Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

A Friend in Need is A Friend Indeed

Well, sebenarnya kalimat itu Miichan kutip dari soal ujian semester terakhir Miichan di SMP mapel Bahasa Inggris xD

Jadi, kemarin, tepatnya 11 Juli 2016 pukul 7.30, Miichan mengikuti seleksi masuk SMA Negeri 1 Medan. Bisa dibilang, itu SMA paling favorit, paling bergengsi di Medan. Dan seperti kata kakak kelas Miichan (halo Kak Dhiyaaa~).. soal seleksi masuknya pun luar biasa, membuat Miichan menarik napas lega bercampur cemas setelah ujian selesai.

Tapi Miichan nggak mau membahas soal ujian atau hasilnya yang akan keluar hari Jumat besok.

Yang ingin Miichan bahas adalah saat Miichan belajar bersama teman Miichan--namanya Annisa Isma Shafira--demi ujian penentu tiga tahun ke depan milik Miichan.

Miichan ini tipe anak yang kalau sendirian (dan ada ponsel pintar di sisi), jadi paling malas sedunia, paling mager! Akhirnya Miichan berinisiatif ngajakin teman-teman yang mau ikut ujian SMANSA (SMA N 1 Medan) untuk belajar bersama.

Beberapa teman Miichan sempat mengiyakan.

Tapi batal.

Hiks.

Oke, mereka mungkin punya keperluan masing-masing.

Jadilah Fira seorang yang datang hari Sabtu, 9 Juli 2016 kemarin. Dia orang yang paling pertama Miichan ajak dan satu-satunya yang jadi datang :')

Fira yang di depan, Miichan yang pakai kacamata.

Fira datang sekitar jam 09.30 dan baru balik jam 18.00, pas lagi hujan deras. Aktivitas kami? Ya, belajar--belajar untuk ujian, belajar berkomunikasi yang baik dan menyenangkan (baca: ngobrol), belajar masak (baca: ngobrak-ngabrik dapur untuk makan siang), juga belajar sedikit tentang fotografi (baca: selfie)

Begitulah.

Tapi Miichan tetap mengharapkan kehadiran Fira hari Sabtu itu dengan beberapa alasan, yakni:
  • Dengan kehadiran Fira yang termasuk deretan siswa berperingkat di kelas memacu Miichan untuk belajar, di samping menghilangkan jemu yang kadang-kadang datang mendadak sewaktu mengerjakan soal.
  • Fira ini jagonya biologi, sedangkan Miichan di bidang matematika, jadi kami bisa saling melengkapi.
  • Sewaktu membahas soal mapel bahasa--yang bukan ilmu pasti--biasanya kami berdiskusi sampai akhirnya sepakat menentukan jawaban soal tersebut. Singkatnya? Bertukar pendapat sekaligus ilmu.
  • Numpang searching di HP Fira
  • Numpang selfie di HP Fira
  • Ngabisin kue lebaran bareng
  • Yang terakhir, kami bisa saling menguatkan sebelum menghadapi ujian.

Ketika Miichan menulis judul A Friend in Need is A Friend Indeed, secara tidak langsung Miichan menyebutkan nama Fira--iya, tapi tidak berarti Miichan menuduh teman-teman Miichan yang tidak jadi datang itu fake friend.

Hanya saja, saat itu Miichan semakin mengerti bahwa 'teman' itu bukan pendamping untuk jalan-jalan atau ke kantin-toilet-ngobrol di sudut kelas-dsb bareng aja, bukan di saat suka aja. 

'Belajar' itu bisa dibilang hal yang susah juga, apalagi kalau mempelajari yang tidak kita sukai, yang tidak kita kuasai. Tapi dengan adanya teman, hal yang susah itu bisa dilalui dengan cara yang menyenangkan. Hal yang membuat kepala penat bisa dilewati tanpa disadari jika bersama teman.

Dari situ juga Miichan belajar bahwa siapa teman kita menunjukkan siapa diri kita.

Miichan bersyukur punya teman yang rajin belajar kayak Fira.

Tapi jangan baper, ya, Fir.

Lagi ketawa tiba-tiba dijepret, untung Miichan dari sananya emang cantik

Hari Jumat besok adalah pengumuman siswa-siswi yang diterima di SMA Negeri 1 Medan.

Miichan berdoa semoga Fira dan Miichan, juga teman-teman Miichan yang lain, diberi izin oleh Tuhan untuk bersekolah di sana.

Teman-teman yang membaca ini juga, mohon doanya, ya! :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...