Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

[MIICHAN'S UPDATE] Permohonan Maaf Miichan

Minna~!

Sebelum Miichan mulai aktif ngeblog lagi mulai malam ini (Insya Allah), Miichan akan menyampaikan permohonan maaf Miichan yang sebesar-besarnya!

Gomennasai!!

Karena Miichan telah hiatus total setelah sekitar 10 hari. Memang baru 10 hari, tapi Miichan sadar dampaknya sangat besar karena banyak pesan chatbox yang baru terbalas tadi, kemudian beberapa komentar yang belum sempat Miichan balas. Juga segmen yang tampaknya sedikit terlantarkan dan beberapa project yang harusnya sudah Miichan selesaikan tetapi malah tertunda seperti ini (TT^TT)/

Ya, alasan Miichan hiatus seperti kemarin-kemarin adalah karena Miichan mulai masuk kembali ke sekolah. Meskipun hanya seminggu, tetapi benar-benar menyita waktu Miichan. Miichan hanya masuk sampai jam 12 siang, tetapi banyak tugas untuk di rumah yang harus dikerjakan dari Pesantren Kilat yang diadakan sekolah. Selain itu, waktu juga semakin tersita dengan banyaknya rapat dari organisasi rohis yang Miichan ikuti dalam rangka mempersiapkan acara mabit sekolah. 

Belum lagi pekerjaan wajib Miichan di rumah, seperti menjemur, mengangkat, dan melipat kain. Kemudian mencuci piring dan membantu Nenek memasak. Lalu adanya ajakan buka bersama dan berburu takjil bersama teman Miichan.

Kelihatannya yang menyita waktu hanya pekerjaan sepele, tetapi karena banyak, ya, jadi benar-benar menghabiskan waktu (TT^TT)

Sekali lagi, Miichan mohon maaf dan akan mengusahakan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Seminimalnya Miichan akan berusaha on seminggu sekali karena tampaknya kesibukan Miichan akan sama padatnya seperti kemarin-kemarin setelah liburan selesai 2 minggu mendatang.

Ya, mohon maaf semuanya!!
Bagi yang ingin memprotes dan mengkritik Miichan, silakan di kolom komentar. Dan Miichan juga mohon sarannya agar Miichan bisa lebih baik lagi dalam menjadi seorang blogger.

Gomennasai, minna!
Hontou ni arigatou gozaimashita!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...