Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Pembukaan Asrama Salman ITB

Awalnya saya kira pembukaan asrama hanya untuk Asrama Pemberdayaan Rumah Sahabat (APRS) saja; ternyata ruangan itu ramai dengan teman-teman dari asrama lain: Asrama Rusa Muda (Rusmud) dan Asrama Salman. Saya tiba pukul 08.07 dan tidak memperhatikan berapa lama hingga acara dimulai. Yang jelas, hari itu diisi dengan sesi perkenalan keasramaan Masjid Salman ITB dan sesi wejangan yang dipisah masing-masing asrama.

Tidak terlalu banyak yang saya catat di sesi pertama. Pastinya kata sambutan dari dua pembina keasramaan mewakili jajaran pembina Masjid Salman ITBー yang tidak hanya berkecimpung di bidang keagamaan atau bertenggang di masjid, tetapi juga pakar di bidangnya masing-masing. Banyak di antara beliau beralmamater perguruan tinggi top dunia, memacu saya untuk belajar lebih tekun di bidang keilmuan saya. Yang pasti, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat dipelajari, dan keduanya untuk manfaat yang lebih besar bagi umat.

Dalam sesi pertama, seluruh penghuni asrama juga saling berkenalan. Dari Rusmud sampai APRS, dari fasilitator sampai anggota. Sudah tidak ada yang saya kenal dari Rusmud (dasar memang saya sudah swasta alias mahasiswa tingkat akhir), tapi banyak yang saya sapa kembali di Asrama Salman: adik-adik tingkat saya yang kini menjadi anggota, sampai teman-teman seangkatan yang sudah menjadi fasilitator.

Setelah foto bersama, sesi berganti dengan lokasi juga berubah. Untuk kali pertama, saya menandangi Taman Ganesha; dan kali pertama juga bertemu dengan Kang Yudia "Khamverad". Beberapa poin yang membekas di benak saya adalah, pertama, gas saja jika ada sesuatu yang ingin dilakukan sepanjang memiliki faedah dan tidak menzalimi orang lain. Kedua, jika ada sesuatu yang terasa malas dilakukan, lebih baik dilakukan dengan segera dan cepat daripada tidak sama sekaliーtapi tetap lebih baik dan benar jika dilakukan dengan khusyuk. Ketiga, berlelah-lelahlah karena lillah karena memang seyogianya muslim beristirahat di akhirat.

Keempat, ikhtiar! Tidak bisa menyelesaikan banjir hanya dengan berdoa. Namun, berkaitan dengan yang kelima, setiap amal harus dilakukan dengan ilmu. Keenam, perlu dipatri dalam hati bahwa "amal" yang dilakukan di masyarakat bukan untuk membantu mereka. Siapa kita yang bisa membantu? Justru kitalah yang butuh dibantu. Oleh karena itu, peran yang benar adalah "membangunkan" potensi mereka agar mereka dapat "membantu" diri mereka sendiri. Dalam proses tersebut, masyarakat membantu kita karena menjadikan waktu kita habis dalam kebaikan, bukan kemaksiatan. Di APRS, kita semua tolong-menolong, bantu-membantu, dan ingat-mengingatkan satu sama lain.

Akhir kata, Kang Yudia menyampaikan untuk mengamalkan yang baik dan melupakan hal yang buruk. Saya sepakat bahwa hal yang baik tidak boleh berhenti di pikiran atau catatan, tapi hal yang buruk juga tidak ditinggal begitu saja. Justru keburukan yang ada perlu diperbaiki; dan dari sana, bisa diambil pelajaran yang berarti.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...