Langsung ke konten utama

kok

Lirik Lagu "Si Patokaan" dan Maknanya

Minna, konbanwa!

Di kesempatan kali ini, Miichan ingin membagikan lirik lagu daerah dari Sulawesi Utara, yaitu "Si Patokaan". Dan pastinya nggak akan srek kalau belum dilengkapi makna dari liriknya. Oke, langsung saja! :D

~ SI PATOKAAN ~
Sayang sayang, Si Patokaan
Mantego-tego gorokan Sayang
Sayang sayang, Si Patokaan
Mantego-tego gorokan Sayang

Sako mangemo tanah man jauh
Mangemo milei lek lako Sayang
Sako mangemo tanah man jauh
Mangemo milei lek lako Sayang

Lagu ini memiliki pola penuturan pantun. Sementara maknanya sendiri adalah ungkapan perasaan cinta sekaligus khawatir dari seorang Ibu pada anaknya yang sudah beranjak dewasa dan telah wajib mencari nafkah sendiri, biasanya anak laki-laki. Perasaan khawatir ini erat kaitannya dengan sebab "sang anak hendak merantau". Jika dilihat lebih dalam, lirik lagu ini secara utuh mengandung doa dan motivasi. Oh ya, Si Patokaan sendiri berarti orang-orang yang termasuk dalam wilayah Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara.

Tetapi di larik ke dua, sang Ibu mulai mengisyaratkan sisi buruk dari kehidupan dengan tujuan mengingatkan dan memperlihatkan kenyataan bahwa manusia tak bisa terhindar dari pucat dan saat terseok-seok. Apalagi jika hidup di tanah yang jauh dan asing, pasti akan terasa lebih berat dan berbeda dibanding hidup di tanah sendiri. Di bagian ini, Ibu memperlihatan keadaan orang yang telah kalah dan sakit, serta lebih jauh lagi adalah orang yang telah meninggal.

Larik ke dua dan ke empat memiliki hubungan sebab dan akibat. Setelah menunjukkan sisi buruk dari kehidupan, Ibu pun mulai berpesan agar anaknya tidak menghadapi hal itu dengan menganjurkan anaknya berhati-hati.

Berikut ini adalah arti dari lagu Si Patokaan dalam Bahasa Indonesia :

~ SI PATOKAAN ~
Wahai sayangku, Si Patokaan
Orang-orang yang pucat dan berjalan terseok-seok, Sayang
Wahai sayangku, Si Patokaan
Orang-orang yang pucat dan berjalan terseok-seok, Sayang

Jika kau pergi ke tanah yang jauh
Maka pergilah dengan hati-hati, Sayang
Jika kau pergi ke tanah yang jauh
Maka pergilah dengan hati-hati, Sayang

Semoga bermanfaat! ^^)/

Source here

Komentar

  1. ga bisa di copy ke m. word ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mohon maaf, ya. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya ^^

      Hapus
  2. Balasan
    1. Apa yang dimaksud "gak bisa" adalah nggak bisa dicopas? Jika begitu, maaf, ya. Karena memang Miichan sengaja..

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, ya. ^^

      Hapus
  3. ada gk text aslinya? buat tugas
    klo gk ada yg gpp dan makasih untuk infonya


    nice nick name lahh
    Mii-chan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya "text asli"? Terima kasih kembali untuk komentar dan kunjungannya, ya ^^

      Hapus
  4. Thanks sangat membantu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali atas kunjungan dan komentarnya ^^

      Hapus
  5. ikkeh ikkeh kimochi :v

    BalasHapus
  6. Konbanwa , makasih info nya miichan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konban wa, Ryan-san, terima kasih kembali sudah berkunjung dan berkomentar ^^

      Hapus
  7. makasih infonya yaaaa ini ada tugasss....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali sudah berkunjung dan berkomentar ^^

      Hapus
  8. wibu lob bosss
    tavvoprannnzzz

    BalasHapus
  9. Bagus......😘😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miichan setujuu. Lagu daerah Indonesia memang bagus-bagus
      ^ v ^)

      Hapus
  10. Teman ku dari filipina di ajarkan lagu ini oleh gurunya, bingung aja kok lagu daerah indonesia sampai bisa ke filipina?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, Miichan bangga mengetahuinya. Mungkin karena lagu daerah Indonesia memang bagus, baik dari segi lirik maupun melodi, makanya sampai ke negara luar ^ ^)b

      Hapus
  11. Mantap kak, budaya indonesia sudah melegenda internasional. Kita sebagai yang punya budaya harus bisa dan melestarikan agar tidak di aku aku oleh negara lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miichan setujuu ^ ^) Mari kita sama-sama menjaga dan melestarikannya :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...