Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Jomblo Itu Too Valuable Untuk Dimiliki

"Kenapa, sih, nggak ada yang tertarik?”

“Duh.. Hari gini, kok, gue masih jomblo aja, ya,”

Selalu aja bertanya-tanya sendiri kalau sedang berkaca di cermin. Kesendirian membuat gue menerka-nerka apa yang kurang dari diri ini sampai-sampai belum ada yang mau. Apa wajah kurang cantik, tubuh kurang ideal, kulit kurang putih, prestasi kurang cemerlang, tingkah kurang anggun.. Heran, deh. Kok doi masih aja nggak mau menoleh.

 http://poetrysync.blogspot.co.id/

Yah, bisa jadi sekarang jodoh lagi kelayapan ke mana-mana, tapi suatu hari pasti tobat dan dilabuhkan Tuhan ke pelukan kita. Iya nggak, sih?

Gue pun memutar otak. Mungkin gue masih jomblo karena kaum adam di sekitar gue berpikiran seperti di bawah ini.

http://www.huffingtonpost.ca/

Mapanin diri dulu, ah.
Sakit, sih, sekarang ini yang dipuja-puja nggak mau berhubungan dulu sama lawan jenis. Eh, tapi siapa tahu dia lagi fokus menata masa depannya?

PHP-in cewek? Ogah!
Setiap cewek pasti nge-fly kalau dapat pesan singkat dari dia, apalagi kalau pesannya bikin baper. Eh, tapi kalau dia ngirim pesan cuma untuk buat seneng sementara gimana? Duh, mending nggak usah, deh!

Paras dia cantik banget. Aku mana pantas untuk dia.
Biasanya yang ngomong kayak gini itu cowok yang wajahnya pas-pasan. Eit, tapi yang berpikiran kayak gini harus dihargai, lho! Walaupun dia minder dan nggak mau melakukan pendekatan, jangan-jangan dia adalah orang yang terus berdoa semoga pujaan hatinya dapat cowok cakep yang dianggapnya lebih pantas dibanding dia. Nah lho.

Gila pinternya kabina-bina. Gue musti banyak belajar lagi supaya sebanding!
Dia nggak mau kalah sama si cewek; dia mau lebih baik lagi. Dia sadar bahwa laki-laki harus sanggup memimpin perempuan. Idaman nggak, sih?

Alim amat. Nanti, dah, langsung temuin ayahnya aje.
Agak lama, sih, nunggu kehadirannya. Tapi sekali datang.. Nggak main-main, langsung muncul dengan keseriusannya. Nggak banyak janji palsu, langsung menunjukkan bukti nyata.

Nggak boleh 'ngerusak' dia. Cukup disentuh dengan doa.
Ini, nih, yang biasanya paling di-demen-in. Karena kalau sentuh-menyentuh anggota tubuh, bisa jadi hawa nafsu yang terbakar. Tapi kalau sentuh-menyentuh melalui doa? Makin cinta, makin deket sama Yang Maha Kuasa lagi. Cocok, deh, jadi seorang imam!

http://www.wall-pix.net/

Ah, gue stay positive aja, deh. Pada akhirnya, yang penting bukan bagaimana mencari sosok idaman, tapi bagaimana menjadi sosok idaman itu sendiri. Kalau sudah begitu, justru kita yang dicari-cari. Intan berharga itu nggak bisa dimiliki sembarang orang.

Sama halnya gue.


Dan lo, bisa juga :)

Written by Miichan on 18th June 2016

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...