Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Jadilah Blogger Sejati!

Blogger atau seseorang yang memiliki dan mengelola blog seperti Miichan, belum tentu merupakan blogger sejati. Apakah itu blogger sejati? Bagaimana cara menjadi blogger sejati? Ayo kita membaca tulisan berikut! ^^


  • Berani Menulis
Tak jarang, masih ada blogger yang takut menulis. Takut apa? Mungkin takut dikritik oleh pembaca, atau takut bacaannya kurang menarik, dan masih banyak lagi! Tapi untuk apa kita takut? Selama tulisan kita benar, ayo kita menulis! Mari kita membagikan apa yang kita tahu. Bagikan apa? Apa saja, selama itu masih dapat diambil manfaatnya. Mau tulis pengalaman kita? Bisa saja. Jangan takut dikritik pembaca, anggap itu adalah sebuah ucapan untuk membangun kita! Tulis yang kita tahu, yang pernah kita baca, yang kita alami. Mari menulis, menulis, dan menulis!
  • Takut untuk Mengcopypaste
Dan.. masih banyak juga blogger yang mengandalkan tekhnik copypaste. Mungkin Miichan juga masih sering. Tapi.. Sebenarnya pada dasarnya copypaste itu sah-sah saja. Apa salah kita menyebarkan apa yang kita tahu? Tapi, tentu saja ada aturan-aturannya. Misalnya, mencantumkan sumber, menulis ulang bacaan dengan gaya kita, dan masih banyak lagi. Dan seminimal-minimalnyalah, jika kita sudah mencopypaste tulisan tersebut, sertakanlah sumber sebagai bentuk menghargai. Akan lebih baik lagi kalau kita juga merasakan bagaimana lelahnya menulis artikel tersebut dengan menulisnya ulang dengan gaya bahasa kita :)
  • Bertekad Memberi Manfaat Pada Orang Lain
Dan.. Inilah yang terpenting dari ke tiga syarat menjadi blogger sejati! Untuk apa kita menjadi blogger kalau membuat konten yang tidak bermanfaat sama sekali atau merusak? Untuk contoh, bisa ditebak sendiri. Semua hal itu tentu berasal dari niat dan tekad. Kalau kita punya tekad, tentu saja akan ada jalan dan hasilnya. Dari artikel sederhana, misalnya artikel tentang kue-kue, sebenarnya itu sudah bisa memberi manfaat. Artikel yang bermanfaat juga tidak harus info-info baku. Menghibur orang dengan artikel lucu juga bisa bermanfaat lhoo :DD

Intinya, menjadi blogger sejati itu tidak sekedar nulis-nulis, udah jadilah blogger sejati. Nggak bisa begitu dong! Menjadi blogger sejati tentu saja butuh tekad dan usaha keras ^^

Syarat di atas masih belum lengkap, ada yang mau menambahkan? ^^ Semoga bermanfaat, terima kasih ya sudah berkunjung! Mari kita menjadi blogger yang baik dan terus menjadi lebih baik! ^^

Komentar

  1. Terima kasih kembali atas kunjungan dan komentarnya :)

    BalasHapus
  2. Artikel anda sangat membantu saya dalam memperbagus blog saya terimakasih banyak gan semoga agan diberikan kesuksesan selalu amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang sekali bisa membantu Anda :) Terima kasih kembali, aamiin (^^)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...