Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Short Humor #1

Selamat sore, semuanyaa~!!

Kali ini, Miichan mau tebar humor tapi yang singkat-singkat aja ^^ Humor-humor ini bisa dishare ke twitter lhoo.. Keuntungannya? Menjadi penambah followers, ice breaker, penyegar suasana, dan bias juga untuk berbagi sukacita!!

Langsung aja ya!! ^^
***
Polisi : "Selamat siang, Pak. Kenapa Anda melanggar lampu merah? Apa Anda tidak lihat?"
Koko : "Lihat, Pak Polisi. Tapi saya tidak melihat Bapak,"
***
Mas, bensin seliter berapa? | 6000 | Kalo setetes? | Ya elah, setetes mah gratis | Kalau gitu, tetesin aja tangki motor saya sampai penuh ya!
***
(Seorang wanita menawari kacang pada anak kecil) | Tidak, kacang 'kan menggemukkan | Oya? | Buktinya lihat aja gajah.
***
Pak, beli paku sekilo! | Dibungkus ya? | Nggak, makan di sini! -.-
***
Doa orang jatuh cinta
"Oh, Tuhan, jika dia jodohku, berikanlah padaku. Tapi jika bukan, jangan berikan dia jodoh"
***
Sejak Dodo pindah sekolah, jadi malas ke kantin | Kok, gitu? | Soalnya selama ini Dodo yang jajanin gue | -__-
***
FAKTA - Hewan paling langka menurut WWF adalah belalang dan kupu-kupu, karena siang makan nasi kalau malam minum susu *nyanyi^-^
***
Kak, kok kamu merokok!? | Kakak memberi contoh ke adik | Apa-apaan!? | Contoh kalau merokok pasti dimarahi Ibu..
***
Dua orang anak datang ke klinik.
D : "Kenapa, Nak?"
1 : "Saya menelan kelereng,"
D : "Dan kau?"
2 : "Menunggu kelereng saya,"
***
Nah, obat ini diminum 1 hari 3 sendook ya.. | GAK BISA DOK!! | Kenapa?? | SENDOK DI RUMAH SAYA CUMA 2, GIMANA DONG!? | asdfghjkl-_-
***
Gue kagum sama bebek | Kenapa? | Kecil-kecil udah bisa berenang :3 | *golokmanagolok
***
Bu Guru, kenapa cuma ada 1 matahari? | 1 saja sudah membuatmu hitam, Nak, apalagi 2?
***
Pa, kucingku si Mpus hilang~ (TOT) | Tenang, udah Papa iklankan di koran | Tapi si Mpus kan nggak bisa baca.. | -__-
***
Jika ada yang melemparmu dengan batu, jangan balas dengan batu. Balaslah dengan bunga, tapi pastikan beserta potnya juga.
***
Nak, berapa orang di kelasmu? | 35 termasuk 1 guru, Ma | Kalo ga ada guru berarti 34? | Kalo ga ada guru, ga ada orang di kelas | o_O
***
Ulangan sejarahnya gimana tadi? | Payah, ah | Kenapa? | Semua pertanyaannya tentang peristiwa sebelum aku lahir! | -_-
***
HEH KAMU! | A-Apa Pak? | Kenapa kamu nggak nutup kandang singa semalam!? | Ohh.. Nggak apa, Pak. Siapa sih yang berani mencuri singa? ^^ | *ambilgolok
***
Kata orang, teman itu lebih berharga dari emas permata. Coba aku sudah tahu itu dari dulu, pasti sudah aku jual semua temanku..
***
Kok kamu keluar dari perusahaan itu? | Kata-kata bosku nggak enak dan menyinggung perasaan! | Apa katanya? | Kamu dipecat! | -_-
***
Nama kucingmu siapa? | Puspitasari Endah Dwisetiyarini Handayani | Eh buseet, panjang amat! Nama panggilannya? | Pus | -_____________-
***
Air hujan dapat menyirami bumi
Air laut dapat menghancurkan karang
Air mata dapat meluluhkan hati
Tapi air liurmu ... lap dulu sono!
***
Ojek 5 ribu, Mas? | 10 ribu ah, Nek | -_- Ya udah, tapi kamu cari sendiri rumah saya | -_-
***
Anakku, kalau Bapak meninggal, juallah rumah ini tapi jangan rumah sebelah | Kenapa Pak? | Itu kan rumah tetangga, Nak -_-
***
Kenapa Amerika bisa maju?
Karena anak 5 tahun saja sudah bisa Bahasa Inggris
***
Beli 1 dapat 2! Beli 1 dapat 2! | Wah, barangnya apa, Mas? | Sepatu | -____-

Segini dulu yah ^^ Part 2 menyusul ^^
"Mari tertawa sebelum tertawa dilarang"

Source : Laughter for Twitter by Xavier Quentin Pratana

Komentar

  1. Hahahaha.. Ngakakk... *ROTFL*

    BalasHapus
  2. Silakan lihat part #2 dengan nge-klik nama Miichan di komentar yang satu ini, ya ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...