Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Kasus Detektif - Dimanakah Letak BOM?!

Ohayou minnasan. Ogenki desu ka. Kali ini, Miichan mau ngepost teka-teki kasus. Semoga suka dan bisa jawab ya.

Tipe Case : Easy

Suatu pagi, detektif bernama Detektif Miichan sedang menikmati pagi harinya sambil membaca komik di balkon belakang. Kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan Detektif Miichan lekas membuka pintunya. Ternyata itu adalah Pak Walikota. Kemudian, inilah percakapannya.

W : Detektif, hari ini ada surat aneh yang berisi ancaman sampai di rumahku.
D : Oh ya? Coba, saya mau lihat!
W : Ini (memberikan surat). Oh ya, sejak dua tahun yang lalu, surat ini selalu datang pada tanggal yang sama. Dan kemudian terjadi pemboman di kota ini. Sepertinya, ini surat ancaman bom lagi.
D : Hm hmm.. (sambil membaca)

"Malaikat pencabut nyawa menyiapkan pedangnya dan menunggu angin akan berhembus ke arah utara. 41-1-31-1-02-1-02-51-11, kau mungkin akan terpaku pada tempat di mana berkumpulnya barang-barang yang kau anggap tak penting, di mana di situlah pusat permasalahannya!" 

W : Detektif?
D : Siapkan mobilmu
W : Apa?
D : Panggil penjinak bom, kita ke tempat bom itu sekarang. Sebelum terlambat!

Pertanyaannya :
1. Di manakah letak bom tersebut?
2. Kapan bom tersebut akan meledak?

Nah, Miichan tunggu jawabannya di kolom komentar ya! ^^

-Update-
Kunci jawaban lihat di sini (^^)

Komentar

  1. mungkin bom nya ada di tempat rongsok meledak jam 12 siang

    BalasHapus
  2. mungkin
    bom itu ada ditempat pembuangan akhir, dimana semua barang/ benda dianggap tidak penting. dan waktunya berdasarkan angka diatas kalo dikurang2 hasilnya akan jadi -59 jadi jam 5 pagi lewat 9 menit kali.
    just my opini^^

    BalasHapus
  3. Terima kasih bagi yang telah berkunjung dan menjawab kasus di atas!! ^^
    Untuk melihat kunci jawabannya, telah Miichan posting dari termasuk ke postingan Mei 2014 :)

    BalasHapus
  4. Haiiihh... ceritamu bagus bangettt, Miichan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya, sudah datang dan berkomentar ^^)/
      Datang lagi, ya, iCHA ^^

      Hapus
    2. Di taman kota karena angka tersebut dibalikkan dan dipecahkan dengan sandi angka pada tanggal 13-1-14 pada jam 11 lewat 15 menit

      Hapus
    3. Terima kasih sudah menjawab, Khoza ^^ Mohon maaf baru Miichan lihat komentar Khoza > < Silakan lihat kunci jawabannya pada link di atas, ya ^^

      Hapus
  5. Di Mal jam 12 siang atau malam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah menjawab, mohon maaf baru saya balas > < Silakan melihat kunci jawaban pada link di atas, ya ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...