Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

LinkWithin: Tanpa Edit HTML, Tambah "Artikel Lainnya" di Bawah Pos

Tepatnya bukan "Artikel Lainnya" kalau di blog ini, tapi "Anda mungkin juga meminati:" Coba di-scroll ke bawah dulu untuk memastikan xD

Awalnya Miichan ketemu tutorial untuk menambah fitur ini juga, tapi mengedit HTML. Sukses, sih, tapi Miichan jujur kurang suka karena terlalu dempet dengan pos di atasnya, belum lagi tidak ada gambarnya "=   =)

Dan kalau berbicara soal mengedit HTML, itu mesti ekstra teliti. Kalau salah sedikit dan lupa di-back-up, hmm.. bisa keteteran juga.

Tapi akhirnya Miichan menemukan tutorial yang Miichan cari, tepatnya website penyedia fiturnya!


Penampakan LinkWithin


Keuntungan memakai jasa website ini ada dua, yaitu tidak ribet dan hasil memuaskan!

Sebenarnya cara penggunaannya sudah ada di website tersebut dalam bahasa Inggris, tapi Miichan rasa tidak ada salahnya juga menerjemahkannya agar teman-teman lebih mudah mengerti ^^)

  1. Isi kolom Email dan Blog Link.
  2. Pilih situs penyedia blog kamu, apakah blogger atau wordpress dan sebagainya. 
  3. Terakhir, pilih berapa banyak artikel yang ingin ditampilkan, apa itu 3, 4, atau 5.
  4. Jika teks di blog kamu berwarna terang (seperti putih) sedangkan latar belakangnya gelap, kamu bisa mencentang kalimat 'my blog has light text on a dark background'
  5. Klik 'Get Widget!'
  6. Kamu akan beralih ke laman berisi tutorial pemasangan widget tersebut.
  7. Klik 'Install Widget' yang terdapat pada poin nomor satu.
  8. Kamu bisa mengubah nama widget tersebut, tapi Miichan rasa jika tidak diubah pun tidak apa-apa karena namanya tidak dipampang begitu besar sehingga menjadi pengganggu. Jika memang tidak ingin diubah, langsung klik 'Menambah Widget'
  9. Kamu akan sampai ke menu tata letak di blogger.
  10. Pindahkan widget tersebut ke bagian bawah pos, seperti pada gambar di bawah ini.
  11. Klik 'Simpan Setelan'
  12. Selesai, yey!
Semoga bermanfaat! ^ ^)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...