Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Konten Original vs Konten Copy Paste

Horaaa~

Sebenarnya Miichan membuat ini karena lagi nggak ada inspirasi. Yah, bukan nggak ada, tapi lagi malas melakukan inspirasi Miichan karena agak ribet, yaitu translate song project dan 1 artikel itu minimal butuh waktu 30 menit. Padahal internet Miichan lola, yah~

Oke, gomennasai untuk basa-basi Miichan yang tidak penting itu. Sekarang, Miichan ingin membahas tentang konten original dan konten copy paste. Ya, saat kita menulis artikel, kita bisa memilih untuk menulis salah satu konten dari dua di atas. Meskipun begitu, tetap saja ada kekurangan dan kelebihan dari masing-masing tipe.

Langsung saja~

KONTEN ORIGINAL
Konten original ini bisa berarti konten yang kita tulis sendiri. Atau seminimalnya isinya terinspirasi dari orang lain, tetapi ditulis ulang dengan gaya bahasa sendiri. Bukan

 'Ctrl+A' + 'Ctrl+C' + 'Ctrl+V'  = Selesai.

Jadi, salah satu keuntungannya adalah memiliki kekhasan sendiri. Contohnya adalah blog Raditya Dika? Kenal? Pasti. Blognya memiliki ciri khas sendiri, dan sekarang dia mampu membuat buku yang laris manis dengan ciri khasnya itu. Hebat sekali, kan?


Keuntungan lainnya adalah :
  • Mendapat kepuasan tersendiri jika tulisan kita dibaca dan dikomentari
  • Sebagai ajang latihan menulis yang baik
  • Blog jadi lebih dihargai
  • Kebebasan penuh dalam berkarya dan menulis tulisan
  • Jika konsisten menulis dengan gaya bahasa yang khas, bisa jadi ada yang tertarik untuk menjadikannya buku
Bagaimana? Menurut Miichan sih, kalau keuntungan dari konten original bersifat kualitas-eh? Maksud Miichan kalau tulisannya bagus. Tetapi, konten original juga memiliki kekurangan, seperti :
  • Waktu yang dibutuhkan dalam membuatnya cukup lama
  • Jika gaya / isi tulisan tidak menarik, blog cenderung sepi
  • Rawan dibajak kalau tulisan kita bagus (antisipasi dengan blog anticopas)
  • Terkadang juga kita cepat bosan menulisnya
Jadi, menurut kalian bagaimana?


KONTEN COPY PASTE
Kita berpindah ke tipe konten yang satu ini. Menurut Miichan, ya, konten tipe ini berkeuntungan dari segi kuantitas. Keuntungannya juga sama menarik dengan konten original, yaitu :

  • Waktu yang dibutuhkan dalam membuat cukup cepat, bisa saja hanya 5 - 10 menit untuk 1 artikel
  • Lebih mudah untuk menyusunnya
  • Lebih mudah menarik pengunjung
  • Membuat kita terbiasa menjadi editor
Tapi, karena adanya kekurangan seperti di bawah ini, membuat konten tipe ini cenderung dihindari. Seperti :
  • Persaingannya sulit, apalagi jika artikelnya sama persis (untung-untungan kalau begini)
  • Cenderung tidak dihargai
  • Bisa menjadi konflik antara pencopas dan yang dicopas
  • Bisa dianggap spam oleh Mbah Google

Jadi, kalian lebih suka menulis artikel dengan konten yang seperti apa? Share ke Miichan di kolom komentar ya, Miichan ingin tahu :D

Sekian yang dapat Miichan sampaikan, tinggalkan jejak, datang lagi, terima kasih yaa ^^)/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...