Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Kenapa Harus Sertakan Sumber di Artikel Blog?

Hola hollaa!! Di sini Miichan mau ngepost berdasarkan suara hati Miichan sendiri #eh

Kalau diperhatikan, rata-rata di setiap post Miichan di blog ini ada tulisan 'sumber' atau 'source'. Kenapa?? Kok harus disertakan sumbernya sih? Sepenting apa? Emang gunanya buat apa? Bukankah lebih baik nggak usah ditulis biar kesannya itu bikinan sendiri, carian sendiri, ditemukan sendiri?

Nah, Miichan dulu kayak begitu. Sampai suatu ketika, Miichan mengalami peristiwa seperti ini :

Miichan membuat sebuah fanfic berjudul 'Keroppi Tidak Sedih Lagi' yang menceritakan Keroppi ikut lomba basket. Tapi saat latihan, Keroppi diledek oleh teman-temannya karena pendek. Akhirnya dia membuat alat dan berlatih keras, hingga akhirnya kelompoknya menang. Selanjutnya, Miichan post di blog Miichan yang telah Miichan hapus. Kemudian, setelah beberapa saat, Miichan iseng-iseng cari soal Keroppi. Terus ketemu dan Miichan buka. Lho, kok ada fanfic yang persis kayak punya Miichan? Miichan baca.. Iya, sama persis. Memang sih, di blog itu tidak disebutkan itu karyanya sendiri, tetapi juga tidak disebutkan sumber ceritanya.

Karena itu, Miichan jadi kesal, marah, kecewa, sedih.. Miichan sudah capek-capek bikin, capek-capek berkarya, tetapi dicuri orang. Kesel nggak sih? Misalnya kalian ujian, terus belajar, terus pas ujian, temen nyontek. Akhirnya, nilai kalian sama-sama bagus, padahal temen kalian itu nggak belajar. Kesel kan? Sama!

Maka dari itu, Miichan udah tahu gimana rasanya dicuri karyanya. Makanya, sejak dari itu, Miichan pun selalu menyertakan sumber darimana Miichan mengambilnya sebagai bentuk rasa menghargai dari Miichan. Nah lho, kalau misalnya kalian lihat ada artikel bagus, asal comot nggak bilang nggak menyertakan sumber, sopan nggak sih? Udah diambil, terus kita nggak ada sama sekali terima kasih atau bentuk menghargai?

Nah, maka dari itu, Miichan selalu berusaha untuk menyertakan sumber. Ini termasuk dalam etika membangun blog juga, walaupun hanya menurut Miichan.. Mungkin ini hal sepele, tapi pencomotan secara sengaja tanpa sumber itu sudah termasuk pencurian! Miichan hanya ingin mengingatkan hal itu saja. Dan itu juga yang membuat Miichan membuat blog ini anti copypaste.

Sekian, semoga isi hati Miichan yang amburadul ini bermanfaat ya ^^ Tanggapan kalian bisa ditulis di kolom komentar! ^^

Komentar

  1. Aku jg punya cerpen pas itu bwt lomba, eh, ada yg ngikutin cerpennya, persis lagi kyk punya aku! memang menyebalkan sekali orang yg seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang tidak mungkin ada orang yang suka kepada copasser tanpa menyertakan sumber seperti itu :(

      Terima kasih sudah berkomentar, ya, iCHA Chan ^^

      Hapus
  2. mau nanya nih ane michan, misalkan ya.. video youtube.. masukan ke blogger postingan.. berarti kita cantumkan url sumber youtube nya di bawah, sourcenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miichan rasa, sih, perlu. Atau minimal tulis nama uploader video itu sendiri.. Tapi Miichan kurang tahu juga yang terbaiknya bagaimana, karena Miichan belum pernah memasukkan video youtube ke postingan. Hanya pernah mencantumkan link yang mengarah ke youtube saja :)

      Terima kasih sudah membaca dan berkomentar, ya ^^
      Oh ya, omong-omong, sebenarnya pertanyaannya yang mana ya? '-'

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...