Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Aratemeru VS Naosu VS Tadasu

Sedang belajar bahasa Jepang dan menemukan contoh kalimat dari JLPT Sensei
• 悪い生活習慣を改めない限り、健康にはなれない」
• Warui seikatsu shuukan o aratamenai kagiri, kenkou niwa narenai
• As long as you don't fix your bad lifestyle habits you will not be able to get healthy.

Jadi kepikiran, apakah 改める/aratameru adalah satu-satunya bahasa Jepang untuk kata "fix"?

Ternyata, ada 直す/naosu dan 正す/tadasu juga! Tapi, apa bedanya, ya?

Akhirnya ketemu jawabannya di HiNative! Tapi karena jawabannya pakai bahasa Jepang, aku terjemahkan dan taruh di sini supaya tidak lupa!

「改める」は、「規則を改める」「態度を改める」のように、今までとは違う新しい状態に変えることです。古いものを新しくしたり、悪い点を良い方に変えたりします。
'Aratameru' berarti mengubah sesuatu menjadi keadaan baru yang berbeda dari sebelumnya, seperti "mengubah aturan" (kisoku o aratameru) atau "mengubah sikap seseorang" (taido o aratameru). 'Aratameru' digunakan saat sesuatu yang lama berubah menjadi baru, atau saat sesuatu yang buruk berubah menjadi lebih baik.

「直す」は異常な状態にあるものを正常な状態に戻すことです。「故障を直す」などに使います。
'Naosu' berarti mengembalikan atau memperbaiki sesuatu yang kondisinya tidak normal menjadi normal. Contohnya "memperbaiki malfungsi" (koshou o naosu). Contoh malfungsi (koshou) adalah mobil rusak (koshousha) dan produk rusak/gagal (koshouhin).

「正す」は、誤りを正しくするという意味では「直す」と、きちんとするという意味では「改める」と同じです。「誤字を直す(正す)」「姿勢を改める(正す)」。

'Tadasu' sama dengan 'naosu' dalam arti mengoreksi kesalahan, dan 'aratameru' dalam arti mengubah sesuatu menjadi benar. Contohnya adalah "mengoreksi typo" (goji o tadasu/naosu) dan "membenarkan postur tubuh" (shisei o tadasu/aratameru).

Semoga bermanfaat!
ザーラと一緒に勉強しましょう!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...