Langsung ke konten utama

kok

Rintihan Sang Pendosa

www.pinterest.com

Kepada Yang Maha Besar.
Kepada Yang Maha Kuasa.
Kepada Yang Maha Melihat, juga Mendengar.

Sang Empunya Segala.

.

.

Izinkan aku dalam kerapuhanku menghadap-Mu dengan rintihan.

Aku, seorang aku, yang berlumur dosa, lalu Kau tutupi aibku dan membiarkanku baik dipandang orang.

Aku, seorang aku, yang selalu meninggikan hati, merasa akulah pusat dunia. Aku dan aku. Padahal aku yang 'hebat' ini pasti akan menengadahkan tangan tiap terluka, lalu mengiba akan rahmat-Mu, lagi.

.

.

Ampuni aku, Ya Tuhan.

Aku tak tahu kapan akan kembali pada-Mu. Juga tak tahu apakah akan diterima atau tidak di sisi-Mu. Seorang aku yang  terlalu kotor. Selalu membisikkan doa agar disucikan kembali jiwanya, tapi seketika berbuat zhalim lagi, seketika berpaling lagi.

Namun Engkau tak jua seketika menghentikan turunnya karunia. Tetap Kau izinkan ragaku bersatu padu dengan nyawa; Kau berikan kekuatan untuk jantungku berdenyut; Kau tidak lantas menarik semua titipan-Mu yang sering menjadikanku angkuh, merasa akulah pemilik seisi alam semesta.lagi.

.

.

Ampuni aku, Ya Tuhan.

Aku yang terus membangkang, tetapi terus mengaduh pada-Mu pula, bagaikan tak punya malu.

Sungguh hasratku akan dunia berkibar ke mana-mana. Begitu banyak hal yang ingin kupinta dengan belas kasih-Mu, Tuhan--tentu Engkau tahu. Nyatanya sekarang aku jadi malu meminta, sangat malu meminta. Terus menerus meminta padahal tingkah tak jauh dari nista.

.

.

Ampuni aku, Ya Tuhan.

Walau kekhilafanku telah membentuk gunung, walau kefasikanku mengalahkan jumlah buih laut, beri aku ampunan-Mu, Tuhan.

-29/07/2016-
Zaf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...