Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Kunci Jawaban "Kasus Detektif : Dimanakah Letak Bom !?"

Horaaa~

Miichan teringat kalau pernah membuat case di sini dan lupa membuat kunci jawabannya. Gomennasai ne~ Sekaranglah Miichan membuat kunci jawabannya. Untuk soalnya, bisa dilihat di sini~

Oke, kita langsung ke surat dari pengancam bomnya aja..

"Malaikat pencabut nyawa menyiapkan pedangnya dan menunggu angin akan berhembus ke arah utara. 41-1-31-1-02-1-02-51-11, kau mungkin akan terpaku pada tempat berkumpulnya barang-barang yang kau anggap tak penting, di mana di situlah pusat permasalahannya."

Pertama-tama, kita fokus ke 'pedang sang malaikat' dan 'arah angin ke utara'. 'Pedang' yang dimaksud adalah jarum jam, sedangkan 'utara' pada peta mengarah ke atas. Berarti maksud dari 'pedang ke arah utara' adalah 'jarum jam yang menunjuk ke atas'. Pertanyaannya, jam berapa saat jarum jam mengarah ke atas?

Bingo!




Jam 12.

Lalu kita lanjut ke kode yang berupa angkanya : '41-1-31-1-02-1-02-51-11'
Biasanya kalau kode seperti ini adalah angka dari 26 huruf alfabet. Karena angka huruf alfabet tidak mungkin sampai 51, maka bacalah dari kanan sehingga berarti : '11-15-20-1-20-1-13-1-14'
Maka jika kita artikan >> Kota Taman

Lalu 'barang yang kau anggap tak penting', itu adalah sampah. Berarti 'tempat berkumpulnya barang-barang yang kau anggap tak penting' adalah tempat sampah.


Berarti jika kita gabung "Kota Taman" dan "Tempat Sampah", menjadi "Tempat sampah yang ada di taman kota"

Setelah kita pecahkan, ayo jawab pertanyaannya!
1. Di manakah letak bom tersebut?
>>> Di tempat sampah yang ada di taman kota
2. Kapan bom tersebut akan meledak?
>>> Jam 12

Cukup mudah kan? ^^

Terima kasih sudah berkunjung! :D

Komentar

  1. Bikin lagi dongg cerita yg kayak gini... seru lho! Oiya, salken... panggilanku Ica. ^^a

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...