan". Dan pastinya nggak akan srek kalau belum dilengkapi makna dari liriknya. Oke, langsung saja! :D

~ SI PATOKAAN ~
Sayang sayang, Si Patokaan
Mantego-tego gorokan Sayang
Sayang sayang, Si Patokaan
Mantego-tego gorokan Sayang

Sako mangemo tanah man jauh
Mangemo milei lek lako Sayang
Sako mangemo tanah man jauh
Mangemo milei lek lako Sayang

Lagu ini memiliki pola penuturan pantun. Sementara maknanya sendiri adalah ungkapan perasaan cinta sekaligus khawatir dari seorang Ibu pada anaknya yang sudah beranjak dewasa dan telah wajib mencari nafkah sendiri, biasanya anak laki-laki. Perasaan khawatir ini erat kaitannya dengan sebab "sang anak hendak merantau". Jika dilihat lebih dalam, lirik lagu ini secara utuh mengandung doa dan motivasi. Oh ya, Si Patokaan sendiri berarti orang-orang yang termasuk dalam wilayah Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara.

Tetapi di larik ke dua, sang Ibu mulai mengisyaratkan sisi buruk dari kehidupan dengan tujuan mengingatkan dan memperlihatkan kenyataan bahwa manusia tak bisa terhindar dari pucat dan saat terseok-seok. Apalagi jika hidup di tanah yang jauh dan asing, pasti akan terasa lebih berat dan berbeda dibanding hidup di tanah sendiri. Di bagian ini, Ibu memperlihatan keadaan orang yang telah kalah dan sakit, serta lebih jauh lagi adalah orang yang telah meninggal.

Larik ke dua dan ke empat memiliki hubungan sebab dan akibat. Setelah menunjukkan sisi buruk dari kehidupan, Ibu pun mulai berpesan agar anaknya tidak menghadapi hal itu dengan menganjurkan anaknya berhati-hati.

Berikut ini adalah arti dari lagu Si Patokaan dalam Bahasa Indonesia :

~ SI PATOKAAN ~
Wahai sayangku, Si Patokaan
Orang-orang yang pucat dan berjalan terseok-seok, Sayang
Wahai sayangku, Si Patokaan
Orang-orang yang pucat dan berjalan terseok-seok, Sayang

Jika kau pergi ke tanah yang jauh
Maka pergilah dengan hati-hati, Sayang
Jika kau pergi ke tanah yang jauh
Maka pergilah dengan hati-hati, Sayang

Semoga bermanfaat! ^^)/

Source here

Komentar

  1. ga bisa di copy ke m. word ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mohon maaf, ya. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya ^^

      Hapus
  2. Balasan
    1. Apa yang dimaksud "gak bisa" adalah nggak bisa dicopas? Jika begitu, maaf, ya. Karena memang Miichan sengaja..

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, ya. ^^

      Hapus
  3. ada gk text aslinya? buat tugas
    klo gk ada yg gpp dan makasih untuk infonya


    nice nick name lahh
    Mii-chan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya "text asli"? Terima kasih kembali untuk komentar dan kunjungannya, ya ^^

      Hapus
  4. Thanks sangat membantu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali atas kunjungan dan komentarnya ^^

      Hapus
  5. ikkeh ikkeh kimochi :v

    BalasHapus
  6. Konbanwa , makasih info nya miichan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konban wa, Ryan-san, terima kasih kembali sudah berkunjung dan berkomentar ^^

      Hapus
  7. makasih infonya yaaaa ini ada tugasss....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali sudah berkunjung dan berkomentar ^^

      Hapus
  8. wibu lob bosss
    tavvoprannnzzz

    BalasHapus
  9. Bagus......😘😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miichan setujuu. Lagu daerah Indonesia memang bagus-bagus
      ^ v ^)

      Hapus
  10. Teman ku dari filipina di ajarkan lagu ini oleh gurunya, bingung aja kok lagu daerah indonesia sampai bisa ke filipina?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, Miichan bangga mengetahuinya. Mungkin karena lagu daerah Indonesia memang bagus, baik dari segi lirik maupun melodi, makanya sampai ke negara luar ^ ^)b

      Hapus
  11. Mantap kak, budaya indonesia sudah melegenda internasional. Kita sebagai yang punya budaya harus bisa dan melestarikan agar tidak di aku aku oleh negara lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miichan setujuu ^ ^) Mari kita sama-sama menjaga dan melestarikannya :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...