Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Galeri Detective Conan #2

Ohayouu, minna-san :) Pada pagi hari ini, Miichan mau share Galeri Detective Conan part #2nya. Kalau belum lihat yang part #1, di sini nih >> Galeri Detective Conan #1 ^^ Sore o konomu negatte imasu (Semoga kamu suka)!!

Gyaa, Shinichi ga tottemo kawaii desu yo! Mungkin Miichan tau kenapa banyak yang ngefans sama Shinichi-kun ;-;

Ini adegan pas Ai dan Conan mengejar Pisco a.k.a salah satu anggota BO yang akhirnya ditembak mati oleh Gin juga. Mereka berdua sama-sama kawaii ya ><

Pembajakan bus! Bomnya akan meledak! Orang-orang berlari keluar ketakutan, sementara Ai diam saja di dalam bus. Ia berpikir bahwa dia bodoh. Karena sejak dia mengkhianati organisasi, dia merasa tak ada tempat untuknya. Tapi Conan menyelamatkannya di saat terakhir sampai berdarah!! >w<

Nah, di sini adegan yang Miichan cari-cari di komik, dan ada di vol. 71/72. Conan dan Ran pergi ke London, tapi Conan ketahuan sebagai Shinichi ada di London. Dan, terpaksa Conan jadi Shinichi dan.. ><

Ini adalah episode yang pertama kali Miichan baca dari komik punya temen. Hayoo, Conan ngesave apa itu O.o

Pasangan Kudo pas masih muda. Yusaku sebagai novelis misteri bestseller dan Yukiko sebagai mantan aktris terkenal.

Klopnya ya! *shissin*

Shuichi Akai, keren ya! >< Ini pacarnya Akemi Miyano, kakaknya Shiho. Juga kakaknya Masumi Sera. Dia jadi Subaru, keren banget ><


Sekian ya minna-san, kapan-kapan Miichan post lagi ^^ Ja nee :)
Harap tinggalkan jejakmu. Di kolom komentar boleh, di chat box boleh. Arigatou sudah berkunjung!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...