Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Cara Menambah "Baca Selanjutnya" pada Postingan di Beranda Blog

Nee, minna, konnichiwa!

Maaf ya, Miichan baru muncul di siang bolong begini ToT Tadi pagi Miichan diomelin karena akhir-akhir ini keseringan main laptop :" Ya sudahlah, sekarang akhirnya bisa ngeblog lagi setelah keadaan aman (?) *curhat *lupakan

Oke! Karena ada yang bertanya "Miichan, Cara buat Read more/bacsa lebih lanjutnya itu gimana?makasih ya, Miichan", akhirnya lahirlah postingan yang satu ini ^^ Mungkin ini sebenarnya sangat simpel dan mudah, tapi ada saja kan, orang yang belum tahu? Dulu Miichan juga begitu. Jadi Miichan rasa nggak ada salahnya membuat tutorial ini.

Check this out!




  • Masuklah ke blogmu dan buat artikel baru / edit artikel lama
  • Kemudian klik pilihan ini
  • Jika itu kita tambahkan, maka akan muncul "garis abu-abu" seperti yang ada di bawah tulisan "check this out!" (lihat gambar lagi). Maka mulai dari situ akan "terpotong" di beranda.
Bagaimana? Mudah kan? ^^
Oh ya, pemotongan ini berfungsi untuk tidak memenuh-menuhkan beranda. Misalnya, harusnya di beranda bisa terdapat 7 artikel. Tapi karena tidak terpotong, jadi memakan tempat dan hanya terdapat 4 artikel. Sayang sekali 'kan? Begitulah fungsinya ^^

Semoga bermanfaat ya ^^)/
Terima kasih sudah berkunjung dan Miichan senang sekali menerima kedatangan kalian lagi.

Jyaa mata ne~

Komentar

  1. Sama-sama :) Datang lagi ya ^^)/

    BalasHapus
  2. Miichan, aku boleh CoPas ini diblogku?Tenang saja, pasti aku sertakan sumber kok.
    Makasih ya, Miichan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Silakan, tapi mohon maaf di sini nggak bisa copy langsung '-' Harap tulis ulang dengan gaya Aisha sendiri ya, dan jangan lupa sumber.. Hehe ^^)/

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...