Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Short Humor #2

Minasan, konbanwa!

Malam-malam begini, Miichan mau lanjutin rubrik 'Short Humor' ya :D Untuk yang belum lihat part 1, bisa dilihat di sini ^^ Daripada banyak basa-basi, langsung saja ya ^^


Jon, lu tadi kenapa ditangkap polisi? | Gue habis nyuri tali, Wan | Hah? Tali? Kok ... ? | Abis ada sapi yang nyangkut di ujung talinya '-' | *lemparkepenjara
***
Salah satu kebodohan pemain sepak bola adalah selalu mengulangi kesalahan yang sama pada siaran ulangnya.
***
Kamu itu ramah, baik, manis, pintar, suka menolong, mengagumkan, aku simpatik sama kamu :3
Begitu kata teman-temanku tentang aku :D
***
Gue cuma perlu 5 bulan buat nyusun puzzle ini | Lama banget dah? | Lama? Lihat di kotaknya tertulis untuk 4-7 tahun.. | *carigoloklagi
***
Bean, 5 + 4? | 9 | Kalau 4 + 5? | Bu Guru mau jebak saya?? Bu Guru cuma ngebalik hitungannya, berarti jawabannya 6!
***
Saya ingin membeli vitamin untuk cucu saya | Vitamin apa, Pak? A, B, C? | Apa saja, cucu saya belum bisa baca kok! | asdfghjkl-.-
***
(Di ATM) A-Apa yang kamu lihat!? | PIN Anda, hehehe.. | O-OK, kalau begitu, berapa PIN saya? | 4 buah bintang (*) :P
***
Sekarang naik taksi gratis, cukup tunjukkan KTP / Kartu Pelajar. Berlaku di seluruh Jabodetabek. Tapi turunnya tetap harus bayar.
***
Gus, air akuarium kok belum kamu ganti!? | Ahh, buat apa diganti Bu, yang kemarin aja belum habis kok!
***
Kamu kamu dibilang judes, sabar.
Kalau kamu dibilang jelek, senyumin aja.
Tapi kalau dibilang cakep, tonjok aja, itu fitnah!
***
Kemungkinan tabung gas 3 kg akan diganti menjadi warna kuning, kelabu, merah muda, atau biru. Karena yang hijau gampang meledak.
***
Saya pesan daging anak-anak | A-Astaghfirullah, Pak, saya tak jual daging manusia | Lho? Itu ditulis "anak-anak diskon 50%"... | ...
***
Senjata pemusnal massal
  • Amerika : Nuklir
  • Israel : Jericho
  • Korea Utar : Taepodong
  • Pakistan : Agni
  • Indonesia : Elpiji 3 kg
***
Nek! Nenek 'kan puasa, kok minum obat~?! | Itulah OK-nya bodrex, bisa diminum kapan saja.. | ...
***
Lagi ngapain? | Ngukur tinggi tangga | Taruh di lantai, jangan diberdiriin. Terus ukur pakai meteran! | Aku mau ngukur tinggi, bukan panjang!!
***
Telah hilang anak laki-laki berusia 5 tahun. Berbaju putih, celana hitam, rambut cepak, dan sandal kegedean. Yang menemukan harap lapor Ibunya karena sandalnya mau dipakai.
***
(Malam menjelang ujian, Adi melempar koin)
"Kalau gambar, aku tidur. Kalau angka, aku nonton TV. Kalau berdiri, aku belajar"
***
Paman, kalau saya nelfon, balas sms saja. Soalnya nelfon mahal. | Sudahlah, tak apa. Paman malu, tulisan Paman jelek.. | ...
***
Dok, bagaimana cara biar kurus? | Gelengkan kepala saja... | Heh? | ...tiap ditawarkan makanan | ...
***
Ani, make a sentence started with I! | I is ... | Use I with am, not with is | I am the ninth letter of the alphabet | -_-
***
Seorang tukang roti ditabrak ojek, orang berdatangan dan bertanya "Ada apa, Pak?" dan ia menjawab "Ada nanas, keju, dan cokelat"
***
5 pejuang Indonesia bertempur, dan 1 gugur. Berapa yang kembali ke markas? | 1004, karena 1 gugur tumbuh 1000
***
Chaaa, bunyi apa itu? | Selimut jatuh dari kasur, Bu! | Kok keras banget? | Ada Icha di dalam selimut, Bu~ | o_O
***
1000 kata maaf, belum tentu dimaafkan.
1000 kata canda, belum tentu membuat tertawa.
Tapi 1000 rupiah, lumayan dapat gorengan :3
***
Bu, beli minuman | Rasa apa, mas? | Ra sa mbayar (nggak perlu bayar), ada, Bu? | -_____-


Nah, sekian ya~! Part #3 menyusul ^^
Semoga menghibur :3

Source : Laughter for Twitter by Xavier Quentin Pratana

Komentar

  1. Izin repost yang part 2 ya...

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Maaf ya, Rara.. Miichan buat di sini tidak bisa dicopy paste. Kalau ingin direpost, mohon maaf karena harus ditulis ulang dan sertakan sumber ya :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...