Langsung ke konten utama

kok

Case 001 - Event ADC

1. CASE 01
Sabtu, 5 Juni 2010
Namaku Sora. Aku adalah detektif yang berasal dari Hokkaido. Aku berencana pergi ke pesisir pantai melewati laut besok, untuk melepas penatku dari kasus-kasus.

Sabtu, 6 Juni 2010
Uh, oh! Ada badai, sehingga kapal tidak dijalankan. Aku terpaksa menunggu esok hari!

Minggu, 7 Juni 2010
Lagi-lagi badai! Aku pun mengundur acara liburanku sampai besok.

Senin, 8 Juni 2010
Akhirnya badai dinyatakan berhenti dan aku pun pergi berlibur. Aku sampai di sana sekitar pukul 16.00. Aku melihat beberapa pohon kelapa yang berjarak kurang lebih 100 meter dari pantai tumbang karena badai yang dahsyat. Aku pun menginap di sebuah hotel.

Namun, aku rasa tidak ada hari libur untukku. Ada kasus yang terjadi hotel tersebut. Karena aku tidak kuat mendengar kasus, aku pun ikut campur tangan untuk membantu memecahkan kasus tersebut. Maka, aku berbicara dengan Izawa (45), pemilik hotel tersebut.

****
S : Maaf, ada kasus apa ini?
I : Oh, ada kasus pembunuhan seorang wanita di sini, penghuni kamar 20! Ngomong-ngomong, Anda siapa ya?
S : Aku penghuni kamar 25 yang baru datang, aku juga seorang detektif
I : Oh ya? Tapi tenang, sudah ada polisi di sini. Kau tidak perlu repot-repot membantu.

Aku sedikit kesal mendengarnya, tetapi di situ ada polisi kenalanku. Namanya Taichi.

S : Hee, Taichi! Kita ketemu!
T : Sora! Aku rasa pihak kepolisian membutuhkan bantuan detektif sepertimu.
S : Jadi, bagaimana kasusnya?
T : Jadi...

Korban bernama Len (19), dia sudah menginap sejak tiga hari yang lalu. Yang menemukan pertama kali adalah Izawa. Ia masuk ke kamar ini dengan menggunakan kunci cadangan karena curiga kenapa Len tidak keluar-keluar kamar seharian. Menurut hasil autopsi, ia meninggal dua hari yang lalu.

S : Lalu, apa ada pesan kematian dari korban?
T : Tidak ada. Aku rasa, dia mati di tempat setelah dibunuh.
S : Apa ada DM dari korban sebelum mati?
T : Ya, ada. Yaitu おらを / Orawo
S : Apa tersangka sudah ditetapkan?
T : Tersangka sebagai berikut =

1. Izawa (45) Pemilik penginapan. Ia mengaku kesal dengan sikap Len karena bersikap kurang sopan. Ia sering mengenakan pakaian sangat pendek di penginapannya. Ia juga sering berlaku kasar saat masih hidup dan menginap di sini. Ia pernah memecahkan peralatan sarapan yang dipinjamkan penginapan padanya dengan sengaja.

2. Hitoshi (20) Pacar korban. Ia mengaku, ia menginap bersama Len. Tapi pada hari ke dua (hari pembunuhan) dan hari ke tiga (hari ini), dia tidak bersama Hitoshi. Akhirnya ia mengakui bahwa ia tengah selingkuh bersama pacar gelapnya di hotel dekat situ.

3. Karin (19) Sahabat korban. Menurut kesaksiannya, dua hari yang lalu dia tengah berkemah di tepi pantai. Ia bilang, ia tidak pergi ke hotel itu sama sekali. Ia mengaku hubungannya dengan Len baik-baik saja. Hanya saja, ia sedikit kesal karena Karin menyukai Hitoshi, tetapi Len malah merebut Hitoshi. Padahal, Len tahu bahwa Karin sangat menyukai Hitoshi.

4. Sakura (18) Ia adalah penghuni kamar 21. Ia mengaku sangat kesal dengan Len karena ia menginap di hotel itu untuk menyelesaikan novelnya, tetapi Len malah memutar musik keras-keras sampai terdengar ke kamarnya. Akibatnya, dia tidak bisa menyelesaikan novel itu tepat waktu.

Aku pun terdiam. Aku pun menulis dalam buku catatanku, dan mataku membelalak melihatnya. Aku tau pelakunya, tapi aku masih belum memiliki bukti. Aku pun mengaitkan 'nama pelaku' dengan DM korban. Ya, hanya bergeser sedikit saja!

Pelakunya pun aku sebutkan dan dia pun tertangkap setelah mengaku! Liburanku pun kembali cerah!

Pertanyaannya :
1. Siapakah pelakunya?
2. Apakah kesalahan dari pengakuannya?
3. Apa arti dan maksud dari DM tersebut?
4. Apa motif si pelaku?

*****************************************************************************
Solve the case minna-san ><

Komentar

  1. 1. Han'nin wa/ pelakunya adalah karin
    2. Dia bilang kalau dua hari lalu dia camping di deket pantai padahal saat itu hujan badai, itu tidak mungkin terjadi
    3. Maksud DM itu adalah orewa atau dia adalah atau pelakunya adalah Karin
    4. Motifnya adalah karena korban merebut hitoshi yang disukai pelaku, padahal korban tahu bahwa pelaku menyukai hitoshi.
    Mii-san, kono kesu wa kantandesu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawabannya benar semua :) Tapi mungkin nomor 3 masih kurang tepat ya ^^
      Hahaha, iya, ini kasusnya memang mudah ^^

      Arigatou sudah berkunjung!

      Hapus
  2. Kunci jawabannya secara lengkap ^^

    1. Pelakunya adalah Karin, hal ini dapat dilihat dari alibinya yang tidak masuk akal serta DM dari sang korban

    2. Kesalahan alibinya terletak pada "berkemah di tepi pantai dua hari yang lalu". Padahal dari dua hari yang lalu atau hari Sabtu, di tepi pantai itu terjadi badai berkekuatan dahsyat yang menumbangkan pohon-pohon di tepi pantai.

    3. DMnya adalah "Orawo" atau dieja "O-Ra-Wo". Kemudian ungkapan Detektif Sora, "Ya, hanya bergeser sedikit saja!" Ini berarti huruf-huruf dalam DM tersebut harus digeser. Maka kita geser satu huruf ke depan menjadi :
    O >> Ka
    Ra >> Ri
    Wo >> N
    "Karin"

    4. Motifnya sudah jelas, yaitu Karin menyukai Hitoshi dan Len mengetahuinya, tetapi Len malah merebut Hitoshi dari Karin..

    BalasHapus
  3. DM, itu maksudnya apa? haihh aku emang kepo, atw kudet?

    BalasHapus
    Balasan
    1. DM itu artinya Dying Message atau Pesan Kematian :)

      Hapus
    2. 1. Karin
      2. Mengatakan 2 hari yg lalu berkemah di dekat pantai padahalsaat itu sedang ada badai
      3. おらを/orawo bila di geser 1 kotak menjadi かりん/karin
      4.kesal karna korban merebut hitoshi

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

soal menerima

Sepertinya tidak ada satu jua ketakutan saat pertama aku bertandang ke sana. Tidak di kali kedua, pun kali ketiga. Namun, di kali keempat, entah mengapa aku merasa sangat khawatir, sangat berbeda, sangat tidak pada tempatnya; merenungkan kembali rencana jangka panjang untuk menetap di sini--yang sebenarnya sangat sulit untuk dibatalkan. Kunjungan keempat itu sederhana. Aku hanya mengitari Tokyo--tidak; di samping keharusanku bergerak ke luar menemui satu dua orang, akhirnya aku lebih banyak berdiam di apartemen yang kusewa; mencoba resep makanan ini itu di dapur yang dari kulkas hingga kompor, pemanggang, dan sederet mesin lainnya kukuasai seorang diri selama dua minggu itu. Di hari ke-sekian ( aku lupa ), kebetulan tidak ada pekerjaan khusus yang perlu kulakukan, dan tubuhku yang terlalu lama mendekam dalam ruangan itu merasa gerah ( padahal saat itu musim dingin ). Kakiku lantas bergerak tidak tentu arah, pokoknya ke perpustakaan yang sepertinya bagus. Oh, betapa aku su...

before i knew it, my hair had gotten long

Tokyo, November 21, 2025. --- いつのまにか髪が長くなった いつのまにか、涙がこぼれた It’s seven degrees Celsius at 1 AM. I was looking at myself in the mirror an hour ago, finally realizing my hair had gotten long. The hair that usually stays hidden behind my hijab. The hair that is usually held up by claw clips all day. So when I finally let it down, washed it, and let it hang straight, it looked so long—the longest it has been in the last six years. But oh, how fast the night changes. I, who was so happy to see my long hair return, was weeping while listening to a song I discovered at the office yesterday. I couldn't shed a tear back then; how could I explain my sudden breakdown to four colleagues I only met two weeks ago? Ha, recently, I haven't even been able to cry in front of my significant other of six years. It is what it is. When I finally found myself alone—a space to breathe and a time to pause—I felt my past self crawling out from deep within, complete with her dissatisfaction, insecurity, an...