Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

4 Kata 'Amin' yang Berbeda Makna

Konban wa, minna!

Kesempatan kali ini, Miichan ingin berbagi tentang secuil informasi dari agama Islam. Ya, pertama-tama, Miichan mau bertanya. Bagaimana cara kalian untuk mengaminkan suatu doa? Apakah "Amin"? Atau "Amiin"? Atau ada yang "Amiiiiiiiiiiin"?

Dan ternyata, kata 'Amin' dalam Bahasa Arab memiliki 4 makna yang berbeda. Tergantung dari bagaimana cara kita mengucapkannya. Berikut adalah macam-macam 'Amin' tersebut :

  • Amin (Aman)
  • Aamin (Meminta perlindungan)
  • Amiin (Jujur)
  • Aamiin (Ya Allah, kabulkanlah doa kami)

Dan 'Amin' yang harusnya kita gunakan adalah 'Amin' yang terakhir, yang diberi underline. Karena dalam Bahasa Arab, jika kita salah harakat (panjang pembacaan) dalam suatu kata, maka bisa saja kita malah mengucapkan kata yang lain.

Sekian, semoga bermanfaat ya! ^^)/
Miichan senang sekali jika kalian meninggalkan jejak di kolom komentar, apalagi jika kalian berniat membagikan informasi ini.

Sampai jumpa~ :D

Bersumber dari Salfa Nafisa Nuha (teman Miichan) :D

Komentar

  1. Ooooh gitu ... Baru tau lho aku, Kak Miichan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, karena sekarang sudah tahu, semoga dapat diamalkan ya, informasi ini :D Terima kasih sudah berkunjung! ^^

      Hapus
  2. P. Segmen Lika sudah keluar. www.likamalikablog.co.vu ~Arigato ne~

    BalasHapus
  3. Aku sih kayaknya udah pernah baca, tp lupa lagi. Thanks infonya, Miichan! Aku jd inget lagi... ho ho ho #aneheuy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, semoga bermanfaat ya :D
      Terima kasih sudah berkunjung (^^)/

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...