Langsung ke konten utama

kok

Kunci Jawaban "Kasus Detektif : Dimanakah Letak Bom !?"

Horaaa~

Miichan teringat kalau pernah membuat case di sini dan lupa membuat kunci jawabannya. Gomennasai ne~ Sekaranglah Miichan membuat kunci jawabannya. Untuk soalnya, bisa dilihat di sini~

Oke, kita langsung ke surat dari pengancam bomnya aja..

"Malaikat pencabut nyawa menyiapkan pedangnya dan menunggu angin akan berhembus ke arah utara. 41-1-31-1-02-1-02-51-11, kau mungkin akan terpaku pada tempat berkumpulnya barang-barang yang kau anggap tak penting, di mana di situlah pusat permasalahannya."

Pertama-tama, kita fokus ke 'pedang sang malaikat' dan 'arah angin ke utara'. 'Pedang' yang dimaksud adalah jarum jam, sedangkan 'utara' pada peta mengarah ke atas. Berarti maksud dari 'pedang ke arah utara' adalah 'jarum jam yang menunjuk ke atas'. Pertanyaannya, jam berapa saat jarum jam mengarah ke atas?

Bingo!




Jam 12.

Lalu kita lanjut ke kode yang berupa angkanya : '41-1-31-1-02-1-02-51-11'
Biasanya kalau kode seperti ini adalah angka dari 26 huruf alfabet. Karena angka huruf alfabet tidak mungkin sampai 51, maka bacalah dari kanan sehingga berarti : '11-15-20-1-20-1-13-1-14'
Maka jika kita artikan >> Kota Taman

Lalu 'barang yang kau anggap tak penting', itu adalah sampah. Berarti 'tempat berkumpulnya barang-barang yang kau anggap tak penting' adalah tempat sampah.


Berarti jika kita gabung "Kota Taman" dan "Tempat Sampah", menjadi "Tempat sampah yang ada di taman kota"

Setelah kita pecahkan, ayo jawab pertanyaannya!
1. Di manakah letak bom tersebut?
>>> Di tempat sampah yang ada di taman kota
2. Kapan bom tersebut akan meledak?
>>> Jam 12

Cukup mudah kan? ^^

Terima kasih sudah berkunjung! :D

Komentar

  1. Bikin lagi dongg cerita yg kayak gini... seru lho! Oiya, salken... panggilanku Ica. ^^a

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...