Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Otaku vs Weeaboo ??

Di dalam dunia 'Jepang-Jepangan' /apa ini/, ada 2 poin penting yang sekilas mirip tapi berbeda. Yaitu otaku dan weeaboo!

Sebenarnya otaku dan weeaboo ini sama-sama penyuka Jepang dan mereka mempunyai banyak kesamaan seperti :
  1. Menggemari anime, manga, dan sejenisnya
  2. Bisa jadi seorang gamer
  3. Menyukai koleksi figuran, merchandise, art book, manga, dvd, cd, downloadan, dan semacamnya
  4. Pada dasarnya mereka sangat kreatif, menyukai hal-hal kreatif, info-info update, dan berbagai fanart, apalagi jika berhubungan dengan yang mereka suka
  5. Menggemari gadget dan internet
  6. Kadang mereka bergabung dalam komunitas dengan anggota lain yang berkesukaan sama
  7. Menyukai event yang berkaitan dengan yang disukainya, misalnya cosplay
  8. Menyukai penggunaan profil, username / nickname yang unik, bahkan terkadang menggunakan sebagian nama tokoh / karakter favoritnya serta menggunakan berbagai tema yang berhubungan dengan mereka (seperti wallpaper)
  9. Menyukai dan mengerti istilah-istilah Jepang yang sudah umum dalam dunia perotakuan
  10. Tidak semua, tapi banyak yang suka berfoto (selfie) dengan meniru gaya dari tokoh favoritnya
Lihat? Banyak banget kan? Tapi ada beberapa poin yang menunjukkan bahwa OTAKU dan WEEABOO itu berbeda dan cukup bertolak belakang! Langsung saja~ :


  1. Otaku berperilaku seperti orang biasa pada umumnya, meski sesekali memang terlihat sisi otakunya. Sementara weeaboo sangat bangga untuk menampilkan dirinya sebagai 'Jepang' atau berperilaku sebagai living anime character dalam kesehariannya
  2. Otaku paham dan maklum akan orang lain yang tidak mengerti hobi / kegemarannya, sedangkan weeaboo memandang rendah orang-orang tersebut
  3. Otaku lebih paham banyak dan sering update tentang kesukaannya, sedangkan weeaboo terkesan annoying dan sok tahu. Weeaboo juga seringkali menganggap yang 'non-Jepang' (misal Indonesia, Barat, Korea) nggak sebagus Jepang dan berapi-api untuk menunjukkan bahwa 'JAPAN IS THE BEST'
  4. Otaku senang membicarakan hobi / kegemarannya dengan temannya yang berminat sama, atau bisa juga dengan teman dekatnya. Mereka juga tahu waktu dan tempat untuk berperilaku sebagai 'penyuka Jepang'. Sedangkan weeaboo membicarakannya dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun tanpa mempedulikan apa-apa
  5. Otaku lebih merupakan 'hobby-addicted' dibanding 'Japan-addicted'. Mereka dapat menyukai hal-hal seperti musik dan game selain dari Jepang. Sementara weeaboo adalah 'Japan-addicted' yang hanya menyukai hal-hal dari Jepang dan menganggap selain itu sangat jauh di bawah Jepang (memandang remeh)
  6. Otaku dalam kesehariannya masih menggunakan bahasa normal dan akan menggunakan istilah-istilah Jepang ketika ia merasa di saat yang tepat. Sementara weeaboo menggunakannya kapanpun, dimanapun, dan siapapun, bahkan pada orang yang nggak mengerti omongannya
  7. Otaku terbuka atas candaan dan kritikan orang lain tentang kesukaanya, atau bahkan terkadang ia sendiri yang bercanda dengan membawa-bawa kesukaannya itu. Tetapi weeaboo sangat tersinggung dengan hal itu, bahkan ia bisa naik pitam hanya karena itu.
  8. Otaku berpendapat bahwa Jepang adalah 'salah satu' negara yang hebat, keren, dan sebagainya. Dibandingkan weeaboo yang menganggap Jepang adalah negara yang superultramegafantasticandawesome di planet ini. Weeaboo bahkan cenderung dianggap annoying oleh otaku, karena mereka sampai berlaku anti dengan negara lain
  9. Otaku tidak tersinggung disebut otaku, kecuali dengan nada mengejek. Sementara weeaboo sangat tersinggung disebut weeaboo, dan mereka mengaku-ngaku bahwa mereka adalah otaku. Padahal seperti nomor 8, otaku menganggap weeaboo itu menyebalkan
  10. Otaku menyukai username atau nickname bernuansa karakter yang ia sukai. Bisa saja bernuansa Jepang atau bukan. Tetapi weeaboo menyukai yang bernuansa 'Jepang'. Mereka pandai membuat diri mereka menjadi lebih 'Jepang', bahkan dalam kesehariannya lebih senang dipanggil nama panggilannya dalam Bahasa Jepang dibanding pemberian orangtuanya.
Mungkin beberapa di atas ada yang kurang tepat, tetapi dapat kita simpulkan bahwa otaku adalah penyuka Jepang yang masih tahu bagaimana batasan bersikap sebagai otaku saat bersosialisasi, sedangkan weeaboo adalah penyuka Jepang yang berlebihan dan menganggap Jepang adalah segalanya sampai menganggu orang lain.

Menurut kalian, kalian itu termasuk otaku atau weeaboo? Yang penting sih, meskipun fanatik, jangan sampai mengganggu orang lain dan meremehkan hal-hal yang lain ya! ^^

Source here

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...