Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

10 Hal yang Dilakukan di Akihabara, Tokyo

"Akihabara merupakan pusat perbelanjaan untuk barang elektronik, suku cadang elektronik, anime, manga, dan doujinshi. Kawasan ini merupakan surga otaku di bidang anime, manga, dan permainan video. Di tempat ini terdapat banyak maid cafe. Di sini juga terdapat theater AKB48." (wikipedia)

1x1.trans 10 Things To Do When in Akihabara, Tokyo!
Minna~!
Kali ini Miichan menemukan suatu postingan yang Miichan rasa cukup seru bagi Miichan (dan mungkin juga bagi pengunjung?) untuk dibagikan. Yap! "10 Hal yang Dilakukan di Akihabara, Tokyo" Seperti definisi di atas, bagi para otaku ataupun wota, Miichan rasa Akihabara adalah kota impian bagi mereka!! :D

Oke, karena di gambarnya menggunakan Bahasa Inggris, maka akan Miichan terjemahkan. Check this out!

  1. Kunjungi maid cafe (Selengkapnya mengenai maid cafe >> Wikipedia : Rumah Makan Cosplay)
  2. Beli barang elekronik di Yodobashi Akiba
  3. Beli souvenir yang unik dan menarik di Donki / Don Quijote Akihabara
  4. Kunjungi Gundam Cafe
  5. Kunjungi AKB48 Cafe and Shop
  6. Kunjungi Tokyo Anime Center (terdapat pula figuran karakter anime dengan ukuran lebih besar dari yang sebenarnya! Tempat ini adalah dunia para fangirl~)
  7. Beli mainan dan figuran di Mandarake
  8. Mengumpulkan gachapons / kapsul yang berisi pernak-pernik di Akihabara Gachapon Kaikan (hanya perlu 100 yen atau 10.000 rupiah! ><b)
  9. Kunjungi Kuil Kanda Myojin
  10. Berbelanja di Cospa Gee Stora Akihabara
1x1.trans 10 Things To Do When in Akihabara, Tokyo!
Waah~! Ada begitu banyak hal menarik yang dapat dikunjungi di Akihabara, khususnya bagi otaku dan wota! Yap, sebenarnya 10 hal ini belum seberapa, masih banyak hal lain yang mungkin lebih menarik lagi di sana. Nah, apa kalian ingin pergi  ke Akihabara? Miichan, sih, ingin sekali!! :D

Bagi yang memiliki rekomendasi tempat atau kegiatan lainnya, Miichan tunggu di kolom komentar~
Sankyuu~

Source here
Sorry for the inaccuracies of the translation

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...