Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

FORGOT - Miichan's Fiction

Kali ini Miichan mau share fiction Miichan yang Miichan buat dalam waktu yang sangat singkat, 15 menit -_- Dan pasti abal. Oh ya, untuk nama karakternya, Miichan pinjam ya, Om Hajime Isayama (Shingeki no Kyojin's Owner)

Sedikit tentang fiksi Miichan ini. Bercerita tentang kisah asmara gadis remaja (you know-laah..) dan hubungan dengan kakak satu-satunya. Ini benar-benar fiksi, bukan kisah nyata, imajinasi Miichan sendiri (kecuali nama karakter). Rating T dan fanfiksi ini juga Miichan ikut sertakan dalam Segmen ke-2 Tiara "Writing Competition". Tapi karena Miichan rasa ini layak untuk dibaca umum, jadi Miichan share saja ya :)  Selamat membaca ^^

Forgot
Saat seseorang tengah menyukai seseorang yang lain, terkadang seseorang terpenting dalam hidupnya bisa dilupakan..

Karenanya, sebelum terlambat..

“Carla!”

Aku menoleh ke arah seseorang yang memanggilku, “Ya, Kak?”

Orang itu.. Bertubuh pendek, kepalanya sedikit botak, dan sifatnya sedikit kekanak-kanakan di hadapan teman-temannya. Banyak yang berkata bahwa aku lebih pantas untuk menjadi kakaknya. Yah, banyak faktor pendukung seperti gaya berbicara dan tinggi badanku yang berlevel di atasnya, begitu kata orang-orang.

“Mau ke mana ... ”

Aku berbalik dari arah cermin untuk menyejajarkan tubuhku dengannya. Sisir yang tadi aku pegang pun lekas aku letakkan di meja hiasku.

“... sampai berdandan seperti itu?”

“Oh, ini ... “ pipiku sedikit bersemu ketika hendak menjawabnya. “... Nanaba hari ini berulang tahun, Kak. Jadi, aku ingin ke rumahnya dan mengucapkan selamat ulang tahun,”

“Perempuan?”

“Eh?”

“Nanaba itu perempuan?”

“Dia ... “ aku menggigit bibirku sejenak. Begini-begini juga, kakakku ini cukup protektif dalam menyayangiku. Apalagi dalam hal seperti ini. Fuh. “... teman laki-lakiku, Kak,”

Mata Connie –nama kakakku– sedikit membesar mendengar jawabanku dan aku meringis, mencoba menenangkan kakakku. “Kami hanya teman, kok, Kak, s-sungguh,” Ya. Aku rasa aku harus berbohong.

“Baiklah,” jawab Connie akhirnya dengan nada sedikit ketus. “Tapi cepat pulang,”

“Pasti, Kak! Sudah dulu ya!”

~FORGOT~

Nanaba.

Dia adalah juara kelas di kelasku. Tubuhnya cukup tinggi –mungkin karena dia anggota basket–, wajahnya tidak buruk, ucapannya lembut, dan dia adalah idola dari hampir semua teman sekelasku.

Dan .. dia yang kemarin menembakku dengan mukanya yang bersemu.

~FORGOT~

Aku mengetuk pintu rumahnya.

“Sebentar,” Pintu dibuka oleh sosok wanita yang kira-kira berusia 40 tahun. Ia memiliki mata dan rambut yang mirip dengan Nanaba. “Eh? Mencari Nanaba, ya?”

“I-Iya, Bu,” balasku. Apa Ibu ini adalah Mama Nanaba? Apa ia sudah tahu kalau aku dan Nanaba ...

“Nanaba tadi pergi ke taman ria bersama pacarnya,”

... aku dan Nanaba ...

“Apa?” gumamku pelan.

“Nak?”

“O-Oh, iya, terima kasih, Bu! Saya pamit dulu!”

~FORGOT~

Langit yang mendadak menjadi keabuan. Kilat-kilat tipis mulai terlihat, dengan beberapa kali terdengar sambaran petir. Sudah sekitar 2 jam aku di sini. Diam di sini, duduk di ayunan taman. Sampai akhirnya aku merasakan air yang mulai mengalir di rambutku.

Hujan.

Tapi tubuhku tetap tidak bisa dan tidak mau bergerak, meskipun air juga telah mulai membasahi pakaianku.

“Carla?”

Tanpa aku sadari, air mata ikut mengalir dari sudut mataku dan jatuh dengan manis, menetes dari daguku. Ini belum sampai 1 minggu, tapi kenapa? Aku memejamkan mataku.

Apa semua laki-laki memang seperti itu?

Saat aku sadari bahwa setiap laki-laki yang pernah ada untukku selalu meninggalkanku dengan kasar.

Bahkan Ayahku pun, yang meninggalkanku dan Kakak setelah Ibu meninggal dengan seenaknya.

Apa? Terasa ada tangan yang menggoyang-goyangkan bahuku dengan keras.

"Carla!"

“Ah,”

Aku membuka mataku dan melihat sosok Connie yang sedang memayungiku. Wajahnya terlihat khawatir.

“Kau sedang apa di sini? Katanya mau ke rumah Na- Ah, siapa tadi namanya?”

“Tidak jadi, Kak,”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, Kak,”

“Dia meninggalkanku begitu saja, ya?”

“Eh?”

“Dia pacarmu kan? Lalu dia meninggalkanmu kan?”

“A-“

“Kau selalu seperti itu dari dulu. Aku sudah tahu tanpa kau mengatakannya,” Connie menyerahkan payung hijau itu ke tanganku. Kemudian duduk dengan bertumpu pada lutu kanannya, lalu menghapus setetes air mata yang masih tersisa di ekor mataku dengan ibu jarinya. “Perlu aku menghajarnya?”

“...”

Aku hanya terdiam. Kakakku selalu tahu tentang aku. Karena dia telah selalu bersamaku selama 14 tahun lamanya. Dan dia selalu menyayangiku. Satu-satunya laki-laki yang sayang dengan tulus padaku, dengan caranya sendiri. Kenapa.. aku lupa?

“Kakak,”

Aku memeluknya erat di bawah hujan ini. Orang yang melihat mungkin akan berpikir aneh-aneh. Tapi asal mereka tahu, bahwa aku bahagia memiliki kakak seperti Connie.

“Apa Kakak punya pacar?” bisikku pelan.

“Eh? Tidak ada,” Kakakku memainkan rambut belakangku, membiarkan aku mendekapnya dengan erat.

“Kalau begitu, tolong!” Air mata yang kembali mengalir ini akan membuktikan semuanya, penyesalanku kepadanya. “Tolong jangan memiliki gadis lain. Tolong, selalu ada hanya untukku, Kak!”

Terdengar dengan jelas suara nafas tercekat milik kakakku ini.

Aku tidak mendengar jawaban dari Connie setelah itu. Aku juga tidak tahu bagaimana ekspresinya setelah mendengar permohonanku barusan. Tapi kemudian, ia memaksa melepas diri dari pelukanku.

“Kakak?”

“Tak usah kau minta pun, aku juga tahu bahwa hanya aku yang akan sedia dan harus selalu untukmu, Carla,” jawab Connie dengan ke dua tangannya di pundakku sambil tersenyum keren. Biarpun kepalanya hampir botak, tetapi senyuman keren itu menghapus semuanya. Mataku sedikit membesar dan aku ikut tersenyum lebar.

“Terima kasih!”

Berkali-kali pun akan ada laki-laki yang aku sukai lagi. Aku akan berjanji untuk tidak pernah melupakan laki-laki yang satu ini. Yang selalu sayang dan ada untukku.
Kakakku.
Connie.

Langit yang kembali biru dengan sinar matahari yang cerah menunjukkan tampilannya. Seketika, entah kenapa, air hujan seperti ditarik kembali oleh Tuhan. Kicauan burung pipit mulai terdengar riuh. Menandai sore hari yang cerah dan damai telah kembali.

“Carla, ayo pulang,”

“Iya, Kak,”

Untuk hari ini, esok, dan seterusnya.
Hal ini tidak akan pernah aku lupakan.

TAMAT

Bagaimana? Menarikkah?
Semoga pada suka dan dapat mengambil kesimpulan + makna yang ada di dalam fiksi Miichan yang satu ini ya :) Bahwa saudara adalah sosok yang penting, sayangi dan jangan sampai dilupakan :D *Miichanbijak

Sekian ^^
Miichan

Komentar

  1. Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar ^^ Datang lagi ya ^^)/

      Hapus
  2. wahh.. FF'a sedih ya.. Shacchi terharu QAQ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya :3 Ccie yang terharu, mah, beda ya, Shacchi? xD
      Makasih ya udah berkomentar, datang lagi ^^)/

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...