Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

11 Fakta dari Pahlawan Wanita Nasional Kita, Ibu R. A. Kartini

Hari ini tanggal 21 April. Ada yang ingatkah sekarang hari apa?

Bukan, bukan, ini bukan hari Senin biasa. Keterlaluan kalau lupa, mah ><

Ini adalah Hari Kartini! Hari Kartini adalah salah satu hari yang penting bagi wanita dan perempuan (sebenarnya sama aja, ya? '-')  di Indonesia. Hari Kartini ini dianggap sebagai simbol perjuangan kaum wanita atas hak-haknya di bumi Indonesia. Perjuangan hak-hak wanita ini kemudian kita kenal sebagai emansipasi wanita.

Hari Kartini ini ditetapkan langsung oleh presiden pertama kita, Ir. Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964 melalui Keputusan Presiden No. 108. Tanggal 21 April dipilih karena pada tanggal inilah sang pahlawan wanita nasional kita dilahirkan.

Berikut adalah beberapa fakta unik dari Ibu R. A. Kartini :



  1. Ibu R. A. Kartini lebih suka dipanggil "Kartini" saja dibanding ditambahkan nama "Raden Ayu" di depan namanya. Hal ini bermula ketika saat Ibu R. A. Kartini pulang sekolah bertanya pada ayahnya tentang jadi apakah dia di masa depan. Sang Ayah pun menjawab, "Tentu saja menjadi Raden Ayu," Maka ia pun bersorak dan kata "menjadi Raden Ayu" terus terpatri di benaknya. Tapi kemudian ia mencari tahu apa makna dari Raden Ayu sesungguhnya. Kemudian ia tahu, bahwa Raden Ayu adalah status yang tak layak dibanggakan, sehingga ia tidak mau mengenakan gelar itu.
  2. Ia tidak diizinkan bersekolah setelah sekolah dasar. Ia dipingit sampai menunggu waktu untuk dinikahkan. Ia ingin menentang tetapi takut dikira durhaka. Ia pun menghilangkan kesedihannya dengan membaca buku-buku di taman rumahnya bersama si Mbok. 
  3. Membaca adalah kegemaran Ibu R. A. Kartini. Tiada hari yang dilalui beliau tanpa membaca, buku apapun itu.
  4. Nama R. A. Kartini digunakan sebagai nama jalan di Belanda, seperti di kota Amsterdam, Utrecth, Verloo, dan Harleem. Tampaknya Ibu R. A. Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.
  5. Buku "Habislah Gelap Terbitlah Terang" yang dianggap sebagai karya fenomenal Ibu R. A. Kartini, sebenarnya bukanlah buku yang ditulis Ibu R. A. Kartini. Buku itu disusun oleh J. H. Abendanon berdasarkan surat-surat R. A. Kartini kepada temannya (kalau tidak salah, temannya berasal dari Belanda)
  6. Sebelum berjudul "Habislah Gelap Terbitlah Terang", buku itu berjudul "Dari Gelap Menuju Terang"
  7. Di Belanda, buku ini diberi judul "Door Duisternis tot Litch" yang secara harfiah berarti sama dengan "Habislah Gelap Terbitlah Terang"
  8. Buku edisi Indonesianya sebenarnya terbit beberapa tahun setelah terbitnya edisi Inggris dan Belanda
  9. Ibu R. A. Kartini adalah anak dari seorang selir raja. Sejarah memang tidak mencatat masa kecil Ibu R. A. Kartini, tetapi yang agak bisa dipastikan, dia besar di bawah pengasuhan Ibunya di rumah kecilnya. Sejak bayi ia sudah merasakan kehidupan yang berbeda antara gedung utama dan rumahnya.
  10. Di Jepara, terdapat Museum R. A. Kartini, tepatnya di Desa Panggang, Kecamatan Jepara. Museum ini berdiri pada 30 Maret 1975 pada masa pemerintahan Bupati Soewarno Djojomardowo. Museum ini selain menyajikan benda-benda peninggalan Ibu R. A. Kartini, juga menyajikan benda-benda warisan budaya yang terdapat di daerah Jepara.
  11. Ibu R. A. Kartini sekalipun adalah pahlawan nasional, ia tidak lepas dari kontroversi. Banyak kalangan sejarawan yang meragukan keabsahan buku "Habislah Gelap Terbitlah Terang", dan ada pula masyarakat yang meragukan originalitas buku tersebut karena tidak ada yang pernah melihat surat-surat itu selain J. H. Abendanon. Banyak pula masyarakat yang meragukan jasa Kartini sehingga layak disebut pahlawan nasional.

Begitulah kira-kira fakta tentang Ibu R. A. Kartini yang dapat Miichan sampaikan!
Semoga perjuangan Ibu R. A. Kartini terhadap kaum wanita tidak sia-sia, ya. Dengan kata lain, kita harus melanjutkan perjuangan Ibu R. A. Kartini.

Sekali lagi, selamat Hari Kartini!

Komentar

  1. Baru tahu kalau buku 'Habislah Gelap Terbitlah Terang' itu diterbitkan pertama kali bukan di Indonesia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ^^ Terima kasih sudah berkunjung! Datang lagi ya! ^^

      Hapus
  2. makasih info fakta tentang R.A. Kartini nya kak :)

    sangat bermanfaat. soalnya saya lagi ada tugas sekolah untuk buat artikel ttg R.A. Kartini hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali sudah berkunjung dan berkomentar, ya ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...