Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Bathing Habit: Japan and Indonesia Comparison

Written by Zahra Annisa Fitri (81822200028)
for Ritsumeikan University PBL Program's Cross Cultural Encounters course 

 Introduction

Bathing or showering is part of a human's daily routine to keep the body clean, with every country having its way of doing so. In my country, Indonesia, the traditional way, which is still common, is to scoop up the water in a plastic dipper named gayung and pour it over the body while standing on the bathroom floor. A bathtub is not as common as gayung, but Indonesian people are still familiar with it, though not every household has it. Thus, I am delighted to have a bathtub in my shared house and easily find bathtubs in Japan's hotels. But, the Japanese are also familiar with bathing together, and completely naked. I have known this culture, so I am not shocked. Still, no matter how much I love bathing (and trying something new), I can not try bathing together because it is considered embarrassing, especially in Indonesia.

(148 words)

Main Body

All the group members are Japanese, except me and the other one who is Indian but was born in Japan. Most of us usually use a shower for bathing, but using a bathtub is common too, mainly because hot water is effective in helping relax and soothe tense muscles. A hot tub is also the perfect winter treat. However, my Indian friend and I more rarely use a bathtub because our houses do not have a bathtub, as there is no bathing culture in India and Indonesia.

Not being Japanese also makes us not used to sharing bath water and taking baths together. We are too embarrassed to do it by ourselves. Nevertheless, Japanese members said that taking a bath together naked is good because we can talk and deepen the relationship, although a small number of the Japanese members also do not do it and prefer a bath alone.

(150 words)


Conclusion

Bathing together is still very much part of Japanese culture. It reflects an essential aspect of Japanese culture: the Japanese emphasize the group more than the individual (Clark, 1994). Meanwhile, having the largest Muslim population in the world shaped Indonesia's society tightly with Islamic values (Meyer, 2019). In Islam, men and women have awrah (must-cover body parts), and anyone must not look at another's awrah regardless of gender.

Culture greatly influences someone's behavior. Meanwhile, behavior change is complicated and complex (Call, 2022). An Indonesian student living in Japan stated that it took weeks for him to try onsen (Irwantoro, n.d.). Another example is when an American first used gayung and bucket for bathing in Indonesia; he was a bit concerned but got used after a few uses (Wicked Adventure, 2015).

The lesson learned is to do things at your own pace while respecting each other's culture. Also, we can adapt and be able to do anything as long as we try.

(150 words)

References

Call, M. (2022). Why is Behavior Change So Hard?. Retrieved from https://accelerate.uofuhealth.utah.edu/resilience/why-is-behavior-change-so-hard

Clark, S. (1994). Japan, A View from the Bath: A View from the Bath. University of Hawaii Press.

Irwantoro, K. (n.d.). Culture Shock - The Bathtub Edition. Retrieved from https://admissions.apu.ac.jp/blog/news/?page=94

Meyer, P. K. (2019). Indonesian Muslims: Believers in Islam or cultural Muslims?. Retrieved from https://www.thejakartapost.com/academia/2019/12/13/indonesian-muslims-believers-in-islam-or-cultural-muslims.html

Wicked Adventures. (2015). How to use A Mandi – an Indonesian Shower. Retrieved from http://www.wickedadventures.com/research/how-to-use-a-mandi-an-indonesian-shower

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...