Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Pendidikan Itu "Mahal", Sumpah!

Konban wa, guys!

Miichan sewaktu liburan kemarin, ya, kalau begadang nggak nanggung-nanggung. Tapi karena sekarang sudah sekolah seperti biasa, apalagi sudah SMA /ea, jadi Miichan putuskan untuk ngeblognya sebentar aja..

Langsung ke intinya.

"Take me to the place,
where I can enjoy my life without any lies,
please."

Udah bisa bahasa Inggris, ya, gini jadinyaa ~ tahu-tahu grammar dan vocabulary-nya salah


prokimia.blogspot.com
Tapi,

serius.

Adiknya nenek Miichan tadi datang berkunjung ke rumah, bareng suami beliau dan anak bungsunya yang satu tahun di bawah Miichan. Kesimpulan percakapan kami adalah.. pendidikan itu mahal.

Sebenarnya wajar, sih, kalau pendidikan itu mahal. Karena nggak murah, makanya pendidikan--yang sesungguhnya--nggak bisa dimiliki orang murahan. 

Tapi yang dimaksud mahal bukan mahal seperti itu.

Dan masalahnya bukan pada pendidikannya juga. Lebih tepatnya, prestige di dalam pendidikan itu.

Alurnya begini.

Nenek Nani--begitu Miichan panggil--memiliki dua anak laki-laki yang masuk ke Sekolah X. Sekolah X ini sekolah terfavorit dan.. yah.. bisa dibilang 'derajat kamu' akan naik kalau masuk ke Sekolah X. Masuknya juga bukannya mudah, sih. Ada seleksi dan segala macam.

Yang perlu diingat, kedua anak Nenek Nani ini pintar. Pintar pakai banget dalam hal akademis. Jadi, ya, hal yang wajar mereka berdua bisa masuk ke Sekolah X.

Cerita dari anak laki-laki yang lebih tua dulu.

Kelas satu, dia masih juara umum, tuh. Kelas dua juga, the problem had not begun yet. Dan masuk kelas tiga? Selamat, Anda mendapatkan peringkat 40.

Wow.

Kalau jatuh ke peringkat dua, tiga, lima, mentok-mentok yang belasan, masih mungkin kali, ya. Tapi ini 40, guys, EMPAT PULUH.

You were fucking kidding me, Granny.

.

.

Adiknya juga bernasib sama. Jatuhnya 'cuma' ke peringkat 30-an, sih. Tapi yang biasanya bertengger di puncak, tiba-tiba kepeleset sampai ke situ kan sepertinya ada yang aneh juga.

Dan ternyata bukan 'sepertinya' lagi.

Memang ada yang aneh.

.

.

Ternyata, the fact is.. ada 'permainan' yang dinamakan 'jaga peringkat'. 

Pakai apa?

Ya, nggak usah sok polos lagi, deh. Semua juga sudah mengerti, kan?

.

.

Jadilah sang kakak nggak bisa berbuat apa-apa karena waktu itu, Nenek Nani juga kondisinya lagi terbatas. Tapi di zaman sang adik, sang adiknya ini yang ngotot minta tolong peringkatnya dijaga sejak awal.

Pahit, tapi keadaan menghimpit.

Yaaa gue juga bisa ngertiin rasanyaa gimanaa, ketika lo yang biasanya ada di atas, seketika harus mempersilakan orang yang dompetnya tebal, padahal dia dibandingkan sama lo itu nggak ada apa-apanya. Udah sakit, harga diri juga diinjak-injak. Mati aja.

^ sumpah ini Miichan frontal, jadi maafkan.

.

.

Tapi beneran itu nggak banget. BIG NO untuk yang seperti itu.

Jadi sebenarnya tujuan sekolah itu apa? Untuk peringkat? Untuk gengsi-gengsian? Sia-sia aja, dong, kita menghabiskan 12 tahun belajar, belum dihitung kuliahnya, kalau cuma untuk hal-hal nyeleneh seperti itu.

Ilmu jauh lebih berharga, guys.

Sayangnya di zaman sekarang ini, 'hasil' itu lebih disegani dibandingkan 'proses'nya.

Dunia udah kebalik memang.

.

.

Makanya, sewaktu Miichan berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa tadi, Miichan menyampaikan semua yang membuat Miichan gegana--gelisah galau merana. Apa jadinya kalau Miichan harus menghadapi yang seperti itu?

Miichan berharap banget bisa ngomong di depan 'mereka yang seperti itu' something like..

"Tolong, hargai kami yang lelah bolak-balikin buku, bahkan sampai nangis frustrasi karena nggak ada yang masuk ke otak," << serius Miichan pernah seperti ini sewaktu kelas 8

"Tolong, pikirkan orangtua kalian juga yang udah capek-capek kerja keras. Uang segitu banyak kalian kira bisa didapat sekali jentikan jari? Oh, maaf. Kayaknya bagi kalian, menjentikkan jari itu terlalu lama, ya,"

"Tolong, renungkan apa manfaat dan mudharatnya, apa itu memang jalan yang terbaik untuk kalian?"

"Tolong.. ingat Tuhan,"

.

.

Miichan mungkin nggak punya wewenang untuk menindaklanjuti mereka. Miichan bukan orang besar. Miichan juga bukan orang yang suci--dosa Miichan mungkin jauh lebih banyak.

Tapi..

Miris sekali Miichan rasa, pendidikan bisa diselewengkan sebegitu mudahnya.

Lebih parahnya lagi, Nenek Nani bercerita, sewaktu Nenek Nani akhirnya sempat 'protes', mereka dengan santainya berkata, "Kalau yang pintarnya mah kami buang, Bu. Mereka bisa bertahan, kok,"

Uwak kau jemping.

.

.

Bagaimana negara kita sepuluh tahun dari sekarang? Dua puluh tahun dari sekarang?

Memang masih banyak orang yang baik, jujur, bahkan pintar juga, di sekitar sini. Di sekitar Miichan juga pasti banyak. Tapi, pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga itu ada benarnya juga.

.

.

Seperti yang Miichan bilang, Miichan juga bukan malaikat yang nggak memikul dosa. 

Untuk kamu, apalagi yang sama-sama pelajar di sekolah umum, ayo sama-sama merenung melalui pertanyaan-pertanyaan ini yang sedari tadi mengusik Miichan.
  1. Apa tujuan kita belajar di sekolah?
  2. Ilmu yang menentukan nilai atau nilai yang menentukan ilmu?
  3. Benarkah nilai dalam secarik kertas sangat menentukan hidup kita?
  4. Definisi pintar itu apa?
  5. Bagaimana, ya, ekspresi orangtua tiap kali pulang kerja?
  6. Apa kita benar-benar bahagia jika kita meraih sesuatu tanpa usaha sendiri?
  7. Sebenarnya tujuan kita hidup itu apa?
.

.

Tahu, deh, Miichan kenapa jadi sok pintar dan bijaksana begini, ya. Mentang-mentang melontarkan pendapat itu bebas, beginilah Miichan bertindak akhirnya, agak stress (atau memang sudah stres?) :/

Mohon koreksi jika dirasa ada yang kurang tepat, ya..

The last, ya sudahlah.

Benahi diri masing-masing dulu, yuk?
Sisanya, serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa :)

Katakanlah, "Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata."
- Q.S. 67:29 -

.

.


Omong-omong, pada akhirnya, kedua anak Nenek Nani sukses, kok. Bahkan, waktu sang adik nggak berhasil dapat jalur undangan ke fakultas kedokteran di sebuah universitas ternama karena undangannya terbatas dan sudah di-booking semua, beliau berhasil masuk melalui jalur UMPTN.

Bangga, dong.

Dan lucunya--ini kenyataan--Nenek Nani sempat berpapasan dengan wakil kepala Sekolah X di sebuah pesta beberapa saat setelah pengumuman UMPTN.

W: "Eehh, Ibu?"
N: "Eeeh, Bapak?" *sebenarnya masih kesal* "Bapak tahu, Pak. Anak saya, berhasil masuk FK lewat jalur UMPTN, lho. Murni,"
W: "Yang benar-benar berlian pasti akan terlihat sendiri, Bu. Selamat, ya,"
N: *dalam hati* "Halah banyak kali cakap kau."

Daaaan.. sekian, terima kasih sudah membaca tulisan tidak jelas ini :")

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...