Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Kini, Dia Telah Bermetamorfosis

krismeskeos.wordpress.com

Kini, Dia Telah Bermetamorfosis

Perlahan, semburat kemerahan muncul di ufuk timur. Lambat memang, tapi matahari naik dengan pasti. Semakin tinggi dan menampakkan seluruh wujud aslinya.

Dari balik jendela rumah, sebuah pohon dapat terlihat. Daun-daunnya yang hijau tampak segar, terhias oleh gas-gas yang mengembun. Orang-orang mulai beraktivitas seperti biasa.

"Okaasan! Ada ulat bulu di pohon halaman rumah kita!"

Namun, jeritan seorang anak perempuan memecah damainya pagi itu--hanya karena  ulat yang merayap hati-hati di batang pohon, lalu mulai mengunyah dedaunan yang didapatinya.

"Jangan dipegang, Hikari!" teriak seorang wanita berteriak dari dalam rumah, tak kalah keras dari sang anak.

"Menjijikkan!"

Tapi, si ulat bulu, tanpa peduli tetap melakukan kegiatan hariannya, meski kerap kali mendengar makian seperti itu.

Apapun yang terjadi, akulah diriku.

Hingga matahari terbenam, terbit, terbenam, terbit, dan terus berulang, akhirnya di batang pohon tersebut, aku tak melihat lagi si ulat kecil yang selalu dicaci. Si ulat yang kesehariannya hanya menghabiskan daun. Si ulang yang kesehariannya pula tak lepas dari ucapan sinis para manusia.

Dia menjadi kepompong. Menggantung di ranting pohon. Sinar matahari terkadang menyorotnya, terkadang juga tidak. Daun-daun di sekitar yang menghalanginya. Kadang pula, angin sore membuatnya berayun pelan, bahkan sampai seolah akan terlepas dari porosnya bila badai tiba.

Tapi kepompong itu.. tetap bertahan di sana.

Apapun yang terjadi, aku tetap pada pendirianku.

Malam yang gelap kembali tersinar oleh cahaya sang mentari. Samar-samar kepompong itu merekah. Merekah, merekah, dan merekah. Sampai sesuatu keluar.

Itukah si ulat?

Kalau tidak ada teori ilmiah, aku tidak akan percaya. Bahwa si ulat yang sudah kecil, jelek, dan tidak berdaya, berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah.

Sayap-sayap kaku itu mulai dikepakkannya--dilatarbelakangi pohon-pohon berhiaskan embun, disoroti cahaya raja siang.

Akan tetapi, kembali, jeritan anak perempuan bagaikan membelah langit.

"Okaasan! Lihat! Ada kupu-kupu!"

"Wah, sugoi! Dia sangat cantik!"

Cantik? Bukankah kemarin mereka menyebut kata 'menjijikkan'?

Namun, sekarang, ke mana pun kupu-kupu itu terbang mengembangkan sayapnya yang indah, mata mereka terus mengikuti, setelah hari sebelumnya mereka menghina tanpa tahu malu.

Karena hempasan angin kencang hanya menyisakan tumbuhan yang kokoh.
Karena kikisan hujan badai hanya menyisakan batu yang sangat kuat.
Karena gemuruh petir hanya menyisakan kaca yang tidak mudah retak.
Karena lampu sorot hanya menyinari mereka yang pantas.

Mungkin dia terlahir sebagai telur yang tidak berdaya, lalu berubah menjadi ulat yang dipandang sebelah mata--bahkan dipandang pun tidak. Ketika menjadi kepompong, dia tidak akan diperhatikan. Tapi begitu raganya memiliki sepasang sayap yang memukau, semua cercaan berganti dengan tepuk tangan.

Hidup bukan tentang lahir, bernapas, kemudian mati.
Hidup bukan sekadar bermain dan bergembira seperti anak kecil.
Hidup bukan  menyebutkan apa yang kita mau dan menikmati apa yang kita ingin.
Hidup bukan yang seperti ini, bukan yang seperti itu, karena hidup adalah sesuatu yang kompleks.

Hidup merupakan sebuah metamorfosis.

Dan kini, dia telah bermetamorfosis!

Komentar

  1. Miichan.. :O Keren! (b><)b Miichan pinter bikin Fanfic, ya.. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. B-Benarkah? Syukurlah Annisa menyukai fiksi yang Miichan kira gagal ini T^T)a

      Miichan belum pinter bikin fanfic, Annisa. Masih banyak kekurangannya kalau dibanding senpai dunia fanfic yang lain T^T Miichan masih belajar ^^

      Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar, ya, Annisa ^^)/

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...