Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

8 Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Media Sosial

Horaa~

Ngacung, siapa yang punya media sosial? Seperti facebook atau twitter?

Sekarang ini, media sosial sudah hampir menjadi kebutuhan masyarakat dalam bersosialisasi, baik oleh yang muda dan yang tua. Benar 'kan? Karena hal itulah, hampir semua orang telah memiliki media sosial masing-masing. Media sosial ini dapat memberikan dampak positif seperti mempemudah kita untuk berkomunikasi, tetapi Miichan yakin semuanya tahu bahwa setiap hal pasti ada dampak positif dan negatif pula. Agar media sosial tidak membawa dampak buruk, kita harus menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Berikut ada 8 hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan media sosial. Langsung sajaa :

  • Kenalilah siapa yang ada di lingkungan media sosial kita
Dengan adanya media sosial, kita dapat memperoleh kebebasan untuk berbicara. Bahkan, yang biasanya pendiam di dunia nyata pun bisa saja 'berkicau' dengan hebohnya di media sosial. Siapapun berhak untuk mengutarakan pendapatnya. Tetapi, bukan berarti Miichan menyimpulkan bahwa tidak ada batasan dalam berbicara di media sosial. Salah satu yang penting adalah kita harus kenal siapa saja yang ada di lingkungan media sosial kita. Jangan sampai adik kita yang masih polos membaca status kita yang kurang baik, seperti menggunakan bahasa yang kasar. Bisa saja adik kita akan meniru dan menggunakan kata-kata itu di kesehariannya. Dan jangan juga menjadikan media sosial sebagai penyebaran berita bohong. Banyak, lho, yang seperti ini. Contohnya penipuan dari toko online. Ini hanya akan berdampak buruk kepada kita sendiri sekaligus orang di sekitar kita.
  • Gunakanlah bahasa yang tepat
Media sosial adalah salah satu sarana untuk kita berkomunikasi. Setelah mengenali siapa yang ada di lingkungan media sosial kita, kita mungkin berkesempatan untuk berinteraksi dengan mereka. Ingat, tidak semua orang suka dengan bahasa gaul, dan banyak juga yang tidak suka bahasa yang terlalu formal. Kita harus bisa menyesuaikan gaya bahasa kita agar kita nyaman dan enak berinteraksi. Cara tergampang untuk mengetahui gaya bahasa mereka adalah membaca gaya bahasa yang mereka gunakan saat sedang menulis atau merespon status.
  • Jangan membicarakan dan berbagi konten berunsur SARA & pornografi
Ini adalah larangan yang paling sering Miichan temukan. Tentu saja, berbicara dengan ke dua unsur di atas sudah pasti dilarang, bahkan jika hanya untuk bercanda. Karena selain dapat menyinggung pengguna media sosial yang lain, ini juga membawa dampak buruk bagi kita. Masih banyak pengguna media sosial yang belum mengerti akan hal ini. Sebelum mengurus mereka, lebih baik mulai membuat diri kita menghindari unsur konten di atas.
  • Jangan terlalu mengumbar kehidupan pribadi
Kolom share yang tersedia bukan berarti kita harus mengumbar semuanya, apalagi hal-hal yang berbau pribadi dan privasi. Misalnya dengan kehidupan keluarga, kehidupan sekolah, kejengkelan dengan teman, hubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Sebaiknya jangan gunakan tema-tema pribadi seperti itu untuk dishare, lebih baik kita simpan untuk diri sendiri. Banyak juga, lho, yang sebenarnya tidak peduli dengan status kita, tetapi hanya kepo saja.
  • Hindari mengupdate status yang berhubungan dengan privasi
Media sosial benar-benar rawan dengan kejahatan. Hal-hal privasi seperti 'sedang di rumah sendiri' atau 'sedang otw menuju bank' sebaiknya dihindari untuk diupdate. Update seperti ini memang terlihat sepele, tapi bisa saja ada orang jahat yang tanpa kita tahu ada di lingkungan media sosial kita, kemudian mendatangi tempat kita berada. Hiii~
  • Hargai privasi orang lain
Banyak orang yang dipercayai untuk menjaga privasi. Dan pasti setiap orang juga punya rasa humor. Tetapi, Miichan ingatkan, hindari membuat humor dengan privasi orang lain. Privasi adalah privasi, dan tidak seharusnya kita umbar di media sosial meskipun hanya untuk gurauan semata.
  • Hanya ikuti percakapan yang dibutuhkan
Jika kalian adalah pengguna twitter, kalian pasti mengerti istilah follow. Ada baiknya, followlah akun-akun yang dibutuhkan saja. Timeline di twitter sama saja dengan buku bacaan harian, bahkan kemungkinan dilihatnya lebih banyak dibanding buku bacaan harian sendiri. Karenanya, pilihlah akun yang benar-benar kita ingin untuk difollow.
  • Media sosial bukanlah tempat sampah
Sedikit sedikit update, sedikit sedikit curhat. Ingat, media sosial bukan tempat sampah pribadi kita. Banyak orang yang melihat status kita. Jangan pernah beranggapan bahwa media sosial adalah tempat kita membuang semua hal yang kita tanggung. Tidak semua yang kita update akan disukai oleh teman kita. Yakinlah bahwa akan ada update kita yang mempermalukan diri sendiri. Boleh saja sih kita menulis update kita, tapi pastikan yang membaca tidak akan merasa bete membacanya. Yang lebih boleh lagi, gunakanlah media sosial sebagai tempat sharing informasi dan ilmu pengetahuan. Miichan rasa itu lebih bagus dan bermanfaat ^^

Kesimpulannya?
Gunakanlah media sosial dengan baik ya! Oh ya, blog juga termasuk media sosial lho :D Tinggalkan pesanmu di kolom komentar ya, Miichan senang sekali menerimanya :)

Source here and here

Komentar

  1. Aku paling sering menemukan poin nomer 3 dan 5. Thanks infonya!
    note: *maaf, aku sepertinya pernah baca ini di GIRLS, tp aku gak tau kamu udah pernah baca atw belum, MAAF kalo aku nyinggung (gak maksud)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat bagi iCHA ya :)
      Wah, mungkin hanya kebetulan, ya, karena Miichan semenjak 1,5 tahun terakhir sudah tidak baca GIRLS lagi. Tapi memang mungkin saja sama, karena hal seperti ini kan umum ^^
      Terima kasih sudah memperhatikan ya :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...