Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Uniknya Casing Handphone dari Negeri Sakura!

Horaaa~

Ada yang punya handphone di sini? ~celingak.celinguk~ Pastinya belum lengkap tanpa casingnya kan? Eitss, meskipun kalian sudah punya casing, coba lirik ke sini dulu ^^

130703-pet-door01



Toko online Jepang, gizmodo.jp menjual casing handphone yang moe / imut berbentuk seperti anjing / kucing yang keluar dari pintu. Jenis anjing yang tersedia adalah dalmatian dan french bulldog, sedangkan jenis kucingnya adalah russian blue dan american short hair.

Ini salah satu contohnya ^^ :
130703-pet-door02

Kalau diposisikan seperti ini, figur si kucing ataupun anjing dapat menjadi penahan handphone agar dapat berdiri..

130703-pet-door06

Meskipun unyu seperti ini, tetapi kesannya berat untuk dibawa kemana-mana ya? Tenang~ Figur anjing ataupun kucingnya dapat dilepas dan dijadikan strap.

130703-pet-door05

Casing handphone nan moe ini dijual dengan harga 2.940 yen, atau dalam rupiah sekitar seharga Rp300.000. Dengan harga segitu, kalian sudah mendapatkan casing, figur anjing / kucing, pembersih, serta pelindung layar.

Jadi, apakah kalian tertarik membelinya, sebagai aksesoris handphone kalian? ^^

Source here

Komentar

  1. Casing yg unik. Cocok nih bwt yg suka ma kucing..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, betul sekali ^^ Terima kasih sudah berkunjung ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...