Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Menyenangkannya Saat Ngeblog Bagi Miichan

Konbanwaa~

Setelah sekian lama berputar-putar di Mbah Google mencari inspirasi untuk artikel di blog ini, tiba-tiba Miichan teringat dengan kata-kata teman Miichan yang nyesek dan dalam banget. Kira-kira beginilah maksudnya :

"Apa enaknya ngeblog coba? Emang ada yang ngeliat blog kamu apa?"

Sebenarnya untuk rasa senang dan keseruan dalam membangun blog ini relatif ya. Jadi bisa saja antara satu blogger dengan blogger yang lain berbeda. Yah, tapi orang-orang yang belum pernah ngeblog relatif menganggap ngeblog itu kegiatan yang sepele, nggak seru, dan nggak ada gunanya. Bayangkan saja, kalau di dunia ini nggak ada blogger, menurut Miichan sih bakal susah buat nyari informasi di internet karena tidak ada blog yang menyediakannya :)

Semua saat-saat ketika Miichan ngeblog itu hampir menyenangkan.

Pertama-tama, Miichan mulai dengan kali pertama membuat blog. Miichan membuat blog ini dengan rasa iseng dan penasaran. Akhirnya jadilah blog ini dengan seadanya. Kemudian, Miichan melihat blog Miichan yang baru jadi. Kenapa templatenya tidak menarik?

Akhirnya, Miichan pun semakin mencari tahu dan rasa penasaran semakin besar. Saat memulai penyusunan bentuk template blog, ada rasa kesenangan tersendiri yang Miichan rasakan. Seperti .. umm.. Seperti rasa senang karena bebas untuk menentukan pilihan kita, warna dasar, dan bentuk. Pilihan widget yang banyak pun sampai membuat Miichan bingung. Karenanya, Miichan terus mencari bagaimana membuat tampilan blog menjadi baik dan menarik bagi Miichan, dan semoga bagi kalian juga :) Setelah selesai, ada rasa puas yang tersirat di benak Miichan.

Kemudian Miichan pun berpikir lagi. Kalau hanya tampilan yang menarik, apa semua orang tertarik? Miichan harus membuat isi yang bagus! Supaya banyak orang yang datang.

Untuk pertama-tama, Miichan membuat 2 artikel seputar SNSD. Karena sibuknya kegiatan di dunia nyata sekaligus malasnya Miichan membuka blog, akhirnya Miichan hiatus selama 1 semester. Dan kemudian pada 2013, Miichan kembali lanjut. Miichan kembali berusaha membangun blog yang sempat Miichan tinggalkan. Seperti ada rasa menyesal yang kemudian memotivasi Miichan dengan "Ini blogku sendiri, bagaimana mau maju kalau aku malas??"

Miichan pun terus berusaha membangun blog ini kembali yang rasanya dimulai dari nol lagi. Karena, ya, Miichan rasa Miichan 2 tahun lalu saat membuat template blog terlalu norak dan meriah, sehingga kembali Miichan sederhanakan. Saat membuat artikel pun, Miichan dulu harus berpikir keras karena masih belum terbiasa menulis artikel. Bahkan bisa saja dalam 1 minggu hanya 1 artikel yang jadi. Tapi seiring dengan perasaan dan semangat Miichan, serta kemampuan yang semakin terlatih, akhirnya akhir-akhir ini Miichan bisa menulis lebih dari 1 artikel dari 1 hari.

Tapi, setelah desain dan isi jadi, ada rasa kurang puas yang masih mengganjal. Kenapa.. kenapa tidak ada tanda-tanda orang datang ke sini? Statistik blog memang menunjukkan jumlah orang yang datang, tapi tidak ada jejak seperti komentar sehingga Miichan benar-benar sedih. Miichan pun mempromosikan blog ini. Statistik semakin naik, tapi masih belum ada yang berkomentar. Akhirnya, suatu hari pun ada teman Miichan yang komentar (*pokeNamira). Miichan merasakan ada bahagia dan segala macam rasa kesenangan bercampur aduk. Sejak itu, Miichan bertekad untuk meraih lebih banyak pengunjung dan jejak mereka untuk kembali merasakan perasaan itu.

Tapi, pernah pula, ada yang berkomentar dengan komentar ketidakpuasan. Seperti "Maaf, bukannya blablablabla?" atau "Kok agak gaje sih," Saat membacanya, ada perasaan sedih, kecewa, menyesal, dan lainnya. Tapi Miichan pun sadar dengan mereka berkata seperti itu, berarti mereka masih peduli dengan blog ini dan ingin blog ini bisa lebih maju lagi :')

Dan kesenangan lainnya saat isi blog kita disebarkan, lebih lagi dengan menyertakan link sumber dan lebih lagi jika mendapat ucapan 'permisi' & 'terima kasih' untuk mengambilnya. Miichan seperti merasa bahwa "Wah, artikel ini disukai, sampai mau disebarkan" dan jujur, malah Miichan yang ingin berterima kasih pada mereka ^^ Dengan catatan bahwa mereka menyertakan sumber pengambilannya.

Akhir-akhir ini, Miichan menemukan kesenangan yang baru. Saat bertemu dengan blogger lainnya. Miichan dan blogger itu saling bertukar pendapat dan saling mengunjungi blog satu sama lain. Selain itu, ada pula kesenangan karena teman Miichan ingin membuat blog juga setelah melihat blog Miichan :)

Yah, meskipun memang benar, bahwa tidak sepenuhnya blog itu menyenangkan. Masih ada rasa kurang menyenangkannya seperti  'resiko dibajak', 'resiko mendapat komentar bernada negatif', dan sebagainya. Tapi, Miichan rasa ini bergantung dari bagaimana sudut pandang kita melihatnya. Jujur saja, Miichan tidak takut dan benci dengan rasa kurang menyenangkan. Ya, karena Miichan sudah terlanjur senang dan menemukan kebahagiaan tersendiri saat ngeblog sampai semua resiko itu terlupakan. Beda, dengan blogger lain (mungkin) atau mungkin teman Miichan yang Miichan sebutkan di paling atas tadi, yang menganggap blog itu tidak seru, tidak menyenangkan, ribet, dan sebagainya. Dijamin, tidak akan merasakan kesenangan total saat menulis blog ^^

Kesimpulannya, menurut Miichan segala hal yang kita anggap menyenangkan dan dapat bermanfaat pula, tidak akan sampai pada titik bosan kita. Ini cuma perasaan menyenangkan ngeblog versi Miichan seorang. Nah, kalau begitu, bagaimana kalau kalian berbagi cerita juga di kolom komentar? ^^

Komentar

  1. Aku jg sedih klo ada yg ngatain entriku gaje atw apalah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi meskipun begitu, kita tetap harus menyikapinya dengan positif ya ^^
      Terima kasih ya, iCHA, sudah berkunjung dan berkomentar ^^

      Hapus
    2. Sama-sama, semoga bermanfaat ya ^w^)/

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...