Langsung ke konten utama

October, Right Here, Daylight

Lika Liku Dunia


Adakalanya hidup ini tak berarti; darah mengalir begitu saja; nyawa terbuang sia-sia. Manusia dianugerahi Tuhan sesuatu yang dinamai "akal", tapi terus merugi dengan berpegang teguh pada kebodohan. Di dunia yang fana ini, apa ada manusia yang menggerakkan akalnya untuk mencari tujuan hidup? Adakah yang beranjak dari tidurnya, berusaha menemukan alasan mengapa kita dilahirkan?

Adakalanya kita tertawa, padahal jauh di sana, kepingan hati rasanya sulit sekali kembali direkatkan. Kadang kita menangis, meski tahu masih ada secercah asa dan cahaya. Manusia sang penipu ulung, bukan hanya penipu sesama, tetapi membohongi hati kecilnya sendiri, lalu tertawa--lagi.

Adakalanya aku merasa akan hidup satu milenium lamanya, menyaksikan era berganti satu demi satu. Namun, sekali saja aku tersandung kerikil, kupikir lebih baik menyudahi hidup. Kehidupan adalah panggung sandiwara, dengan aku sebagai tokoh utamanya. Aku sosok yang paling sengsara, menutup mata dari orang-orang di bawahku yang mengiba, meminta secuil belas kasih.

Adakalanya orang bilang aku sesuci malaikat, sejernih telaga di awang-awang, seputih kertas yang baru selesai dicetak. Hahaha. Sanjungan belaka. Aku muak, tapi suka diayun-ayun begitu. Manusia itu sudah egois, munafik pula. Hahaha. Itu aku.

.

.

.

Itu aku--diriku yang mengaku-aku rapuh.

Kalau kukatakan seperti itu, kamu percaya?

.

.

.

Mungkin aku malaikat yang terkurung dalam neraka, mungkin juga setan yang tersesat di surga. Sebenarnya aku acuh tidak acuh, jadi jangan khawatir. Lika-liku dunia menjadikan struktur pikiranku tak lagi beraturan; membuatku terombang-ambing.

Kalau sudah seperti ini, bagaimana?

TAMAT

ditulis oleh Zahra Annisa Fitri
foto dari Favim, diedit melalui Canva

Komentar

Postingan populer dari blog ini

surat

Entah sejak kapan saya senang menulis surat, tetapi baru saja kemarin --selepas tiga hari Summer Camp mendampingi anak-anak SMP dan saya menulis surat untuk keempatnya-- saya dikomentari oleh teman sekamar saya bahwa tulisan saya panjang sekali. Kesenangan saya menulis surat ini setidaknya sudah ada sejak SMA (mungkin SMP, tapi saya tidak punya pertinggal konkretnya) . Di tahun 2018, saya menulis enam halaman dengan di antaranya sebagai berikut: Biasanya saya menulis tanpa mengharap kembali, sebab kala saya baca-baca lagi, jelas sekali versi utuh dari surat di atas merupakan bentuk pernyataan perasaan yang saat itu hanya memperoleh jawab "terima kasih"--tapi begitu pun saya sudah senang. Namun, kisah tulis-menulis surat yang sepele ini pada akhirnya mengubah hidup saya karena lewat cara inilah kisah kasih saya --yang berakhir di pelaminan-- dimulai. Sayangnya saya tidak punya arsip guratan diksi saya kala itu untuk (yang kini) suami saya. Akan tetapi, saya ingat b...

tidak mau menjadi kuat

Aku tidak pernah minta pada-Nya untuk dikuatkan. Aku tidak mau. Aku takut. Hal sebesar, sesulit apa yang akan Dia beri sampai-sampai aku harus "kuat"? Membayangkannya membuatku merinding, jadi doa seperti itu tidak pernah kupanjatkan.  Aku tidak mau dikuatkan; aku maunya dimudahkan, digampangkan, diringankan. Setidaknya begitulah sepanjang 2025, lantas begitu pulalah 2025 rasanya berlalu. Seolah lancar sekali ( alhamdulillah ), jadi kukira tahun ini pun tanganku akan menengadah untuk permintaan serupa. Sebenarnya hingga awal bulan ketiga ini, masih begitu adanya. Apalagi dengan merebaknya berita kemenangan Alysa Liu dalam nomor tunggal putri figure skating , kisahnya dibingkai media menjadi " she released the pressure, reclaimed her joy and turned it into Olympic gold ".  Tuh kan? batinku seolah bersorak, berbisik demikian. Aku juga ingin berhasil tanpa perlu menjadi kuat karena menahan beban berat. Tidak mau menjadi kuat dengan meromantisasi tangis dan ker...

kenapa "mengutarakan" dan bukan "menyelatankan"/"membaratkan"/"menimurkan"

Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini sejak nangkring di Tomoro sore tadi. Saya tengah menyusun sebuah terms of reference dan menggunakan istilah "mengutarakan", lalu otak yang gampang terdistraksi ini jadi bertanya-tanya, "Kenapa 'mengutarakan', ya? Ada apa dengan utara ? Kenapa bukan selatan, barat, atau timur? Apakah ini bentuk pilih kasih pada arah mata angin? " Saya jadi browsing sana-sini dan berbincang ini-itu dengan Gemini. Kalau sudah kepo memang gemas sekali rasanya. Lantas, mengutip jawaban AI (jika dan hanya jika Saudara percaya pada AI), "utara" dalam bahasa Indonesia diserap dari "uttara" bahasa Sansekerta. "Uttara" sendiri dimaknai macam-macam: "permukaan", "jawaban", bahkan "lebih tinggi". Makanya, saat mengutarakan sesuatu, artinya kita sedang "membawa sesuatu ke permukaan " atau "menyampaikan sebuah jawaban " atau "membawa pernyataan ke tempat lebih t...