Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

8 Tips Agar Tubuh Tidak Lemas Saat Berpuasa

Yo, all, happy fasting!

Siapa yang puasa? Semoga kuat sampai akhir ya :D Kali ini, Miichan ingin berbagi informasi agar tubuh kita tidak lemas saat berpuasa. Yah, yang namanya puasa itu kan yang pasti menahan lapar dan haus dari shubuh sampai maghrib, belum tentu kita bisa segar bugar saja kan?

Karenanya, langsung saja :D

  • Mengonsumsi serat
Saat sahur, makanlah makanan yang banyak mengandung serat. Selain memperlancar sistem pencernaan kita, serat juga membuat kita kenyang lebih lama. Serat banyak diperoleh di sayur-sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Tapi ada dua juga sayur yang nggak termasuk serat, yaitu cabe-cabean dan terong-terongan ^^)/
  • Mengonsumsi makanan berprotein
Makanan berprotein seperti ikan, ayam, dan telur juga sangat penting karena menambah energi dalam tubuh kita. Kurangnya asupan protein akan membuat tubuh cepat lemas dan lesu, lho.
  • Mengonsumsi lemak baik
Lemak baik bisa kita dapatkan dari ikan, kacang-kacangan, minyak kelapa murni, dan buah-buahan seperti alpukat. Lemak baik diperlukan tubuh untuk menyerap nutrisi, serta berperan penting juga untuk menyediakan energi bagi tubuh.
  • Batasi makanan bergaram
Mengkonsumsi makanan dengan garam yang tinggi justru membuat tubuh kita cepat lapar dan dehidrasi, jadi alangkah baiknya si 'garam' ini kita batasi. Kenapa dibatasi, bukan dihindari? Karena menurut Miichan, tubuh kita juga membutuhkan garam :D
  • Hindari makanan yang lembek
Untuk menjaga tubuh tetap berenergi, sebaiknya jangan memakan makanan yang lembek. Kecuali untuk orang yang memang hanya bisa makan makanan lembek dan ingin puasa, ya. Hal ini dikarenakan makanan lembek dapat membuat tubuh menjadi cepat lemas.
  • Penuhi kebutuhan cairan
Selain makanan, jangan lupa bahwa tubuh kita juga butuh cairan. Cairan yang diutamakan adalah air putih! Usahkanlah minimal 8 gelas sehari, pada saat sahur dan berbuka, jangan pada saat siang bolong. Kecuali untuk kasus lupa tanpa disengaja ^-^ Jika kebutuhan cairan kita terpenuhi, kita akan terhindar dari dehidrasi.

Selain itu, hindari minuman manis saat sahur. Tidak hanya konsumsi yang asin yang membuat kita lemas, tetapi yang manis juga membuat lemas. Seperti teh manis misalnya. Yah, gula memang memberikan tambahan energi bagi kita, tapi itu hanya bersifat sementara. 
  • Olahraga
Selain memperhatikan yang kita konsumsi, ada baiknya juga kita beraktivitas fisik seperti olahraga. Dengan berolahraga, kita membuat tubuh kita menjadi bugar. Tapi, perhatikanlah banyak energi yang dibutuhkan untuk berolahraga, dan pilihlah olahraga yang ringan saja. Dikhawatirkan jika olahraga terlalu berat, maka akan menghabiskan energi terlalu banyak dan menghabiskan energi kita.
  • Jangan dirasakan
Ya, biasanya kalau di bulan puasa, kita akan semakin perhatian sama jam. Padahal, ada baiknya kita tidak usah begitu memikirkan puasa. Apalagi sambil memikirkan makanan dan minuman yang akan disediakan waktu berbuka nanti. Malah menggoda, you know? -_- Ada baiknya kita bersugesti positif bahwa kita kuat menahan lapar dan haus sampai waktunya tiba. Sama halnya perasaan takut, perasaan lapar dan haus juga dapat dikendalikan melalui pikiran. 

Daripada memikirkan rasa lapar, ada baiknya kita menyibukkan diri. Seperti olahraga (yang disebutkan di atas), membaca buku, menekuni hobi, atau yang lainnya. Bahkan lebih baik lagi, kita menyibukkan diri dengan beribadah. Selain waktu yang tidak terasa, pahala pun bisa kita dapatkan dengan beribadah.

OoOoO

Nah, semoga dapat bermanfaat ya!
Ganbatte ne, pasti kita bisa berpuasa sampai maghrib nanti! Yooosh~!

Source here and here

Komentar

  1. Oke Miichan, makasih tipsnya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama ^^)/ Mari kita berpuasa dengan penuh semangat :D

      Hapus
  2. Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar, ya, iCHA Chan ^w^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...